Beranda Views Kopi Pagi Sekolah Di Mana?

Sekolah Di Mana?

312
BERBAGI

Rois Said

Sodik telentang memandang langit-langit kosnya. Wajahnya nampak sangatlelah, sehingga semriwing wangi seduhan kopi tak mampu mengganggu dia. Makmun yang rupanya sudah menyeduhkan kopi buat sahabatnya yang baru datang ini,datang menghampiri, lalu menatap heran wajah sang sohib.

“Kenapa sih lu? Baru pulang kampung bukannya seger malah kusam gitu tampang  lu. Bete? Suntuk gara-gara kena macet berjam-jam? Itu kanbiasa. Udah, mending ngopi aja tuhu dah guebikinin.”

Sodik bangkit, pegan ggelas. Ternyata masih panas banget.

Sodik urung minum dan membiarkan isi gelas tetap utuh. Sodik yang tanggung sudah duduk lantas meneruskan bicara.

“Iya. Di kita sihe mang yang namanya macet udah dianggap biasa. Seolah-olah semua udah merasa, sejak mengenal benda yang namanya mobil, bangsa ini udah ditakdirkan macet. Apalagi pas musim hujan, aspal tergerus air, beton juga nyaris jadi bubur lagi, bikin jalanan kayak muka lu tuh, banyak  lobangnya..”

“Sialan lu nyamain muka gue kayak jalan…”

“Lha, gue bukan nyamain muka lu sama jalan, tapi nyamain jalan kayak muka lu. Beda dong…”

“Lu kalo kesel sama jalan, kesel sama kemacetan, jangan terus menghina gue dong.”

“Sabar, Mun. Gue nggak menghina, Cuma lagi nyari padanan yang enak, yang bikin lu ngerti.
Gue juga nggak ganteng, jadi ngapain menghinaelu. Lagian, gue menikmati kok perjalanangue. Gue udah lu patuh keselnya hati pas macet. Yang gueingat, kejadian-kejadian selama perjalanan tadi yang menggelitik pikiran.”

“Otak lu geli gitu?”

“Bisa jadi. Lu tau nggak, waktu gue nunggu bus, seorang pedagang asongan yang lagi istirahat persis di samping gue tiba-tiba ngaji. Bacaannya fasih dan suaranya merdu. Abis itu dia doa, layaknya ustaz. Sepenggal peringatan dia omongin, bahwa hidup itu Cuma menjalankan scenario Tuhan. Kata dia, kita bahkan nggak tau apa yang akan terjadi semenit di depan.”

“Ah, ustaz kali tuh yang laginyamarjaditukangasongan.”

“Gue nggak tau, dan gak perlu tau itu ustaz atau bukan. Toh nilai-nilai kebaikan nggak harus keluar dari mulut ustaz, kan?”

“Iya sih…”

Makmun menyeruput kopi beberapa kali.

“Bukan cumaitu, Mun. Di perjalanan sewaktu nunggu macet, seorang pengamen naik, lalu nyanyi lagu dangdut…”

“Wah, joget dong lu? Elu kan maniak
dangdut.”

“Boro-boro. Itu lagu justru bikin gue mikir. Lagunya bercerita soal keagungan seorangibu. Gue nggak tahu judulnya. Nah, di sela-sela interlude lagu, diaseperti ‘berdakwah’. Kata itu pengamen, kalau mau sukses dalam hidup, nggak usah minta doa ke ustaz, kiai, apa lagi dukun.”

Makmun lagi-lagi nyeruput kopi.

“Yang mengagumkan, Mun, itu pengamen mohon dengan sangat supaya orang yang mau ngasih duit, harus benar-benar ikhlas, rida, dan nggak boleh merasa terpaksa. Dia ingin apa yang dia makan itu benar-benar didapat bukan dengan jalan menyusahkan orang lain.”

“Luarbiasa… Nah, pejabat aja banyak yang maen serabat-serobot numpuk kekayaan, nggak peduli itu duit haram apa bukan. Ngomong-ngomong, pada sekolah di mana tuh pengamen sama tukang asongan? Kok ngomongnya bisa pada lempeng kayak gitu?”

