Beranda Kolom Kopi Pagi Selamat Jalan Pejuang Kebebasan Pers

Selamat Jalan Pejuang Kebebasan Pers

102
BERBAGI
Ahmad Taufik (Foto: Tempo)

Tomi Lebang

Ciuman perpisahan dua sahabat. Eko ‘Item’ Maryadi melepas kepergian Ahmad Taufik dengan kesedihan yang tak terperi. Semalam (23/3/2017) di rumah duka, saya melihat Item meledak dalam tangis, sampai matanya begitu sembab.

Di masa-masa gelap kebebasan, keduanya ditangkap aparat pemerintahan Soeharto pada pertengahan Maret 1994 karena kegiatan bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI), gerakan wartawan yang kemudian dideklarasikan beberapa bulan kemudian di Wisma Tempo Sirnagalih, Megamendung, Jawa Barat. Terutama, lewat media bawah tanah Tabloid Suara Independen yang beredar luas secara diam-diam dari tangan ke tangan, kampus ke kampus, dengan isi yang mengupas sepak terjang pemerintah Soeharto yang sebenarnya.

Ate dan Item, bersama dua yang lain (pengelola media Kabar dari Pijar, Tri Agus Siswomiharjo dan staf kantor AJI Jakarta, Danang Kukuh Wardoyo) menghabiskan masa tiga tahun di dalam penjara.

Mereka dipenjara tapi tak pernah takluk. Suara-suara perlawanan terhadap rezim bukannya menyurut tapi malah kian membesar. Pembreidelan pers, penangkapan terhadap wartawan, dan represi rezim Soeharto ke AJI, malah menjadi lelatu yang memercikkan dan menyalakan api sampai ke daerah-daerah.

Suka atau tidak, kata Satrio Arismunandar, Sekjen AJI pada masa-masa itu,”kelahiran dan perlawanan AJI terhadap rezim Orde Baru telah menjadi bagian dari gerakan demokratisasi yang lebih besar.”

Satrio sendiri kala itu adalah wartawan KOMPAS yang diminta mundur dari kantornya setelah dicabut keanggotaannya oleh PWI, dan media tempatnya bernaung diminta untuk untuk tidak mempekerjakan aktivis AJI.

Begitulah. Satu pejuang telah pergi. Pejuang lain bersedih. Kita pun ikut sedih, seraya mengingat kembali: kebebasan pers yang kita nikmati hari ini, dulu diperjuangkan dengan taruhan badan oleh anak-anak muda yang tak mengenal takut.

Sekali lagi, selamat jalan Bang Ate. Kami takkan pernah melupakanmu.