Selamat Jalan Mas Begawan Wahyu Sasongko…

  • Bagikan
Prof. Dr. Wahyu Sasongko

Oyos Saroso H.N.

Pada era Orde Baru, tidak banyak akademisi yang berani bersuara lantang mengritik penguasa. Saat gerakan mahasiswa makin masif sebelum fajar reformasi 1998 menyingsing, tidak banyak pula dosen yang berani berada di depan membela mahasiswa dan bersekutu dengan gerakan reformasi. Salah satu yang sedikit itu adalah Wahyu Sasongko, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila).

Awalnya saya mengenal pria yang kemudian saya sapa Mas Wahyu itu dari berita yang ditulis kawan-kawan saya di harian Lampung Post. Pada rentang 1997-1998, nama Wahyu Sasongko sering muncul di koran Lampung Post sebagai narasumber. Ia kerap menyampaikan pendapat yang lugas, tanpa tedheng aling-aling, dan berisi kritik kepada penguasa. Beberapa kali Wahyu Sasongko juga menulis opini di Lampung Post, rubrik yang kala itu saya gawangi. Namun, sampai beberapa kali tulisannya dimuat, saya belum pernah bertemu dengan sosok Wahyu Sasongko.

Saya baru mengenal secara langsung ketika era reformasi 1998 bergulir. Lebih intensif sering bertemu seminggu sekali ketika saya bersama redaktur politik Lampung Post, Ridwan Saifudin, diminta mengelola rubrik Dialog Demokrasi . Awalnya penanggung jawab kegiatan ini adalah rekan saya, redaktur politik Lampung Post Agusta Hermawan. Namun, Agusta kemudian mempercayakan kepada saya dan Ridwan Saifudin. Mungkin pertimbangannya karena sayalah yang menjaga gawang rublik opini sekaligus membantu halaman umum (halaman depan) Lampung Post.

Dialog Demokrasi terbit setiap Senin. Sebelum terbit, pada akhir pekan kami harus mengundang para pakar dan aktivis prodemokrasi untuk berdiskusi dengan tema paling hangat pada pekan tersebut. Awalnya Diskusi digelar di kantor redaksi Lampung Post, tetapi kemudian pindah ke Restoran Cianjur (depan Hotel Marcolo), Jl. Dr. Susilo, Bandarlampung.

Nama Wahyu Sasongko termasuk dalam daftar peserta diskusi kecil “Dialog Demokrasi” yang kami gelar tiap akhir pekan. Selain Wahyu Sasongko, ada Jauhari Zailani (saat itu Dekan FISIP UBL), Tisnanta (FH Unila), Armen Yasir (FH Unila), Syarief Makhya (FISIP Unila), Nanang Trenggono (FISIP Unila), Prof. Tayar Yusuf (IAIN Raden Intan), Dr. Sudjarwo (FKIP Unila), Edwin Hanibal (Direktur LBH Bandarlampung), Watoni Noerdin (Direktur Operasional LBH Bandarlampung), Iberahin Bastari (LBH Bandarlampung), Bambang Ekalaya (LBH Bandarlampung), Dedi Mawardy (mantan Direktur LBH Bandarlampung) Abi Hasan Mu’an (mantan Direktur LBH Bandarlampung), Asrian Hendicaya (dosen FE Unila), Budisantoso Budiman (jurnalis LKBN Antara), dan Agusta Hermawan.

Saya dan Ridwan Saifudin hanya bergantian memandu jalannya diskusi saja. Setelah diskusi selesai, Ridwan Saifudin atau saya merangkumnya menjadi tulisan views. Tulisan yang muncul di rubrik “Dialog Demokrasi” di Lampung Post yang kemudian berlanjut di harian Trans Sumatera tiap hari Senin menjadi ‘santapan hangat’ para pemangku kepentingan di Provinsi Lampung. Saya pernah mendapatkan informasi dari orang dekat Gubernur Oemarsono, tak jarang isi di rubrik itu menjadi pertimbangan Pemprov Lampung dalam menyikapi sebuah masalah. Misalnya terkait kasus perburuhan, kasus sengketa tanah, dan lain-lain.

