Beranda News Liputan Khusus Senja Kala Kerajinan Gerabah di Umbul Gentong

Senja Kala Kerajinan Gerabah di Umbul Gentong

476
BERBAGI
Boinem (52) menjemur piringan dari tanah liat (penggorengan kopi).
Boinem (52) menjemur piringan dari tanah liat (penggorengan kopi).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Cerita indah sebagai daerah produsen kerajinan gerabah dari tanah liat pernah melekat pada Dusun Jogja, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Sebagai daerah yang banyak dihuni para pengrajin gerabah dari Pulau Jawa, Dusun Jogja sempat kesohor dengan sebutan “Umbul Gentong”.

Nama sebuah Dusun atau Kampung yang dikenal dengan sebutan “Umbul Gentong” ini, disematkan oleh masyarakat Kecamatan Sidomulyo dan Kabupaten Lampung Selatan khususnya, lantaran di tempat itulah satu-satunya tempat sentra pengrajin pembuat gerabah aneka jenis gentong, anglo, penggorengan kopi, cobek serta peralatan rumah tangga lainnya yang terbuat dari tanah liat.

Namun, masa kejayaan Umbul Gentong kini hanya tinggal cerita dan kenangan. Kisah dusun sentra kerajinan gerabah yang sempat kesohor di era tahun 1970-an itu sudah mulai memudar tergerus zaman dan nyaris punah. Era plastik dan logam serta zaman modern menggerus semuanya. Serbuan perkakas atau peralatan dapur rumah tangga bahan plastik dan logam, menjadikan perkakas berbahan tanah liat atau gerabah ini makin terpinggirkan. Selain itu juga, karena kurangnya dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat.

Hasil penelusuran teraslampung.com di Dusun Jogja atau yang dikenal dengan sebutan “Umbul Gentong” ini, dari 20 kepala keluarga (KK) yang tadinya menggeluti usaha sebagai pengrajin gerabah, kini hanya tersisa dengan hitungan jari saja yakni sekitar 4-5 kepala keluarga saja yang masih aktif mengolah tanah liat menjadi barang yang laik jual di pasaran.

Salah satu pengrajin gerabah yang masih menggeluti tanah liat untuk dijadikan gerabah itu adalah Suradi. Pria berusia 62 tahun ini menuturkan, sampai saat ini dirinya masih tetap memproduksi kerajinan gerabah. Meskipun jumlah dan jenis yang dibuatnya, tidak lagi beragam seperti beberapa tahun-tahun sebelumnya.

“Kerajinan gerabah ini masih saya tekuni karena salah satu sumber penghidupan keluarga saya, ya mesti harus belepotan dengan lumpur,”ujarnya kepada teraslampung.com, Senin (5/8/2019).

Suradi pun mengungkapkan mengenai kegelisahannya akan terkikisnya kerajinan gerabah di Dusun Jogja tempatnya tinggal, yang sempat kesohor dengan sebutan “Umbul Gentong” bahkan sampai sekarang sebutan itu tetap melekat ditelinga semua masyarakat di Kecamatan Sidomulyo serta di beberapa Kecamatan lainnya di Kabupaten Lampung Selatan.

Istri mbah Suradi saat membentuk piringan dari tanah liat (cobek).

“Nama Umbul Gentong karena di daerah tempat tinggalnya dahulu yang merupakan sebagai sentra pengrajin gerabah. Tapi para pengrajin gerabah di Umbul Gentong ini  sudah mulai tergerus zaman dan nyaris punah,”ungkapnya.

Menurutnya, saat ini para generasi muda di Umbul Gentong, sudah tidak lagi cenderung menggeluti usaha gerabah. Mereka lebih memilih merantau dan bekerja di pabrik-pabrik, maupun di perusahan di Pulau jawa. Tidak hanya itu saja, para orang tua yang dulunya sebagai pengrajin gerabah, selain tidak produktif lagi karena faktor usia, banyak yang sudah tiada (meninggal) serta tidak memiliki modal untuk melanjutkan usaha gerabah tersebut.

“Tidak ada generasi lagi yang melanjutkan kerajian membuat gerabah ini, sekarang ini hanya tinggal beberapa orang saja yang masih aktif membuatnya,”ucapnya.

Hal lainnya, kata Mbah Suradi sapaan akrabnya, karena perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin gerabah. Karena saat ini, masyarakat lebih banyak menggunakan peralatan rumah tangga bukan dari tanah liat seperti dulu melainkan dari bahan plastik, kaca dan alumunium.

“Kalau saya sendiri, sekarang ini hanya membuat gerabah dari tanah liat seperti penggorengan kopi, pot kembang, piringan kecil (layah) dan tungku (anglo). Itupun dibuatnya, kalau ada pesanan saja,”terangnya.