***

Sekolah di mana? Ah, ya…

Pertanyaan seperti itu biasanya langsung melejit dari otak manakala kita melihat atau dengar ucapan seseorang yang ngeresep di batin danpikiran. Seolah-olah kita pengin menyekolahkan anak kita supaya bisa bersikap seperti itu. 

Kalau begitu keadaannya, gejala seperti yang dipertanyakan si Makmun menunjukkan betapa sekolah masih menjadi sebuah institusi tempat harapan manusia dicantolkan. Kalau mau jadi orang sukses secara ekonomi, ya bersekolahlah.

Kalau maujadi orang baik, sekolah  empat menggodoknya.

Oh iya, tapi kan ada juga antagonis-antagonis dengan title berderet di depan dan belakang namanya. Orang-orang kayak begitu ketika jad ipejabat pasti jadi pejabat korup.

Jadi politisi pasti jadi politisi busuk. Tentara kejam atau polisi pungli. Kepada mereka ini, pertanyaan “sekolah di mana” juga pasti menodong kepala kita. Kenapa?

Ya karena mereka itu pasti sekolah juga dong. Terus kalau udah begitu, kita mesti gimana? Apa kita bom aja tuh sekolah-sekolah yang menghasilkan lulusan-lulusan bejat kayak gitu? Ya… Nggak bisa begitu juga kelees… Kank alau mau nangkap tikus, nggak perlu juga kita harus membakar sarangnya.

Betul, kita memang nggak bisa menggeneralisasikan bahwa sekolah hanya menghasilkan lulusan-lulusan bejat, alumni-alumni yang melakukan korupsi dan kejahatan lainnya.
Tapi kalau ditengok lagi prestasi negara ini di bidangkorupsi, atau prestasi negeri ini dalam mendongkrak angka kejahatan, apa iya kita nggak boleh menoleh “jasa” dunia pendidikan kita?

Apa iya dunia pendidikan kita udah nggak mampu lagi menghasilkan manusia-manusia yang punya nilai-nilai kebaikan buat membangun bangsa ini jadi lebih baik?

Aha! Nilai! Ya, nilai! Jangan-jangan di sinisalah satuma salahnya. Dengar-dengar sekilas sih konon katanya sekolah sekarang terlalu focus mengejar nilai yang direpresentasikan oleh angka-angka di atas kertas rapor atau ijazah. Bahkan, katanya lagi lho, udah bukan rahasia lagi kalau pas Ujian Nasional, pihak sekolah bahkan menyebarkan bocoran soal berikut kunci jawabannya, hanya demi nilai murid-murid di sekolahnya bagus dan lulus seratus persen.

Lucu kan? Demi nilai (baca: angka), sekolah pun mengabaikan nilai (kebaikan).

Murid udah diajari nggak jujur sedari dini dan secara sistemik. Padahal, sejatinya nilai itu bukan hanya angka karenaia bersifat ide atau abstrak, dengan cakupan yang luas, seluas kehidupan ini sendiri. Jadi, menyederhanakan nilai hanya dalam bentuk angka–seperti yang terjadi disekolah-sekolah kita saatini—berarti kita sedang mengerdilkan kehidupan itu sendiri.

***

“Udah,  udah Dik. Puyeng gue… ” sergahMakmun.

“Hehehe… Kalo udah puyeng, kopi solusi…” Sodik yang menoleh ke gelas kopi langsung bengong dengan tangan masih terjulur. Tampak kopi di gelastelah tandas.

“Kok abis?” SeruSodik.

“Gue minum, abis lu nyerocos teru sampe lupa ngopi.”

Sodik menghela napas menahan kesal.

“Elu bikin kopi buat siapa?”

“Buat lu.”

“Kalo lubi kin kopi buat gue, tandanya kopi itu punya gue. Nah kalo lu mau minum, lu mesti ngomong dulu sama gue, nggak maen tenggak aja. Tandanya lu tau tatakrama!”

Makmun mingkem.

“Ya maap…”

“Maap, maap. Sekolah di mana sih lu?”

“Kan bareng sama elu.”

Sodik tersedak.

***

Loading...