Selamat Hari Guru bagi Semua Guru

Bagikan/Suka/Tweet:

Iswadi Pratama

Engkau adalah kepada siapa aku mau menunjukkan sisi diriku yang paling rumpang. Tak jarang kubiarkan jiwaku yang brengsek bagai buku terbuka tergeletak di depanmu dengan lembarannya yang sobek dan penuh coretan.

Terkadang aku ingin lenganmu yang selalu tersembunyi itu merapikan atau menatanya. Meletakkannya di tempat di mana ia tampak layak dibaca. Acap aku hanya ingin kau memandanginya dengan sepasang matamu yang menyimpan sejuk api, memberinya sedikit belas kasih.

Sungguh, ini bukan metafora atau suatu hujah untuk membuatnya terasa indah. Benar-benar cuma sepasang matamu itu kudamba; memandang sebagaimana para kekasih memandang yang mereka cinta.

Engkau adalah kebaikan di pagi hari, kesejukan di terik siang, kehangatan di kala dingin malam. Dalam tubuhmu yang seakan lemah itu, jiwamu teramat liat; bahkan dia yang paling rapuh sekalipun merasa kuat bila kau mendekat. Aku senang membayangkan saat kau tertawa, dengan bahu yang sedikit terguncang dan pekik yang tertahan. Dua baris gigimu yang putih bersih adalah segugus buih di landai bibir, di segar gusi.

Bila kukatakan semua ini, aku sama sekali tidak sedang memuji, aku sedang memuliakanmu. Kehadiranmu di antara kami, seperti kandil kemerlap di tengah pusaran badai dan gelap. Engkau memang tak pernah berkata apa-apa selain yang diminta untuk kau sampaikan. Namun seluruh kehadiranmu seakan sebuah bisikan dari mulut Keheningan yang telah lama aku–mungkin juga mereka abaikan.

Di dalam dirimu, aku merasakan pias pias cahaya yang dulu sekali pernah berpendar di dalam dadaku ketika belia. Ada suatu ihwal yang terlalu samar untuk diringkus dalam bahasa, tak terkejar oleh makna. Ia hanya bisa dirasakan oleh sukma yang pernah pupus dalam sujud, dalam tahajud.

Engkaulah getar cinta yang tak bisa disekap dalam perangkap asmara, tak halal ditugal dalam keinginan pemilikan. Semoga kau tetap berkenan menjadi teritisan darimana hujan melimpahi kebun kebun kami yang terlampau sering dilanda kering, terlalu papa untuk berderma.

*Iswadi Pratama adalah seorang penyair dan teaterwan, tinggal di Bandarlampung