Boinem (52), warga Umbul Gentong lainnya, hingga kini masih setia menekuni kerajinan gerabah. Sudah puluhan tahun ia menekuni usaha membuat perabotan gerabah dari tanah liat. Sampai kini ia masih cekatan memainkan jemari tangannya membentuk piringan dari tanah liat (cobek) diatas alat putar sederhana yang terbuat dari papan kayu berbentuk bulat yang ada didepannya.

Tangan ibu ini, begitu cepat dan terlatih menggunakan alat sederhana yang dibuatnya sendiri untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai bentuk barang perabot rumah tangga. Seperti gentong, kendi, cobek, anglo dan perabot rumah tangga lainnya dari tanah liat.

“Keahlian yang saya miliki ini, didapat dari mertua saya yang merupakan salah satu perintis pengrajin gerabah di Dusun Jogja yang saat ini disebut dengan nama Umbul Gentong,”ucapnya.

Taat Budi Riyanto (44) menunjukkan berbagai jenias kerajinan gerabah dari tanah liat hasil karyanya sendiri.

Boinem mengutarakan, sekitar 20-an silam yakni di era tahun 1970 hingga 1990, setidaknya ada 20 Kepala Keluarga (KK) yang menekuni sebagai pengrajin gerabah. Bahkan perabotan gerabah seperti gentong, kendi, cuak, anglo, celengan dan peralatan perabotan dari tanah liat asal Umbul Gentong, sangat terkenal baik di Kecamatan Sidomulyo dan beberapa daerah Kecamatan lainnya di Kabupaten Lampung Selatan.

Saat ini, kata Boinem, hanya 4 hingga 5 kepala keluarga saja yang masih menekuni usaha membuat gerabah dari tanah liat ini. Itupun dilakukan, dari genersi awal dan kedua saja yang masih menekuni dan nyaris tidak ada lagi sebagai generasi penerus dari usaha pengrajin gerabah tersebut. Karena sebagian anak-anak dari pengrajin ini sendiri, justru memilih menekuni bidang pekerjaan lainnya.

“Ya kalau sekarang ini, hanya tinggal 4-5 kepala keluarga saja yang masih membuat perabot gerabah dan tidak ada lagi penerusnya. Belum lagi setelah orang tua yang jadi pengrajin gerabah meninggal, anaknya tidak lagi melanjutkan usaha peninggalan dari orangtuanya itu,”ungkapnya.

Dikatakannya, pangsa pasar produk-produk gerabah saat ini memang sangat mempengaruhi minat para perajin, terutama dalam rentan waktu 15 tahun belakangan ini.

“Kondisi itulah yang menimbulkan anggapan generasi muda, kalau usaha kerajinan gerabah kurang menjamin masa depan dari mereka,”bebernya.

Generasi awal para pengrajin gerabah di Umbul Gentong ini, lanjut dia, merupakan transmigrasi asal Pulau Jawa yakni dari daerah Jogyakarta, Jawa Tengah. Sementara dia sendiri dan juga mertuanya, berasal dari daerah Bantul, Jogjakarta.

“Kalau saat itu, usaha pengrajin gerabah tumbuh subur dan berkembang. Seiring berjalannya waktu dan zaman, usaha pengrajin gerabah di Umbul Gentong terus menurun. Saat ini ketenaran nama Umbul Gentong sebagai satu-satunya sentra pengrajin gerabah tidak hanya di Kecamatan Sidomulyo tapi juga di Lampung Selatan akhirnya memudar,”terangnya.

Aneka gerabah berbentuk hiasan.

Hal senada juga dikatakan oleh pengrajin gerabah lainnya, Taat Budi Riyanto (44) atau yang akrab disapa Taat ini, tanpa adanya dukungan dan bantuan dari pemerintah daerah Lampung Selatan, tentunya akan sangat sulit bagi kami khususnya para pengrajin gerabah bisa bertahan dan tetap melestarikan warisan budaya ini apalagi berkembang.

Pemkab Lampung Selatan, kata bapak dua anak yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, semestinya dapat membantu mengembangkan kerajinan gerabah di Dusun kami (Umbul Gentong) ini, yakni dengan cara mempromosikan produk-produk kerajinan gerabah melalui pameran-pameran pembangunan.

“Kalau ada dukungan, pastinya kita bisa mengembangkan kerajinan gerabah dengan kreativitas yang lebih maju. Yakni dengan memasukkan unsur budaya lokal, dalam setiap hasil kerajinan gerabah. Maka hasil kerajinan yang didapat, memiliki nilai pembeda dan dapat lebih menjual lagi,”ungkapnya.

