Beranda Views Opini Semangat Kebersamaan, Berat Jadi Ringan

Semangat Kebersamaan, Berat Jadi Ringan

122
BERBAGI

Oleh Isbedy Stiawan ZS
Pengampu Lamban Sastra

Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS di tempat baru, Jl Raden Saleh/Kelapa Warna, Tanjungsenang, Bandarlampung, telah menghelat berbagai kegiatan seni.

Dimulai dengan Politisi Baca Puisi pada 3 Agustus 2019. Sejumlah politisi Lampung lintas partai membaca puisi dengan acara bertema “Membaca Kembali Indonesia” begitu antusias.

Para politisi yang naik panggung di antaranya Erika Novalia Sani, Mufti Salim, Watoni Nurdin, Apriliati, Siti Rahma, Aep Saipudin, Muchlas E Bastati, Rakhmat Husen, Yozi Rizal, Komirudin Imron, Suprapto, dan lain-lain.

Kegiatan Politisi Baca Puisi tersebut sebagai pembuka Lamban Sastra di tempat yang “dipinjamkan” Bachtiar Basri. Kerja awal di bawah kepemimpinan Agusri Junaidi sebagai direktur–Sekretaris Syaiful Irba Tanpaka, Wakil Sek Muhammad Alfariezie– terbilang sukses.

Kesuksesan itu memacu kawan-kawan di Lamban Sastra dengan pembinanya–Bachtiar Basri, Yozi Rizal, dan Entus Alrafi–mengagendakan kegiatan seni berikutnya.

Adalah Pelan Puisi 2019 menjadi di bulan September. Selama 10 hari digelar Panggung Penyair dan Juara Baca Puisi, Musikalisasi Puisi, 3 Penyair 1 Panggung (M. Alfariezie, Agusri Junaidi, Hernan Tori), Nobar Film “Tidurlah Kata-Kata”, Pembacaan Puisi Tunggal “Alamat Rindu Dikituk Rindu” Isbedy Stiawan ZS feat Entus Alrfari (N Gede), Peluncuran dan Diskusi “Legenda Krakatau” karya Syaiful Irba Tanpakan dengan pembahas Anshori Djausal, Jamus Kalimosodo pimpinan Syamsul Arifien. Terakhir mengjadirkan Olivia Zalianty, Bara Pattyradja, Erfin Faz membacakan/memusikkan “Geser Dikit Halaman Hatimu” karya penyair Bara Pattyradja.

Rangkaian kegiatan di panggung seni Lamban Sastra ternyata telah membuka mata masyarakat Lampung dan luar daerah. Menjadi “viral” bahwa ada kantong budaya yang lain, di samping kantong-kantong kesenian yang sudah ada.

Lamban Sastra digerakkan dengan semangat kebersamaan. Sehingga yang berat terasa ringan.

Berbagai helat selama 10 hari itu, tanpa memiliki kas. Kru saling banting isi saku. Tak kecuali. Lalu, mencari/menerima donasi yang kami namai “Sahabat Lamban Sastra”, baik perorangan maupun lembaga.

Alhamdulillah! Apa yang dikerjakan dengan niat memajukan dan menjayakan kesenian di Lampung dapat diterima “Sahabat Lamban Sastra” itu.

Siapa mereka? Mufti Salim, Yozi Rizal, Bachtiar Basri, Eva Dwiyana (Bunda Eva), Muchlas E Bastari, Yuhadi, Tulus Purnomo, Apriliati, Tedy Kurniawan, Thomas Riska, Aep Saipudin, dan lainnya yang tak bisa disebut satu persatu.

Kemudian dukungan dari media massa, seperti Radarcom.id, Medsos.com, Sumatera Post, Onlinekoe, KiwariNews, RMOL, Rilisid Lampung, Inilampung.com, Duajurai.com, Teras Lampung, Seribuberita, dan banyak lagi media di Lampung dan luar yang menyokong setiap acara Lamban Sastra.

Lamban Sastra hadir ketika panggung kesenian di Lampung terasa redup. Pangung seni yang sejatinya dihelat kontinyu oleh lembaga seni pemerintah ataupun swasta, namun terkesan seremoni. Lamban Sastra “mengambil tanggung jawab” itu. Meskipun tanpa anggaran, tiada kucuran dana dari pemerintah.

Inilah semangat yang ditanam di hati para pengelola Lamban Sastra. Ingin berbuat sesuatu yang beda dan bermutu.

Bachtiar Basri, pembina, menyebutkan bahwa yang terpenting adalah mau dan punya kemauan. “Maka apa yang diniatkan akan terwujud,” katanya.

Sementara Yozi Rizal mengatakan, kebersamaan adalah kunci untuk berhasil. Semangat itu harus dirawat. “Soal dana dari suatu kegiatan pasti ada, namun bisa selesai jika dipikirkan bersama-sama,” ujar Yozi di kediamannya.

Para pembina meyakini, eksistensi para pengelola Lamban Sastra dan pengampunya, Isbedy Stiawan ZS. Selain eksistensi juga independensi mereka.

Lamban Sastra harus tetap merawat independensi tersebut. Dengan begitu, berkesenian akan terus ajeg.

Pekan Puisi 2019 tidak lepas dari dukungan banyak orang, termasuk para pengisi acara.

Bara-Olivia-Erfin dari Jakarta tak akan datang ke Lamban Sastra, tanpa mengenal orang-orang di dalam lembaga nonprofit ini. Tetapi, kehadiran ke Lampung tentu mendapat hikmah di baliknya. Mereka diundang bersilaturahmi ke Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad, juga menikmati Pulau Tegal Mas yang eksotik dan puitik. Sebuah pulau di Pesawaran, Lampung, yang dikelola (milik) pengusaha Thomas Riska.

Sungguh! Tidak mengira jika kami disambut sangat terhormat dari Thomas Riska. Kami diantar dari Bukit Mas Sukadanaham untuk menikmati Puncak Mas, sebelum ke Mutun, dermaga menuju Pulau Tegal Mas.

Kapal cepat sudah menanti di dermaga Mutun. Juga sebuah cotage seharga Rp4 juta permalam buat Olivia Zalianty mengganti pakaian, karena ia ingin diving.

Itulah sebuah perjalanan Pekan Puisi 2019, berkesenian di panggung sepenuh jiwa. Jika pun ada kebaikan di terima dari pekerjaan itu, hendaknya disyukuri.

Ke depan, Lamban Sastra akan menggagas pelatihan penulisan fiksi dan nonfiksi, selain lomba baca puisi untuk SLTA dan Perguruan Tinggi. Doa sangat dinanti. Salam.

Loading...