Beranda News Obituari Seniman Gitar Tunggal Lampung Cik Din Syahri Singa Melintang Wafat

Seniman Gitar Tunggal Lampung Cik Din Syahri Singa Melintang Wafat

238
BERBAGI
Cik Din Syahri Singa Melintang (Foto: Youtube)

TERASLAMPUNG.COM — Seniman gitar tunggal Lampung yang sangat populer di era 1980-an, Cik Din Syahri Singa Melintang atau Cik Din Syahri SM, meninggal dunia, di rumahnya di Jalan Urip Sumoharjo Bandarlampung, Sabtu petang (9/5/2020).

Kabar meninggalnya seniman Lampung itu diterima teraslampung dari Syafarudin, salah satu pengelola Lampung Heritage Society (LHS), Minggu pagi (10/5/2020_.

“Innalilahi Wainnailaihirojiun. Telah meninggal dunia Cikdin Sahri Singa Melintang, pada hari sabtu sore (9/5/2020) di rumah duka jalan urip soemoharjo no.17 gunung sulah Bandar Lampung, rencana dikebumikan sebelum zuhur hari ini minggu (10/5),” tulis dosen FISIP Unila itu.

Menurut Syafarudin seniman gitar klasik Lampung itu  lahir dan besar di Tulang bawang dan telah menciptakan ratusan lagu Lampung yang pernah dialbumkan dan ditayangkan di televisi.

“Berita tersebut cukup mengagetkan keluarga besar Lampung Heritage Society karena tiga bulan lalu (7/2) aktivis LHS Erizal Barnawi, MSn “tandang mengan” di rumah beliau sambil bicara program mendatang,” tulis Syafarudin.

Admi Syarif, Koordinator LHS, Cik Din Syahri Singa Melintang pada era 1980-an sangat populer.

“Wajahnya selalu tampil di televisi daerah atau nasional terutama menjelang berbuka puasa seperti saat ini. Bebeberapa lagunya seperti Dang Mewang, Nyandang Susah, Makkou Modal, Gabat Gibut dulu sangat terkenal,” kata Admi.

Admi Syarif mengakui Cik Din menjadi kebanggaan Lampung hingga kini. Lirik lagunya sebagian besar bercerita tantang kesedihan kehidupannya.

Lagu Dang Mewang misalnya, liriknya antara lain ‘dang mewang nikue dang miwang, nyak naan mewang munih. Nikeu mewang wat babang, nya mewang sapo nginih. Lirik ini bercerita tentang si aku  (penyanyi) yang meminta pasangannya agar tidak menangis karena jika menangis maka akan membuatnya bersedih.

“Lagu Gabat Gibut bercerita kehidupan pada masa itu (awal 1980-an) tentang celana cutbrai, perempuan-perempuan yang berdandan seperti laki-laki sehingga sering dipanggil om padahal tante,” kata Admi.

Menurut Admi,Cik Din mengabdikan seluruh hidupnya untuk seni dan budaya Lampung.

“Cik Din merupakan seniman yang turut berkontribusi besar mengembangkan seni dan budaya Lampung,” katanya.

Loading...