Taat mengatakan, menekuni usaha kerajinan gerabah ini sudah sekitar 15 tahun dan pastinya dari orangtua. Awalnya memang sekedar hobi, lama-kelamaan digeluti dan akhirnya ingin dikembangkan, diberdayakan dan dikenalkan tentang kerajinan gerabah ini. Selama menekuni kerajinan gerabah, hambatan dan kendalanya banyak. Yang jelas, tujuan utamanya ingin melestarikan kerajinan khas budaya Indonesia.

“Kalau untuk pengembangannya, orang Jawa bilang ya diuri-uri (dipelihara). Harapannya, kerajinan gerabah ini terus dipelihara, dilestarikan, dan dikenalkan, jangan sampai dimatikan. Apalagi sekarang ini zamannya milenial, mayoritas larinya yang instan-instan saja,”ujarnya.

Selain membuat aneka macam kerajinan gerabah, ia juga membuat kerajinan Tuping (topeng) 12 karakter khas adat Lampung yang ia buat dari bahan baku tanah liat. Karena topeng ini juga warisan budaya, sehinga laik dan harus terus dilestarikan.

“Saya mencoba buat topeng 12 karakter khas adat lampung ini, sebagai bahan pembelajaran dan edukasi. Menurut saya, topeng ini memiliki nilai historis tersendiri,”ucapnya sembari memoles kerajinan topeng dari tanah liat.

Taat mengutarakan, mengenai proses pembuatan gerabah ini sendiri, tergantung dengan keadaan cuaca. Karena ada tahap-tahapannya, yakni didasari (Njubung), lalu dibentuk dan menyelesaikan tahap akhir. Seperti halnya membuat guci, gentong, jambangan phas bunga. Membuat gerabah seperti ini, memang berbeda dengan membuat gerabah seperti berbentuk binatang.

“Setelah gerabah dibuat, baru dijemur dan proses penjemurannya tergantung keadaan cuaca juga. Kalau cuacanya cerah, memakan waktu satu hingga dua hari sudah kering dan siap untuk dilakukan pembakaran atau oven. Tapi untuk proses pembakarannya, saya masih menggunakan cara manual karena belum memiliki alat ovennya,”tuturnya.

Hiasan gerabah produksi warga Umbul Gentong.

Selain keterbatasan alat oven, ia juga masih menggunakan cara manual untuk mengaduk tanah liat yang akan dijadikan untuk membuat gerabah, yakni dengan cara menginjak-injak tanah liat tersebut.

“Mengenai kualitas, baiknya menggunakan alat penggilingan atau yang disebut malai,”ungkapnya.

Sementara untuk proses pembakaran gerabah, kata Taat, memakan waktu selama empat jam. Tidak hanya itu saja, proses pembakarannya pun berbeda dengan pengrajin genteng atau batu bata. Kalau gerabah, apinya intir-intir (apinya diluar) tidak dimasukkan ke tempat pembakaran. Jadi yang diambil hawa asapnya, fungsi dari asapnya ini dapat mengurangi kadar air yang ada di gerabah. Baru Setelah itu, apinya dibesarkan kurang lebih selama delapan jam.

“Prosesnya memakan waktu selama 12 jam atau 120 derajat Celcius. Lalu ditutup dengan jerami. Setelah proses ini selesai, baru keesokan harinya gerabah tadi diambil lalu dipilah-pilah yang nantinya akan dilakukan proses akhir atau finishing,”terangnya.

Menurutnya, bahan baku tanah liat di Desa Sidorejo ini sendiri, masih sangat banyak dan sistemnya memang harus kawin silang tidak hanya satu atau dua warna tanah liat saja. Karena setiap daerah struktur tanahnya berbeda, ada kadar kaulinnya tinggi ada juga yang tidak.

“Jadi tidak hanya satu jenis tanah liat saja, tapi ada tiga jenis tanah liat lalu dicampur dengan pasir dan perbandingannya 3 banding 1. Mungkin untuk pengrajin gerabah lainnya, belum mengetahui secara rinci cara proses pengolahannya,”ujarnya.

Diakuinya, gerabah yang dibuat para pengrajin di wilayahnya, memang masih monoton dan itu-itu saja sebatas untuk kebutuhan rumah tangga seperti cobek, anglo, penggorengan kopi dan lainnya. Sementara untuk menyiasati dan menarik minat pembeli dari kerajinan gerabah ini, yakni mengikuti arah pangsa pasar. Semisal saja kerajinan gerabah yang masih tren saat ini, baik itu mengenai motif dan finisingnya.

“Ya sekarang ini kan ada kerajinan gerabah yang menggunakan sistem tempel, seperti batok kelapa ditempel di gerabah, lalu kaca dan lainnya. Dan ini yang biasa digunakan untuk interior. Kalau untuk eksterior, ya seperti jambangan, gentong, air mancur, dan lainnya. Jadi harus bisa menyiasatinya dan pandai-pandainya kita saja untuk membuat pola motif gerabah itu sendiri,”pungkasnya.

Loading...