Beranda News Nusantara Tuntut Perda Sewa Anjungan Seni Idrus Tintin Dicabut, Seniman Pekanbaru Unjukrasa

Tuntut Perda Sewa Anjungan Seni Idrus Tintin Dicabut, Seniman Pekanbaru Unjukrasa

1248
BERBAGI
Anjung Seni Idrus Tintin (dok Flickr)




Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Bandarlampung–Pagi ini (13/2) pukul 09.00, pelaku seni
di Pekanbaru turun ke jalan. Mereka menuntut dicabutnya Perda No. 9 Tahun 2013
tentang biaya penggunaan Anjung Seni Idrus Tintin.
Hal itu dibenarkan Fedli Azis, seniman teater
di Pekanbaru, semalam. Dia mengatakan, para seniman di kota itu akan turun
jalan, Kamis (13/2) pukul 09.00. WIB Sejumlah seniman Riau, di antaranya Hang
Kafrawi—adik kanding sastrawan Taufik Ikram Jamil, akan ikut dalam unjuk rasa
tersebut.
Fedli mengatakan, Perda No.9 dianggap
memberatkan bagi pelaku seni di sana. Perda No 9 Thn 2013 ditetapkan 19 Juni
2013 di halaman 20 poin 4 menyatakan tentang penggunaan Anjung Seni Idrus
Tintin dikenai biaya untuk: Umum Rp5 juta, Pelajar/Mahasiswa Rp3,5 juta, dan Seniman
Rp2,5 juta/perkegiatan/hari.
“Ini jelas-jelas memberatkan dan tidak
manusiawi. Pemerintah memalak ,”  tandas Fedli.
Dikatakan Fedli, aksi seniman Pekanbaru dimulai
dari depan Anjung Seni Idrus Tintin menuju DPRD Riau. Rencananya mereka akan
bertemu wakil rakyat, untuk menyatakan keberatan atas lahirnya Perda No. 9
Tahun 2013 tersebut.
Mereka mengkhawatirkan, dimaksud umum
adalah kelaknya Gedung Idrus Tintin bisa digunakan acara pesta perkawinan,
khitanan, dan perpisahan sekolah. Padahal, gedung itu dibangun selain untuk
mengabadikan nama seniman besar Riau, Idrus Tintin, juga menghidupkan
kreativitas pelaku seni di daerah itu.
“Pemerintah
tidak pernah tahu dengan aktivitas seni sehingga sesuka hati buat kebijakan,”
kata pemimpin grup teater Lembayung ini.
Fedli
menambahkan, bisa dibayangkan berapa biaya seniman jika menggunakan gedung itu
sehari Rp2,5 juta plus Rp700 ribu. “Terus kita harus sewa AC dan genset yang
biayanya besar. Untuk AC dan genset 3 hari Rp30 juta. Lalu tiket yang terjual
semuanya untuk Dispar, Dispenda, dan DPRD. Kita yang berkarya dapat apa?”
Idrus Tintin

Idrus
Tintin dkenal sebagai penyair dan teaterwan Riau, kelahiran Rengat 10 November
1932. Idur meninggal dunia  14 Juli 2003
dan dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya
Rengat, Indragiri Hulu.
Pada
tahun 1974 Idrus Tintin menyutradarai teater kolosal di Balai Dang Merdu
Pekanbaru berjudul “Harimau Tingkis”.
Peraih Bintang Budaya Parama Dharma
2011 ini dikenal sebagai pembaharu seni teater Melayu khususnya di Riau. Dalam
berkarya, ia sanggup menjadikan hal-hal yang tragedik menjadi komedik. Gedung
Idrus Tintin dibangun untuk mengenang jasa-jasa kesenimanan Idrus Tintin
mengharumkan Provinsi Riau.
Gedung Idrus Tintin di Jalan
Jenderal Sudirman, bediri amat “sombong” di antara bangunan lain di kawasan
Purna MTQ atau Bandar Serai.
Idrus Tintin tak bisa diabaikan
sebagai pembaharu pertetaeran di Riau. Ia juga dikenal sebagai penyair baik,
aktor kuat, dan pembaca puisi yang piawai.
Berikut beberapa puisi Idrus Tintin:

