Beranda Views Kopi Pagi Seniman Menjilat

Seniman Menjilat

258
BERBAGI

Gola Gong 

Di segala bidang, atas nama apa pun, mulai dari pesuruh, guru, aktivis, wartawan, bahkan kiyai atau seniman yang sering kita sebut berhati mulia, dengan alasan untuk makan atau takut miskin, menjual harga dirinya kepada penguasa.

Untuk seniman, seharusnya mereka berkarya. Tapi jika seniman ingin kaya, jualan daging dan beras saja di pasar. Atau ngegosok batu akik. Itu lebih mulia, daripada menjilat seperti anjing.

Sejak saya remaja, banyak penjilat berkedok seniman di sekeliling saya. Setelah saya tua, orang-orang meminta saya agar jadi pandhita, sementara penjilat berkedok seniman masih saja gentayangan. Sejatinya saya ini seniman, hingga akhir hayat, mencoba untuk terus memperbaiki diri. Termasuk untuk tidak jadi penjilat seperti anjing….

Ketika sahabat saya Maya Rani Wulan dan Toto St Radik jadi pejabat di Kadisparsenibud Kota Serang, dengan alasan apa pun, saya tidak akan datang ke kantor mereka, karena saya takut tiba-tiba berubah jadi anjing, menjilati kaki mereka. bahkan untuk alasan perut sekali pun.

Jika kamu seniman dan lapar, berkaryalah, bukan menjilati kaki orang lain atau penguasa.
Di Banten jadi seniman harus teguh. Kadang seniman muda mudah terbujuk rayu. Saya, Maya dan Toto sudah merasakannya. Ketika pemerintahnya korup dan swastanya tidak memihak, itu membuat seniman berdarah-darah. Tapi memang seniman harus begitu.

Saya tahu masih banyak seniman yang berhati mulia. Tapi seniman yang menjilat seperti anjing juga banyak, sehingga iklim berkesenian jadi tidak sehat.

Misalnya, program-program di dinas harusnya transparan, dibuka kepada publik, menunggu proposal ide yang inovatif dan kreatif dari stakeholder, sehingga proporsional dan profesional. Tapi itu tadi, banyak orang berkedok seniman menjilat seperti anjing, sehingga kebudayaan di Banten jalan di tempat. Mereka menganggap program serupa tulang, maka majikan dan anjing berkongsi. Banyak tunas muda mati sebelum berkembang. Hanya yang teguh saja yang mampu bertahan.

Itu sebabnya kami membangun Rumah Dunia, tempat kita bertemu membincangkan kehidupan. Tempat kita berekspresi dengan bebas tapi santun dan tidak diikat oleh kepentingan politik.
Sering orang bertanya kepada saya, apakah seniman tidak boleh berdekatan dengan pemerintah. Tentu boleh. Apalagi amanah. Tapi, kita tentu tahu, penjilat berkedok seniman berkeliaran di sekeliling kita. Rupa dan senyumnya seperti apa, nanti kita akan menemukannya tidak lama lagi.

Ssstt, itukah orangnya?

Loading...