Wahyu Sasongko usai pengukuhan gelar profesor pada 7 Oktober 2020. Foto: Hendry Sihaloho

Karena lama bergaul di forum kecil itu, saya hafal betul gaya Mas Wahyu, Pak Jauhari, Pak Syarief, dan ‘atktivis’ Dialog Demokrasi lainnnya. Dialog Demokrasi berhenti beraktivitas seiring dengan keputusan manajemen harian Trans Sumatera menghentikan penerbitan pada 2002. Namun, para peserta Dialog Demokrasi tetap masih sering bertemu, berjaringan di NGO lokal untuk mengawal gerakan masyarakat sipil pada era reformasi. Jaringan masyarakat sipil yang lahir pada 2000-an antara lain Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (Pussbik), Komite Anti Korups (KoAk) Lampung,  DAMAR, LADA, Lembaga Advokasi Masyarakat (LAM), dan Lampung Parliament Watch (LPW). Yang terakhir ini didirikan oleh Bang Armen Yasir, Mas Wahyu Sasongko, Mas Tisnanta, Mas Nanang Trenggono, dan Agusta Hermawan (saya lupa nama lainnya).

BACA JUGA:   Tommy Apriando

Tidak jauh dari waktu berdirinya Pussbik dan KoAk, saya bersama Mas Budisantoso dan belasan jurnalis plus penulis di Lampung mendeklarasikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung (sekarang lebih dikenal sebagai AJI Bandarlampung). Pada saat hendak mendirikan AJI Lampung inilah kami minta bantuan Mas Wahyu dkk. Mereka kami minta memberikan rekomendasi kepada kami (selain kami saling merekomendasi) agar bisa mendirikan AJI di Lampung. Setiap calon anggota AJI harus mendapatkan lima rekomendasi dari orang yang sudah menjadi anggota AJI. Karena di Lampung belum ada anggota AJI, maka rekomendasi bisa diberikan oleh para tokoh prodemokrasi di Lampung yang mengetahui sepak terjang calon anggota AJI.

Mas Wahyu bukan hanya turut andil dalam pendirian AJI di Lampung, tetapi juga kami ‘seret’ untuk masuk ke dalam. Ia pernah kami daulat untuk menjadi anggota majelis etik AJI Lampung dan menjadi penasihat hukum dalam penyelesaian kasus perburuhan yang diadvokasi AJI Lampung. Ia rela naik bus malam dari Lampung ke Jakarta untuk memperkuat tim advokat yang ditunjuk AJI Lampung. Ketika AJI Lampung diketuai Mas Firman Seponada, Ibnu Khalid, dan Juwendra Asdiansyah, Mas Wahyu masih selalu datang setiap diundang pada acara AJI.

Bersama para aktivis prodemokrasi di Lampung lainnya, Mas Wahyu juga berperan dalam gerakan Jaringan Masyarakat Peduli Transparansi dan Otonomi Daerah (JMPTOD) dan Forum Transparansi Anggaran (FTA) Lampung. Dua organisasi yang anggotanya terdiri atas para aktivis NGO dan jurnalis di Lampung ini lumayan masih mengampanyekan pentingnya transparansi penyusunan dan pengesahan APBD di Lampung pada kurun 2001-2003). JPMTOD dan FTA pernah mengampanyekan pembangkangan sipil dalam bentuk mengajak masyarakat Lampung tidak membayar pajak karena DPRD Lampung mengesahkan anggaran RAPBD menjadi APBD yang tidak berpihak kepada rakyat.

Jejak Mas Wahyu tidak hanya kuat di NGO dan organisasi profesi (seperti AJI, misalnya) yang lahir pada era reformasi. Di NGO yang jauh sudah lama berdiri jejak Mas Wahyu juga masih ada. Antara lain di LBH Bandarlampung, Walhi Lampung, Watala, Mitra Bentala, dan lainnya. Para pegiat NGO di Lampung tidak hanya menganggap Mas Wahyu sebagai tempat bertanya, tetapi guru dan sahabat yang bisa memecahkan kebuntuan saat menemui persoalan pelik.

Lama berjuang di lapangan bersama aktivis prodemokrasi membuat Mas Wahyu nyaris tidak mempedulikan jenjang akhirnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Untunglah belakangan ia sangat antusias menyelesaikan program doktornya sehingga meraih gelar doktor. Disertasi doktornya tentang hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Pada 7 Oktober 2020 Mas Wahyu dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Lampung. Namanya pun menjadi makin mentereng: Prof. Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.H. Namun, bagi Mas Wahyu ada gelar doktor dan profesor di depan namanya atau tidak, itu tidak memengaruhi sikapnya dalam berhubungan dengan kolega dan para aktivis-jurnalis. Ia tetap sosok rendah hati yang biasa kami sapa Mas Wahyu atau Babe.

