Beranda Hukum Selewengkan Pupuk Bersubsidi, Karyawan Kios Tani Makmur Divonis Setahun Penjara

Selewengkan Pupuk Bersubsidi, Karyawan Kios Tani Makmur Divonis Setahun Penjara

1079
BERBAGI

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Ilustrasi vonis hakim

BANDARLAMPUNG – Majelis Hakim yang dipimpin Nelson Panjaitan, memvonis Indra Setiawan (33), terdakwa penyelewengan pupuk bersubsidi, selama satu tahun penjara dalam sidang yang digelar di PN Tanjungkarang, Kamis (30/7). Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 9 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b UU No.31/1999 tentang pemberantasan tipikor.

“Mengadili menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Indra Setiawan selama satu tahun penjara dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” kata Nelson saat membacakan amar putusan.

Selain itu, terdakwa yang merupakan warga Dusun I Wates, Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah tersebut dibebankan membayar denda sebersar Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan. Putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kusnadi yang sebelumnya menuntut terdakwa selama satu tahun dan tiga bulan penjara.

Kemudian sebagai pertanggungjawaban atas kerugian negara, terdakwa juga telah menitipkan uang kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 117.3 juta.

Atas putusan tersebut terdakwa menyatakan terima. Sedangkan JPU pikir-pikir.

Dalam tuntutannya, Jaksa Kusnadi menyebutkan perkara ini bermula ketika Kios Tani Makmur, tempat terdakwa bekerja sebagai pengelola, menjadi salah satu pengecer pupuk bersubsidi yang ditunjuk oleh PT Pusri atas rekomendasi CV Alila Putra Berlian. Pemilik kios ini, JS sendiri masih buron.
“Perkara ini terjadi di tahun 2012 dan 2013. Terdakwa menyalahgunakan pupuk bersubsidi yang seharusnya disalurkan kepada kelompok tani yang berada di bawah naungan Kios Tani Makmur,” kata dia.

Pada tahun 2012, lanjut dia, jumlah kelompok tani (Poktan) tersebut berjumlah delapan kelompok dan bertambah satu kelompok lagi pada tahun 2013. Sehingga menjadi sembilan kelompok tani yang berhak mendapatkan distribusi pupuk urea bersubsidi.

Ikhwal penyelewengan pupuk bersubsidi ini ketika pada Januari 2012, terdakwa melakukan Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) dengan Direktur CV Alila Putra Berlian.

“Terdakwa menandatangani atas nama JS, pemilik kios,” ujarnya.

Alokasi pupuk bersubsidi pada Januari 2012 ini sendiri berjumlah 101 ton. Kemudian pada Januari 2013 berjumlah 88 ton. Terdakwa lalu melakukan penebusan dan CV Alila Putra Berlian ini pun mengirimkan pupuk urea bersubsidi itu ke Kios Tani Makmur.

Namun meski telah dilakukan penebusan dan pupuk pun sudah dikirimkan, Indra tidak memberitahukan kepada para ketua kelompok tani yang berada di bawah naungan Kios Tani Makmur. Ia hanya memberitahukannya kepada satu kelompok tani, Abdi Makmur II. Kelompok ini setiap tahun menebus sebanyak dua kali dengan jumlah dua ton seharga Rp 1900 per kilogram (kg).

“Sehingga, kelompok ini telah melakukan total pembelian sebanyak delapan ton,” terangnya.

Sedangkan sisa pupuk bersubsidi selain yang telah dibeli oleh kelompok tani Abdi Makmur II, telah dijual terdakwa kepada kelompok tani di luar Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK) sebanyak 89 ton pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2013 sebanyak 52 ton.

“Pupuk bersubsidi ini, dijual secara eceran kepada siapa pun yang ingin membelinya. Terdakwa lalu membuat nota tanda terima pendistribusian atas nama kelompok tani Abdi Makmur II yang ditandatanganinya sendiri,” tandasnya.

Loading...