Beranda News Liputan Khusus Selama 46 Tahun Mbah Maniyem Menggeluti Kerajinan Anyaman Bambu

Selama 46 Tahun Mbah Maniyem Menggeluti Kerajinan Anyaman Bambu

249
BERBAGI
Mbah Maniyem (56) dan anak perempuannya, Yulianti (26) sedang menganyam bilah bambu untuk dijadikan wadah perabot rumah tangga berupa tompo yang biasanya digunakan untuk mencuci beras di samping halaman rumahnya di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Sabtu (1/2/2020).
Mbah Maniyem (56) dan anak perempuannya, Yulianti (26) sedang menganyam bilah bambu untuk dijadikan wadah perabot rumah tangga berupa tompo yang biasanya digunakan untuk mencuci beras di samping halaman rumahnya di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Sabtu (1/2/2020).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Sabtu siang (1/2/2020) sekitar pukul 13.30 WIB, cuaca di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan terlihat sedikit cerah bercampur mendung. Jalan menuju ke Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo  terlihat agak sepi. Hanya sesekali saja kendaraan motor terlihat melintas.

Ketika sampai di Dusun Ponorogo tersebut, teraslampung.com melihat ada seorang perempuan paro baya bersama seorang perempuan sedang melakukan kegiatan di samping halaman rumahnya. Sementara di beberapa rumah lainnya, sejumlah warga sedang duduk santai di teras rumah mereka masing-masing.

Mbah Maniyem (56) dan  Yulianti (26), nama dua perempuan itu ibu dan anak, sedang menganyam bilah bambu untuk dijadikan wadah perabot rumah tangga berupa tompo atau pithi. Ada juga yang menyebutnya  tumbu. Tompo biasanya digunakan untuk mencuci beras ataupun lainnya, seperti menyimpan bumbu dapur. Bisa juga untuk menaruh buah serta jajanan tradisional seperti tape singkong.

Kerajinan anyaman dari bambu seperti tompo ini juga biasanya dimanfaatkan oleh ummat beragama Hindu sebagai pelengkap dari upacara adat yang seringkali dilaksanakan.

Meski di tengah gempuran perabot rumah tangga berbahan berbahan plastik, stainless,  ataupun lainnya yang banyak di pasaran,  Mbah Maniyem masih tetap bertahan dengan kerajinan bambunya. Sudah Ia menggeluti usaha sebagai perajin perabot rumah tangga dari ayaman bilah bambu, kerajinan yang dibuatnya kuat dan tahan lama.

Pohon bambu yang selama ini identik dengan bahan baku pembuatan rumah ataupun bangunan, tapi ditangan terampil Mbah Maniyem bersama putrinya itu, bambu “disulap”
menjadi kerajinan bernilai  ekonomis. Dan, yang pasti ramah lingkungan.

Meski diusianya yang sudah tidak lagi muda, Mbah Maniyem (56) masih begitu cekatan menganyam bilah bambu jenis apus yang akan dijadikan tompo yang sudah dipesan konsumen ataupun tengkulak.
Meski diusianya yang sudah tidak lagi muda, Mbah Maniyem (56) masih begitu cekatan menganyam bilah bambu jenis apus yang akan dijadikan tompo yang sudah dipesan konsumen ataupun tengkulak.

Proses membuat kerajinan wadah anyaman dari bilah bambu ini, sebenarnya cukup panjang. Mulai dari memilah bambu apus yang pantas untuk ditebang, memotong, membelah hingga menjadi iratan (irisan) tipis, lalu dijemur dibawah sinar matahari sampai benar-benar kering dengan lekukan yang diinginkan setelah itu baru bambu bisa dianyam.

Meski diusianya yang sudah tidak lagi muda, melalui tangan keriputnya Mbah Maniyem masih begitu cekatan menganyam bilah bambu jenis apus yang akan dijadikan tompo yang sudah dipesan konsumen ataupun tengkulak. Dengan cepat, tumpukan bilah bambu yang ada di sampingnya itu selesai dianyam menjadi wadah tompo.

“Potongan bilah bambu yang sudah diirat (ditipiskan dengan pisau) ini, mau dianyam dibuat wadah perabot rumah tangga namanya pithi atau tompo. Wadah tompo ini, biasanya digunakan untuk mesusi (mencuci) beras. Tapi juga, bisa untuk wadah lainnya,” kata Mbah Maniyem kepada teraslampung.com sambil terus menganyam bilah bambu dibuat tompo berbentuk bulat.

