Beranda Kolom Kopi Pagi Sekolah di Mana?

Sekolah di Mana?

86
BERBAGI

Oleh Rois Said

Sodik telentang memandang langit-langit kosnya. Wajahnya sangat lelah, sampai-sampai semriwing wangi kopi tidak cukup mengganggu dia. Makmun rupanya sudah ada di depannya dengan segelas kopi yang khusus ia seduhkan kopi buat sahabatnya yang baru pulang mudik ini.

“Kenapa sih lu? Baru pulang kampung bukannya seger malah kusam gitu tampang lu. Bete? Suntuk gara-gara kena macet berjam-jam? Itu kan biasa. Udah, mending ngopi aja tuh udah gue bikini,” Makmun nyerocos dengan wajah keheranan.

Sodik bangkit, pegang gelas. Ternyata masih panas banget. Sodik urung minum dan membiarkan isi gelas tetap utuh. Sodik yang tanggung sudah duduk lantas meneruskan bicara.

“Iya. Di kita sih emang yang namanya macet udah dianggap biasa. Seolah-olah semua udah merasa, sejak mengenal benda yang namanya mobil, bangsa ini udah ditakdirkan macet. Apalagi pas musim hujan, aspal tergerus air, beton juga nyaris jadi bubur lagi, bikin jalanan kayak muka lu tuh, banyak lobangnya..”

“Sialan lu nyamain muka gue kayak jalan…”

“Lha, gue bukan nyamain muka lu sama jalan, tapi nyamain jalan kayak muka lu. Beda dong…”

“Lu kalo kesel sama jalan, kesel sama kemacetan, jangan terus menghina gue dong.”

“Sabar, Mun. Gue nggak menghina, cuma lagi nyari padanan yang enak, yang bikin lu ngerti. Gue juga nggak ganteng, jadi ngapain menghina elu. Lagian, gue menikmati kok perjalanan gue. Gue udah lupa tuh keselnya hati pas macet. Yang gue ingat, kejadian-kejadian selama perjalanan tadi yang menggelitik pikiran.”

“Otak lu geli gitu?”

“Bisa jadi. Lu tau nggak, waktu gue nunggu bus, seorang pedagang asongan yang lagi istirahat persis di samping gue tiba-tiba ngaji. Bacaannya fasih dan suaranya merdu. Abis itu dia doa, layaknya ustaz. Sepenggal peringatan dia omongin, bahwa hidup itu cuma menjalankan skenario Tuhan. Kata dia, kita bahkan nggak tau apa yang akan terjadi semenit di depan.”

“Ah, ustaz kali tuh yang lagi nyamar jadi tukang asongan.”

“Gue nggak tau, dan gak perlu tau itu ustaz atau bukan. Toh nilai-nilai kebaikan nggak harus keluar dari mulut ustaz, kan?”

“Iya sih…”

Makmun menyeruput kopi beberapa kali.

“Bukan cuma itu, Mun. Di perjalanan sewaktu nunggu macet, seorang pengamen naik, lalu nyanyi lagu dangdut…”

“Wah joget dong lu? Elu kan maniak dangdut.”

“Boro-boro. Itu lagu justru bikin gue mikir. Lagunya bercerita soal keagungan seorang ibu. Gue nggak tahu judulnya. Nah, di sela-sela interlude lagu, dia seperti ‘berdakwah’. Kata itu pengamen, kalau mau sukses dalam hidup, nggak usah minta doa ke ustaz, kiai, apalagi dukun.”

Makmun lagi-lagi nyeruput kopi.

“Yang mengagumkan, Mun, itu pengamen mohon dengan sangat supaya orang yang mau ngasih duit, harus benar-benar ikhlas, rida, dan nggak boleh merasa terpaksa. Dia ingin apa yang dia makan itu benar-benar didapat bukan dengan jalan menyusahkan orang lain.”

“Luar biasa… Pada sekolah di mana tuh pengamen sama tukang asongan? Kok ngomongnya bisa pada lempeng kayak gitu?”

