Beranda News Budaya Sensibilitas Baru Penyair Muda (3)

Sensibilitas Baru Penyair Muda (3)

206
BERBAGI

Oleh Faruk H.T.*

Puisi kedua cenderung melihat perbedaan dan keterpisahan yang jelas pula antara masa lalu dengan masa kini. Hanya saja, puisi ini menempatkan penyair tidak sekedar sebagai saksi, melainkan sebagai manusia yang secara personal terkena dampak dari pemisahan dan perubahan dari masa lalu ke masa kini itu sehingga ia merasa seperti tertusuk runcing ujung sunyi.

Dengan posisi yang demikian, pergulatan puisi ini lebih pada usaha untuk mengungkapkan perasaan daripada menggambarkan kenyataan objektif dari kehidupan kota yang sudah tanpa masa lalu di atas. Seperti yang secara menyolok terlihat di dalam baris kedua dari kutipan di atas, hal-hal yang objektif seperti manisnya teh gula debu, angkringan, dan ketipak kuda andong disampaikan dalam konteks perasaan subjektif penyair atau “aku lirik”, dalam konteks usaha untuk mengatasi kesunyian yang dialaminya dan ingin dikomunikasikannya.

Puisi ketiga, seperti sudah dikemukakan, memiliki pandangan yang sudah samar dan membingungkan mengenai masa lalu dan bahkan perbedaannya dari masa kini. Keterlibatan aku lirik atau penyair dalam kebingungan itu membuat puisi seakan ditulis dengan cara berpikir dan berbicara orang yang mabuk, yang tidak lagi bisa membedakan yang nyata dari yang ilusi, yang hidup mengambang dalam bayang-bayang. Dari segi personalitas pengalamannya puisi ini dekat dengan puisi kedua sehingga mengandung ungkapan-ungkapan yang liris, suasana hati. Akan tetapi, dari segi cara pandangnya terhadap masa lalu dan masa kini, puisi ketiga ini terpisah atau berbeda secara menyolok dari dua puisi yang lain.

Perhatikan kembali kutipan pertama dari puisi ketiga ini:

“Di mana rumahmu? tempat tubuhku mengembalikan kampung
dalam ingatan pantun, syair, macapat,atau kidung
aku milik masa lalu; sebuah nostalgia tak sembuh
yang tenggelam di laut kota itu”

yang pertama perlu diperhatikan adalah bangunan dan ketidakutuhan kesatuan imaji dalam kutipan tersebut. Rumah tempat mengembalikan kampung. Imaji ini sangat tidak proporsional, sulit untuk dibayangkan. Bagaimana mungkin kampung bisa masuk ke dalam rumah. Bukankah kampung lebih besar daripada rumah? Tubuh mengembalikan kampung juga tidak bisa dibayangkan. Yang bisa dibayangkan adalah tangan mengembalikan kampung, bukan tubuh.

Sulit pula membayangkan pantun, syair, macapat, atau kidung mempunyai ingatan, melakukan aktivitas mengingat. Yang mungkin adalah dalam rekaman atau yang tersimpan di dalam bentuk-bentuk kesenian tersebut. Juga sulit membayangkan aku milik masa lalu. Bisakah masa lalu memiliki aku? Yang biasanya digunakan dan terbayangkan adalah masa lalu milikku, aku memiliki masa lalu. Nostalgia tak sembuh, nostalgia tenggelam, juga tidak bisa membangun gambaran angan. Belum lagi hubungan antara rumah, tubuh, kampung, dan laut.

Dua baris pertama dari kutipan puisi yang keempat menambah tajam gambaran mengenai ketidakproporsionalan itu. Hal-hal yang tidak sejajar dan sebanding tiba-tiba disejajarkan dan disebandingkan: diriku dikuasai kota, senja, dan beberapa ingatan. Kota adalah keseluruhan ruang, sedangkan senja hanya bagian dari waktu. Kota dan senja merupakan sesuatu yang tidak terbagi-bagi, sedangkan ingatan terbagi-bagi. Begitu juga penyejajaran antara toilet umum dengan bis kota. Lalu, bagaimana pula dengan aku di dalam segelas bir dikuasai kota.

Semuanya tampak tidak proporsional: yang kecil menampung yang besar, yang pasif menjadi aktif, subjek menjadi objek, nostalgia dalam lautan kota, diri, kota, senja, dan beberapa ingatan, ada di dalam segelas bir, yang kesemuanya menawarkan sebuah cara pandang baru terhadap kenyataan. Masa lalu dan masa kini bukan lagi dua hal yang dapat dipisahkan dengan mudah. Begitu juga segala macam kategori mengenai kehidupan seperti kota dengan senja, toilet dengan bis kota.  Dalam konteks kehidupan yang bergerak dengan cepat, seperti di dalam bis yang melaju dengan kecepatan penuh, semua hal tak lagi dapat dikenali secara mendalam. Yang tertangkap hanya kesan-kesan permukaan. Begitu juga kehidupan di sebuah toilet umum yang ramai, berdesakan, orang datang silih berganti, berada di tempat yang sama, tetapi tidak saling mengenal.

Semuanya berubah menjadi serangkaian citra kosong, serangkaian bentuk tanpa isi. Medium adalah pesan itu sendiri. Seperti keempat puisi yang dikemukakan di atas, semuanya sebenarnya bicara mengenai persoalan atau isi atau substansi yang sama. Hanya bentuknya yang berbeda. Dari segi isi tidak ada yang istimewa pada puisi yang ketiga dan keempat. Namun, bentuknya yang “kacau” telah menjadi isi atau pesan itu sendiri.

Kenyataan demikian tidak dengan sendirinya puisi-puisi bentuk baru seperti yang diwakili oleh puisi yang ketiga dan keempat tersebut dapat dibuat dengan semaunya. Pertama, tidaklah mudah bagi seorang pengguna bahasa untuk bisa keluar dari sistem klasifikasi dan relasi kebahasaan yang sudah hegemonik, dari keteraturan yang dapat menimbulkan suasana yang chaostik, yang membuka jalan bagi kemungkinan sistem klasifikasi dan relasi yang baru.

* Faruk Tripoli adalah nama Prof. Dr. Faruk H.T, S.U.  di dunia maya.  Prof. Faruk adalah Guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM dan  Kepala Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasomentri (PKKH) UGM

Loading...