Sebelum dikukuhkan secara resmi sebagai profesor oleh Rektor Unila, pada 5 September 2020 kami menggelar syukuran atas anugerah gelar profesor untuk Mas Wahyu. Acara digelar di kediaman Asrian Hendicaya di Wayhui, Lampung Selatan.

BACA JUGA:   Pelawak Gogon Meninggal Usai Ikut Kampanye Pilbup di Kotabumi Lampung Utara

Pertemuan menjadi lebih bermakna karena Mas Wahyu menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang isu mutakhir di Indonesia: dari soal politik-hukum-ekonomi-sosial budaya pascareformasi hingga masalah Omnibus Law dan vaksin Covid-19.

Seperti biasa, pemikiran Mas Wahyu sangat bernas. Dalam kondisi sakit, ia masih mampu pokok-pokok pikirannya dengan jernih. Pemikiran yang disampaikan Mas Wahyu dengan gaya khasnya — runtut dan sistematis — praktis menjadi seperti kuliah 4 satuan kredit semester (SKS). Mas Wahyu mendedahkan dengan jernih bagaimana karut marutnya hukum di Indonesia, lemahnya Indonesia untuk mendapatkan hak paten vaksin Covid-19 (dan dampaknya), amburadulnya rancangan Omnibus Law, dan masa depan Indonesia di tangan kapitalisme yang sudah menggurita dan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.

Sebelum acara ia sempat menanyakan kondisi saya yang kala itu mendapat ‘berkah’ syaraf kejepit. Setelah kami mau pamitan dengan Bang Asrian, saya masih sempat salam komando dengan Mas Wahyu (tidak jabat tangan karena taat prokes Covid-19) dan saling mendoakan agar lekas pulih.

Pada 6 Desember 2020 Mas Wahyu kirim pesan via WhatsApp untuk minta nomor tukang urut yang membantu saya bisa berdiri dari duduk tanpa rasa sakit. Beberapa bulan tidak ada kabar, baru sekitar dua bulan lalu tukang urut asal Lampung Selatan itu menelepon saya. Dia mengabarkan bahwa Mas Wahyu sudah tidak merasakan sakit lagi ketika duduk.

“Alhamdulillah,” kata saya. “Minta tolong ya Pak, Mas Wahyu dibantu agar benar-benar pulih. Saya dan kawan-kawan sangat menyayangi dia dan berharap Mas Wahyu segera pulih….”

Pada Idul Fitri kemarin saya kirim ucapan Idul Fitri melalui WA Mas Wahyu. Ia langsung menjawab,”Sami2 mas Oyos, mohon maaf lahir batin kagem mas Oyos sekeluarga”.

Itulah bahasa Mas Wahyu kepada saya setiap kali kami berkomunikasi lewat telepon atau WA. Ia selalu memakai bahasa Jawa kromo. Padahal saya usianya jauh lebih muda.

Saya dan kawan-kawan lama yang menjadi anggota grup WA Pembaca Teraslampung masih mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 untuk Mas Wahyu pada Kamis malam, 26 Mei 2021. Tidak lama kemudian Pak Syarief Makhya di grup itu mengirimkan pesan agar kami mendoakan kesembuhan Mas Wahyu yang sedang dirawat di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta.

Pada Jumat, 28 Mei 2021, pukul 04.21 Bambang Ekalaya meneruskan pesan dari putra Mas Wahyu:

Innalillahi wa innaillaihi rojiun..

Telah berpulang ke Rahmatullah Ayahanda kami Wahyu Sasongko bin Widarso pada hari Jumat tanggal 28 Mei pukul 3.20 WIB.

Semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT. Mohon dibukakan pintu maaf sebesar2nya.
Rencananya mau dimakamkan di pemakaman Giri Tama di Tonjong, Bogor, jalan dari rumah Cipete sekitar jam 8.30 atau maksimal jam 9, kira-kira sampai di Tonjong sekitar jam 10-an.

Banyak kawan meneteskan air mata atas kepergian Mas Wahyu. Keluarga dan banyak orang sangat menyayanginya dan berharap Mas Wahyu sembuh. Namun, Allah SWT jauh lebih menyayangi Mas Wahyu Sasongko.

Selamat jalan, Mas Wahyu. Namamu akan terpatri sebagai begawan bagi para aktivis dan anak-anak muda di Lampung yang merindukan kebebasan berpikir dan memperjuangkan suara hati nurani….

  • Bagikan