Selama 2016, Kejati Lampung Selamatkan Uang Negara Rp 5 Miliar

  • Bagikan
Kajati Lampung, Syafrudin saat memberikan keterangan terkait dengan penanganan korupsi.

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Selama Januari hingga November 2016 dalam penanganan kasus korupsi, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung telah menyelamatkan uang negara sebesar Rp 5 miliar. Uang korupsi yang diselamatkan tersebut, dimulai dari penyidikan, penuntutan hingga eksekusi.

Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung, Syafrudin mengungkapkan, bahwa dalam penganan kasus tindak pidana korupsi, hal yang paling terpenting adalah dengan menyelamatkan uang negara. Karena penyelamatan uang negara tersebut, merupakan bagian paling penting dalam penganan kasus korupsi.

Ditingkat penyidikan, kata Syafrudin, uang negara yang diselamatkan sebesar Rp 637 juta, lalu ditingkat penuntutan, uang negara yang diselamatkan sebesar Rp 3,4 miliar dan pada eksekusi, uang negara yang dikembalikan sebesar Rp 1,4 miliar.

“Untuk pengembalian uang negara tersebut, dilakukan dengan melelang harta-hara dari para koruptor,”ujarnya saat gelar Pers Gathering dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi sedunia, Jumat (9/12/2016).

Dikatakannya, dari beberapa aset milik para koruptor yang disita, ada beberapa aset yang sampai saat ini masih ada yang belum laku untuk dilelang. Aset tersebut adalah, milik buronan Satono, mantan Bupati Lampung Timur. Aset yang telah disita seperti, tanah dan bangunan.

“Aset milik Satono itu, sudah ditaksir dan dilakukan lelang. Bahkan sudah dua kali dilakukan lelang, tapi hingga saat ini belum laku,”ungkapnya.

Menurutnya, apabila aset tersebut tidak laku atau diminati, maka aset milik buronan Satono bisa saja dipakai oleh kejaksaan untuk kepentingan negara.

“Tim dari Kejati Lampung bersama jajarannya, saat ini masih memburu harta milik para koruptor lainnya untuk dilakukan penyitaan,”ujarnya.

Syafrudin mengutarakan, harta milik koruptor yang segera disita adalah, milik buronan Sugiharto Wijaya alias Alay, mantan bos Bank Tripanca. Dikatakannya, belum lama ini, pihaknya telah menemukan kembali aset milik Alay berupa apartemen yang berada di daerah Tangerang, Banten.

“Tim Kejari Bandarlampung, segera berupaya melakukan penyitaan aset milik Alay. Lalu akan segera dilakukan lelang, untuk mengganti kerugian negara. Karena selama ini, aset Alay masih kurang dari nilai yang telah ditentukan majelis hakim,”terangnya.

Dia menambahkan, bahwa selama Januari hingga November 2016, Kejati Lampung bersama jajaran sudah melakukan penyelidikan kasus korupsi ada 31 kasus, lalu penyidikan ada 38 perkara dan penuntutan ada 47 perkara.

Selama proses penyidikan tersebut, kata syafrudi, penyidik juga telah menyelesaikan sembilan kasus korupsi yang menjadi tunggakan kejaksaan selama ini. Tunggakan kasus tersebut, adalah kasus yang tidak selesai penyidikannya sejak tahun 2008 lalu hingga sekarang dan kasusnya sudah diselesaikan semua.

“Kami Korps Adhyaksa berkomitmen, akan terus melakukan penyelesaian kasus korupsi yang sudah ditangani penyidik pada tahun sebelumnya maupun yang baru saat ini tengah ditangani penyidik,”jelasnya.

  • Bagikan