Tompo biasanya ukurannya besar. Di Jawa sering disebut rinjing. Tumbu atau pithi ukurannya lebih kecil dan biasanya sepasang (ada penutupnya). Zaman dulu, sebelum wadah dari plastik diproduksi massal, tumbu sering dipakai untuk tempat nasi dan lauk-pauk pada acara tasyakuran.

Karena sudah terbiasa, Mbah Maniyem bisa menganyam tompo dengan cepat. Bahkan, sambil ngobrol pun ia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Satu tompo hanya butuh waktu 10 menit untuk diselesaikan.

“Semua bahan olahan bambu sampai siap dianyam yang mengerjakan suami. Kalau saya sendiri hanya tinggal menganyamnya menjadi tompo hingga sampai bisa dijual,”kata dia.

Di sampingnya, anak perempuannya juga sedang membantu menganyam bilah bambu. Bahkan, terlihat lincah menganyam bilah bambu dijadikan tompo. Tidak terasa, kata Mbah Maniyem, sedari jam 10.00 WIB pagi hingga sore ia mulai duduk menampih bilah bambu dianyam menjadi tompo.

Tompo sudah siap dijual.

“Ya ini anak perempuan saya, dia ini yang bantu saya buat tompo, besek dan anyaman bambu lainnya. Mulai buatnya, setelah pekerjaan rumah sudah selesai sembari mengisi waktu luang siang,”ucapnya.

Mbah Maniyem menceritakan, memiliki keahlian membuat kerajinan menganyam bambu dijadikan alat perabot rumah tangga, diperoleh dari orangtuanya yang memang sebagai perajin bambu di Jawa Timur. Ia menekuni kerajinan tersebut, sejak belum menikah hingga menikah dengan Dangun, suaminya yang juga sebagai pelaku kerajinan bambu.

Berbekal keterampilan yang dimilikinya itu, ia mengikuti suaminya meninggalkan Pulau Jawa merantau ke Pulau Sumatera yakni di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Lampung Selatan hingga memiliki beberapa orang anak serta cucu tetap setia menekuni kerajinan menganyam bilah bambu.

“Pekerjaan menganyam bambu ini, saya tekuni selama 46 tahun hingga sekarang ini atau sejak tahun 1974 lalu saat saya belum menikah sampai menikah hingga punya anak dan cucu. Kerajinan ini warisan turun temurun dari orangtua saya, dan alhamdulilah walau hasilnya sedikit bisa untuk kebutuhan sehari-hari, membesarkan anak, menyekolahkan sampai menikahkanya,”ungkapnya.

Selain karena biasa dan terampil, Mbah Maniyem mengaku kerajinan dari bambu ini merupakan tradisi budaya sejak dari nenek moyang kita dulu dan tidak ingin hilang begitu saja apalagi terputus ke generasi selanjutnya.

Satu batang bambu kalau dibuat wadah tompo, kata Mbah Maniyem, bisa menghasilkan 20 tompo dan modal yang dibutuhkan untuk beli satu batang bambu Rp 5.000 serta satu iket tali Rp 4.000. Sementara untuk proses pembuatannya, mulai awal sampai jadi memakan waktu 2-3 hari.

Selain membuat perabot rumah tangga berupa tompo, ia dan suaminya juga membuat ayaman bambu lainnya seperti Besek, penampi beras atau bahasanya jawanya disebut “Tampah”, penutup kepala “Caping” serta Bakul “Rinjing”.

Mbah Maniyem (56) tetap bertahan selama 46 tahun menggeluti usaha sebagai perajin perabot rumah tangga dari ayaman bilah bambu, meski di tengah gempuran perabot rumah  tangga berbahan berbahan plastik, stainless ataupun lainnya.
Mbah Maniyem (56) tetap bertahan selama 46 tahun menggeluti usaha sebagai perajin perabot rumah tangga dari ayaman bilah bambu, meski di tengah gempuran perabot rumah tangga berbahan berbahan plastik, stainless ataupun lainnya.

“Kalau yang menganyam tampah sama rinjing, itu suami saya yang mengerjakannya. Kalau saya hanya menganyam tompo sama besek saja,”ujarnya.