 

***

Ilustrasi

Sekolah di mana? Ah, ya… Pertanyaan seperti itu biasanya langsung melejit dari otak manakala kita melihat atau dengar ucapan seseorang yang ngeresep di batin dan pikiran. Seolah-olah kita pengin menyekolahkan anak kita supaya bisa bersikap seperti itu. Kalau begitu keadaannya, gejala seperti yang dipertanyakan si Makmun menunjukkan betapa sekolah masih menjadi sebuah institusi tempat harapan manusia dicantolkan. Kalau mau jadi orang sukses secara ekonomi, ya bersekolahlah. Kalau mau jadi orang baik, sekolah tempat menggodoknya.

Oh iya, tapi kan ada juga antagonis-antagonis dengan titel berderet di depan dan belakang namanya. Pangkat mentereng dan posisi ngejreng, tetapi perilakunya korup dengan pemikiran-pemikiran “aneh bin ajaib”. Seperti Fadli Zon, misalnya, yang bilang kalau korupsi ibarat oli pembangunan. Seolah-olah kalau nggak ada korupsi sebagai oli maka mesin pembangunan akan macet berkarat. Kepada orang-orang seperti ini, pertanyaan “sekolah di mana” juga pasti menodong kepala kita. Kenapa? Ya karena mereka itu pasti sekolah juga dong.

Terus kalau udah begitu, kita mesti gimana? Apa kita bom aja tuh sekolah-sekolah yang menghasilkan lulusan-lulusan bejat kayak gitu? Ya… Nggak bisa begitu juga kelees… Kan kalau mau nangkap tikus, nggak perlu juga kita harus membakar sarangnya.

Betul, kita memang nggak bisa menggeneralisasikan bahwa sekolah hanya menghasilkan lulusan-lulusan bejat, alumni-alumni yang melakukan korupsi dan kejahatan lainnya. Tetapi kalau ditengok lagi prestasi negara ini di bidang korupsi, atau prestasi negeri ini dalam mendongkrak angka kejahatan, apa iya kita nggak boleh menoleh “jasa” dunia pendidikan kita? Apa iya dunia pendidikan kita udah nggak mampu lagi menghasilkan manusia-manusia yang punya nilai-nilai kebaikan buat membangun bangsa ini jadi lebih baik?

Aha! Nilai! Ya, nilai! Jangan-jangan di sini salah satu masalahnya. Dengar-dengar sekilas sih konon katanya sekolah sekarang terlalu fokus mengejar nilai yang direpresentasikan oleh angka-angka di atas kertas rapor atau ijazah. Bahkan, udah bukan rahasia lagi kalau dulu waktu masih ramai Ujian Nasional, pihak sekolah justru menyebarkan bocoran soal berikut kunci jawabannya, hanya demi ngatrol nilai murid-murid di sekolahnya biar bagus dan lulus seratus persen.

Lucu kan? Demi nilai (baca: angka), sekolah pun mengabaikan nilai (kebaikan). Murid udah diajari nggak jujur sedari dini dan secara sistemik. Padahal, sejatinya nilai itu bukan hanya angka karena ia bersifat ide atau abstrak, dengan cakupan yang luas, seluas kehidupan ini sendiri. Jadi, menyederhanakan nilai hanya dalam bentuk angka seperti yang terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini, berarti kita sedang mengerdilkan kehidupan kita sendiri.

***

“Udah,  udah, Dik. Puyeng gue… ” sergah Makmun.

“Hehehe… Kalo udah puyeng, kopi solusi…” Sodik yang menoleh ke gelas kopi tapi langsung bengong dengan tangan masih terjulur. Tampak kopi di gelas telah tandas.

“Kok abis?” Seru Sodik.

“Gue minum, abis lu nyerocos terus ampe lupa ngopi.”

“Elu bikin kopi buat siapa?” sungut Sodik.

“Buat lu.”

“Kalo lu bikin kopi buat gue, tandanya kopi itu punya gue. Nah kalo lu mau minum, lu mesti ngomong dulu sama gue, nggak maen tenggak aja. Tandanya lu tau tata krama!”

Makmun mingkem.

“Ya maap…”

“Maap, maap. Sekolah di mana sih lu?”

“Kan bareng sama elu.”

Giliran Sodik terdiam.