Semua Ada Batasnya…

  • Bagikan
Triyanto Triwikromo
Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo, setelah diwawancarai oleh Wall Street Journal, diberitakan oleh berbagai media, akan menghambat pemerintahan Jokowi. Meskipun adik Prabowo Subianto ini membantah, aneka kritik pada ajakan tersebut terus mengalir. Bahkan PAN tak mau mengikuti. Politikus Tantowi Yahya menyatakan itu bukan suara Koalisi Merah Putih.
Kemunculan kritik itu bukan tanpa sebab. Setelah memenangi berbagai kompetisi politik –yakni pengegolan Undang-Undang tentang MPR, DPD, DPR, dan DPRD, Peraturan Tata Tertib, UU tentang Pemilihan Kepala Daerah, pemilihan pimpinan DPR, dan pemilihan pimpinan MPR, keinginan Hashim ini dianggap sebagai sekadar pemenuhan syahwat kekuasaan. Bukan untuk menyejahterakan rakyat.
Tindakan Hasyim yang terpesona untuk memenangi segala hal dengan segala cara sesungguhnya sangat berbahaya. Memenangi perang, paling tidak menurut ahli strategi perang dari Tiongkok, Sun Tzu, tidak harus menghancurkan seluruhnya. Jika musuh sudah kepepet, justru jangan didesak terus. Dengan semangat berani mati, mereka akan melawan balik. Intinya: beri jalan untuk lari, baru dipukul dari belakang.
Bukan hanya Sun Tzu yang memberi nasihat betapa tindakan apa pun selalu memiliki batas. Mahabharata, paling tidak yang dalam versi India, juga melontarkan pesan: menguasai segala hal tanpa batas justru melahirkan kesia-siaan. Duryudana yang tidak memberi lima desa yang dituntut Pandawa, pada akhirnya justru kehilangan 99 saudara, istana yang indah, kemasyhuran, dan terakhir kematiannya sendiri.
Batas syahwat kekuasaan, dengan demikian, diperlukan, justru untuk meneguhkan kekuasaan yang telah digapai. Jika saja Kurawa tak kemaruk ingin menguasai Drupadi –istri kelima Pandawa—bukan tidak mungkin Drestrarastra (ayah para Kurawa yang hampir mati) memberi hadiah kebebasan kepada Drupadi dan Pandawa. Bahkan Karna, anak Kunti yang jadi musuh Pandawa, balik bersimpati pada Drupadi.
Relevankah memetik pelajaran dari Drupadi? Sangat relevan. Mereka yang bersaing sebagaimana keluarga Bharata, adalah saudara sebangsa. Jika tak ingin salah satu runtuh, jangalnah lagi kompetisi dilakukan tanpa adab. Akan lebih mulia yang kalah memberi kesempatan kepada pemenang. Lebih mulia lagi sang pemenang memberi kesempatan pada yang kalah berkompetisi menyejahterakan rakyat pada lima tahun mendatang. Tanpa kebencian dan kecurangan.
  • Bagikan