Dalam sehari, ia dapat menyelesaikan 50 kerajinan anyaman bambu berupa tompo. Hasil kerajinan yang dibuatnya, dijualnya sendiri ke Pasar Sidomulyo dan ada juga yang dibeli langsung dengan pengepul atau agen dari daerah Kecamatan Way Panji dan Palas.

“Biasanya yang dibeli sama pengepul tidak hanya tompo saja, tapi lainnya juga seperti tampah, besek dan rinjing jumlahnya masing- masing sekitar 10-15 jenis kerajinan yang dibawa. Untuk kerajinan tompo dijualnya Rp 5.000/bijinya, bakul (rinjing) Rp 20 ribu dan penampi beras (tampah) Rp 10 ribu,”terangnya.

Kesulitannya saat membuat kerajinan anyaman bambu ini, kata Mbah Maniyem, yakni pada saat musim hujan karena bambu agak sulit didapat dan juga membuat dirinya harus memanggang serat bilah bambu diatas tungku api supaya cepat kering dan bisa dianyam.

Menurutnya, di wilayah tempat tinggalnya di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo ini, dulunya banyak yang membuat kerajinan anyaman dari bilah bambu. Kerajinan yang dibuat banyak macamnya, tidak hanya tompo, besek, tampah dan rinjing saja melainkan caping, kandang burng, kurungan ayam, bilik (geribik), tempat untuk jemur padi dan lainnya.

Seiring perkembangan zaman, serta banyak masyarakat yang menggunakan bahan perabot rumah tangga dari plastik, sehingga kerajinan dari bambu mulai sepi dan ditinggalkan peminatnya akhirnya banyak dari mereka (perajin) yang meninggalkannya dan beralih profesi pekerjaan lainnya.

“Kalau dulu, rata-rata warga di Dusun Ponorogo ini punya keahlian mengayam bambu membuat anaka kerajinan. Tapi sekarang ini, hanya tinggal keluarga saya dan beberapa orang saja di sini (Ponorogo) yang masih tetap bertahan menekuni kerajinan dari bambu ini,”kata dia.

Ketika ditanya kenapa dirinya tetap bertahan menekuni usaha tersebut, Mbah Maniyem mengatakan, menganyam bilah bambu menjadi barang perabot rumah tangga, sudah menjadi rutinitasnya. Sangat tidak mudah memang untuk terus menjaga, dan melestarikan kerajinan warisan budaya kita ini apalagi sekarang ini banyak orang menggunakan perabot rumah tangga berbahan plastik.

“Yang dibutuhkan seperti kami ini, ya diperhatikan (pemerintah). Syukur-syukur kalau ada bantuan yang bisa disalurkan untuk perajin kecil seperti kami ini agar bisa tetap bertahan dan terus berkembang usahanya,”pungkasnya.

Sementara Yulianti (26) anak dari Mbah Maniyem menuturkan, menekuni kerajinan dari ayaman bambu sejak menikah atau baru sekitar 4 tahun ini, dari menekuni usaha ini bisa membantu untuk menopang kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

“Saya bersyukur sekali bisa mengayam bambu setelah diajari sama ibu, dan Alhamdulilah bisa untuk menambah penghasilan sehari-hari serta untuk biaya sekolah anak,”ujarnya.

Untuk pemasaran kerajinan dari bambu ini, kata Yuli, sedikit mengalami kesulitan. Kalau dulu banyak peminatnya, tapi sekarang ini sudah berkurang karena pindah ke bahan plastik semua yang katanya bahan plastik lebih praktis dan enak digunakannya

“Harapannya, pemerintah memperhatikan pengrajin-pengrajin kecil seperti kami. Katanya yang saya dengar, bahan yang menggunakan plastik akan di kurangi sama pemerintah. Ya mudah-mudahan saja, bahan kerajinan dari bambu ini bisa laku dan diminiti banyak orang seperti dulu lagi,”harapnya.

Bukan mengapa, kata Yuli, supaya masyarakat lebih menghargai lingkungan menggunakan wadah dari anyaman bambu yang ramah lingkungan jika dibadingkan dengan bahan dari plastik.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaUlar Kobra Masuk Rumah Gegerkan Warga Dusun Ringin Agung II
Artikel berikutnyaEnak nggak Enak Harga Pertamax Turun, Ini Daftar Lengkapnya
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya