Selamat Jalan Prof. Dr. Sunarto DM: Begawan Hukum, Sang Pendidik, dan Motivator…

  • Bagikan
Penulis bersama Prof. Sunarto DM (Foto: Dok/Istimewa)

Yusdianto*

Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Pagi Sabtu, 12 Juni 2021 tepat pukul 03.42 WIB, kabar duka datang dari keluarga almarhum melalui pesan WhatsApp berantai, mengabarkan Prof. Sunarto,S.H., M.H. (Guru Besar Pidana FH Unila) sudah berpulang.

BACA: Guru Besar FH Unila Prof. Dr. Sunarto Wafat

Masih lekat suasana duka di Fakultas Hukum Unila, tepat tanggal 28 Mei 2021 lalu, telah juga berpulang Prof. Dr. Wahyu Sasongko, SH.,MH. (Guru Besar Hukum Perdata FH Unila).  Terhitung tidak sampai 15 hari, dua Guru Besar Fakultas Hukum Unila berpulang menghadap Sang Illahi. Kepulangan begawan hukum Lampung telah meninggalkan dan menambah duka yang cukup mendalam.

Bagi saya, kedua almarhum orang baik. Bukan hanya sebatas guru, namun sudah seperti orang tua di kampus. Terkadang saya tersenyum dan tertawa ketika mendengarkan celoteh mereka terkait pelbagai pemikiran saya yang cenderung nakal terhadap beberapa hal yang membuat para pengambil kebijakan jengkel.

Hal itu tentu menjadi tema dan alasan di tiap kesempatan menelpon untuk bertemu, setidaknya mengajak minum kopi/makan siang sembari berdiskusi terhadap berbagai isu aktual. Lalu memberi semangat atau bercanda atas “kenakalan” yang sudah saya perbuat. Obrolan berlangsung renyah, saling melepas joke, dan kadang lupa waktu bila sudah masuk waktu shalat.

Kedua almarhum memiliki passion  masing-masing.  Mereka mampu berkomunikasi ke atas dan ke bawah. Keduanya tampil sederhana, santun dan bersahaja, sangat toleran dengan perbedaan. Misalnya: Prof Wahyu lebih dekat dengan pekerja demokrasi dan NGO, sementara Prof Sunarto, lebih dekat dengan kelompok politik, hukum, dan birokrat.

Mereka guru besar yang  telah memberi saya inspirasi dan tauladan. Guru dimaksud adalah keduanya merupakan dosen, di saat saya menempuh kuliah 1997 – 2003, dan mejadi abang sekaligus orang tua ketika saya diangkat sebagai dosen, melanjutkan pendidikan sampai aktivitas ketika sedang melaksanakan penelitian, pengabdian dan aktivitas diluar kampus.

Terlebih Prof Narto begitu dipanggil, banyak hal sudah saya pelajari dan di praktikkan. Dimulai, ketika menjabat Wakil Rektor III Unila periode pertama.  Usai dilantik, Prof. Narto  meminta saya menjadi tim kerja untuk mendampingi beliau. Empat  tahun bekerja tentu banyak suka maupun duka, namun yang banyak adalah suka ketimbang duka.

Falsafah beliau dalam mengelola aktivitas kemahasiswaan yang tak dapat lupa adalah falsafah 3 M. Mahasiswa sebagai mata air bila mereka berprestasi dan sukses, mahasiswa sebagai air mata jika mereka sedang mendapat musibah, dan mahasiswa sebagai mata di luar dan didalam kampus.

Pada periode kedua beliau menjabat Wakil Rektor III, saya pamit undur diri. Saya disarankan beliau agar fokus meneruskan pendidikan doctoral hukum. Maka tahun 2014 saya melanjutkan studi doktoral di FH Unpad, Bandung.

Setelah pulang sekolah, di luar kampus, bersama Prof Narto aktiv di Panca Mandala Saburai Provinsi Lampung, menjabat sebagai Ketua. Perintah terakhir, beliau meminta saya mewakili beliau untuk mengikuti acara BPIP Pancasila di Yogyakarta awal ramadan lalu.

Terakhir berkomunikasi dengan Prof Narto empat hari lalu ketika sedang berada di ICU RS Abdul Moeloek menggunakan media video call. Walaupun sedang sakit masih saja dengan ciri khas tersenyum, bercanda dengan tergur-sapa serta meminta di doakan supaya lekas sembuh.

Sebagai dosen, banyak sudah mahasiswa sukses lahir dari tangan beliau, baik itu sarjana, magister dan doktoral. Konsep keilmuan, Prof Narto di bidang hukum pidana yang saya ingat adalah “Penegakan hukum pidana yang berbasis nilai Pancasila”. Semberi berseloroh Prof Narto mengatakaan,”Bila nilai Pancasila sudah ditanggalkan lihat saja maka tujuan keadilan yang dimaksud dalam kepastian hukum akan tanpa makna atau dimaknai lain”.

Selain itu, Prof Narto banyak sekali menyimpan joke, tampil sebagai sosok humoris, mampu berbahasa daerah mulai Sabang sampai Merauke, dan tidak ada yang tidak tersenyum terlebih tertawa terpingkal-pingkal bila Prof Sunarto sudah melakukan stand-up comedy mengunakan logat beberapa daerah di Indonesia.

Di pelbagai kesempatan baik ketika acara resmi dan tidak, beliau selalu menyelipkan joke untuk membuat suasana menjadi lebih santai/tidak seriius. Hal inilah juga yang turut membuat sosok Prof Narto banyak relasi/kolega.

Dengan konsepsi, pandangan dan pengabdian sebagai guru besar yang sudah diteguhkan tentu patut dan layak jadi tauladan, diberikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan menjadi inspirasi generasi yang akan datang.

Tak terasa dalam menuliskan ini air mata pun mengalir. Sekali lagi, selamat jalan Prof Sunarto dan Prof Wahyu Sasongko. Apa yang sudah kalian torehkan akan saya kenang dan akan terus dikembangkan baik di kampus dan di luar kampus.

Terimakasih atas semua Ilmu dan tauladan yang sudah kalian tunjukkan, sembari berkhusuk mengirimkan doa, semoga kalian dihapuskan dosa dan ditempatkan di surga “jannah” oleh Allah SWT. Amien Ya Robbal Alamin…

*Dr. Yusdiyanto,S.H., M.H., dosen Hutum Tata Negara  Fakultas Hukum Universitas Lampung

 

  • Bagikan