Krakatau

di sana pulau
di sini pulau
tengah-tengahnya
laut memisah
di sana laut di
sini laut
tengah-tengahnya
gunung yang marah
di sana gunung
di sini gunung
tengah-tengahnya
rumpun sembilu
di sana
Krakatau di sini Krakatau
tengah-tengahnya
berdiri aku
Pemain Gambus
Siapakah kamu
Siapakah kamu
itu
Yang memetik
tali-tali gambus
Seperti
rangkaian manik-manik warna-warni
Selama umurku
ini?
Aku yang
mengaku tak pernah menangis
Aku yang
mengaku tak pandai menangis
Akulah lubuk
air mata
Bila
jari-jarimu memainkan lagu hidup
dengan gambusmu
yang abadi
Jangan biarkan
aku mengaku
orang dari besi
hati dari besi
Suruhlah aku
mengaku kepadamu
bahwa lagumu
telah menyentuhku
Tapi
apakah kamu
siapakah kamu
itu?
Elegi Nelayan Tua
Lelaki tua itu
tersengguk-sengguk di emper gubuk
Bulan layu
rendah di langit
Air mulai surut
dan terlena
digerogoti mimpi
Sebentar lagi
subuh tiba
Inikah impian
penghabisan seorang nelayan
Kaki dan tangan
kaku dibelasah encok
Dada seperti
terbakar batuk batuk batuk
Berteman dengan
bulan dan air surut air pasang
Kokok ayam dan
cicit murai
Menyambut pagi
Yang bukan lagi
miliknya?
Panorama masa
lalu tergambar di layar langit
dengan kail
memancing ikan ikan ikan
sembilang
tenggiri selar dingkis tamban jahan
ikan ikan ikan
pancing bubu
belat kelong jala jaring
Selamat
tinggal?
Encok yang
datang marilah kamu
Batuk yang
masuk teruskan jalanmu
ikan-ikan masa
lalu
ikan-ikanku
besok
Dan pertarungan
akan berlanjut
terus!
Burung Waktu
Burung waktu
Terbang dari
tempat gelap
Awal penciptaan
dunia
Muncullah pagi
pertama
Tenun bersilang
lintang dua belas warna pelangi
Dan
bunga-bunga, batu, hutan,
Pulau dan air
Siul kicaumu
Nyanyian yang
kau bawa
Terbang
menyeberangi lautan
Melintasi abad
demi abad
Laju menuju
Masa depan
Yang masih
tebal diselimuti kabut
Harapan dan
ketakutan
Burung waktu
Setiap kali kau
mencicit
Sembil
memandang ke bawah
Terbang tanpa
henti
Memasuki malam
Keluar siang
Terus menerus
Tak terhitung
oleh alat dan ilmu hitung
Bawalah aku
Terbang
bersamamu
Menyeberangi
lautan
Melintasi abad
demi abad
Laju menuju
Masa depan
Harapan tanpa
ketakutan
Akhir Kata
Pada mulanya
ialah bunyi
lalu tercipta
kata pertama
untuk
menyatakan terima kasih
dari hati yang
putih tak tercela
Setelah itu
seperti benih
tumbuhkan tunas
bunga-bunga dan
buahnya lebat sarat
itulah kosa
kata bahasa manusia
dan dengan itu
semua
kulahirkan
puisi
kisah
pengkhianatanku kepadamu
dendang tentang
cinta kita
mabuk seribu
malam
dan doa-doa
yang membumbung
terbang ke langit
seperti
burung-burung putih kecil-kecil
coba menggapai
singgasanamu
Pada mulanya
ialah bunyi
dan akhirnya
tak lain sunyi

Loading...