Seminar Anti-ISIS: Mahasiswa Harus Bijak Menyaring Informasi

  • Bagikan

BANDARLAMPUNG, Teraslampug,com– Badan Eksekutif Mahasiswa Univesitas Lampung bekerja sama dengan Kepolisian i Daerah (Polda) Lampung menggelar seminar dan kajian ilmiah bertajuk “Anti-ISIS dan Gerakan Radikalisme” di Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Lampung, Gedongmeneng, Bandarlampung, Sabtu (27/9).

Seminar dengan tema Peran Aktif Mahasiswa dalam Menolak dan Menanggulangi Paham  Radikalisme di Indonesia itu menghadirkan Wakil Kapolda Lampung AKBP Yogi Ginanjar dan akademikus Unila Dr. Hamzah, S.H., M.H. sebagai narasumber. Hadir dalam acara tersebut, antara lain Wakil Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Sunarto D.M. dan Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Drs. Sarkowi.

AKBP Yogi Ginanjar mengatakan, ISIS bukanlah organisasi berbasis agama, tetapi organisasi politik yang mengatasnamakan agama Islam. ISIS mulai terbentuk sejak terjadinya pergulatan di dalam negeri Irak dan Suriah (sekitar tahun 2009) dengan bersatunya kelompok-kelompok pejuang radikal yang bertujuan untuk membentuk negara kesatuan Islam yang kuat. Sedangkan masuknya gerakan radikal/terorisme di Indonesia sudah dimulai sejak awal kemerdekaan dan berkembang pada masa reformasi hingga saat ini.

Menurut Yogi, masuknya ISIS ke Indonesia sangat membahayakan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Makanya, seluruh elemen masyarakat khususnya mahasiswa harus kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh gerakan-gerakan radikal seperti itu. Banyak cara yang diupayakan oleh sekelompok gerakan radikal untuk menarik simpatisan. Misalnya menyebarkan propaganda melalui media sosial dan mengunggah video melui internet,” kata Yogi.

Yogi mengingatkan para mahasiswa agar dapat membentengi dirinya dari informasi-informasi yang didapat. “Sebab, seperti yang kita ketahui, mahasiswa adalah masa pencarian jati diri yang sangat mudah untuk menerima pemahaman-pemahaman baru,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Hamzah S.H,. M.H.dari Fakultas Hukum Unila mengatakan, gerakan radikal ISIS terbentuk karena adanya kesalahan azas yang dianut oleh sekelompok orang.

“Gerakan ini menganggap bahwa merekalah yang paling benar dalam beragama, paling paham agama, dan merasa memiliki otoritas memaksa dan menghakimi orang yang berbeda pemahaman dengan mereka. Sudah sangat jelas bahwa ISIS bukanlah organisasi Islam, karena pada dasarnya Islam adalah agama yang mengayomi semua umat manusia di dunia,sedangkan ISIS menggunakan kekerasan untuk menguasai dunia sangat bertentangan dengan Islam,” kata Hamzah.

Hamzah mengatakan,  gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia dipicu oleh adanya pandangan bahwa Indonesia merupakan negara yang masih dalam proses pembangunan atau pembentukan jati diri yang sempurna. Belum lagi faktor kemiskinan, pendidikan, marjinal, otoritas standar ganda dari maju, dan sebagainya.

“Faktor-faktor tersebut membuat mudahnya gerakan-gerakan tersebut masuk dan memperngaruhi masyarakat Indonesia terpengaruh dan kemudian menjadi simpatisan gerakan-gerakan radikal.
Namun, bukan berarti semua persoalan tidak dapat diatasi,” kata dia.

Menurut Hamzah, banyak yang dapat kita lakukan bersama untuk mencegah masuknya gerakan radikal ke Indonesia. Seperti meningkatkan sikap nasionalisme dan pemahaman agama yang lebih baik. Hal itu harus diimplementsikan melalui perbaikan sistem kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum, dan sebagainya.

“Tak kalah pentingnya adalah membangun jaringan yang kuat pembina perdamaian. Misalnya mengendalikan provokasi dan mencegah keterlibatan dari aksi kekerasan dan intoleransi,” kata Hamzah.

Hamzah mengajak mahasiswa agar bijaksana dalam menyaring informasi yang diperoleh dari internet ataupun media dan tidak mudah dipengaruhi gerakan radikal.

“Karena mahasiswa adalah manusia yang diberi akal untuk berpikir dan memilah informasi yang baik atau buruk,” tandas Hamzah.  (Kominfo BEM Unila)

  • Bagikan