Beranda News Budaya Sensibilitas Baru Penyair Muda (4)

Sensibilitas Baru Penyair Muda (4)

249
BERBAGI

Oleh Faruk H.T.*

Puisi kedua sebenarnya mengandung persoalan yang juga terdapat dalam puisi keempat, misalnya persoalan hilangnya komunikasi antarmanusia, sulitnya mengungkapkan kedalaman yang mendesak di dada. Namun, puisi itu dikatakan dengan menggunakan sistem klasifikasi dan relasi yang koheren dari sudut pandang aturan kebahasaan dan pencitraan yang hegemonik. Kedua, karena materi kebahasaan yang digunakan untuk mengungkapkan situasi chaostik itu adalah materi kebahasaan yang hegemonik itu sendiri, tantangan bagi penyair bentuk puisi ketiga dan keempat, yang katakanlah puisi anak muda sekarang, adalah kemampuan menciptakan efek kekacauan dengan penyejajaran kosa-kosa kata dan relasi-relasi yang menurut sistem klasifikasi dan relasi bahasa yang hegemonik sangat janggal, sangat tidak mungkin disejajarkan. Pemilihan kata yang demikian pun tidaklah mudah untuk dilakukan.

***

Seperti sudah dikemukakan, hanya satu penyair yang lahir tahun 1950an, sedangkan yang lainnya lahir pada tahun 1980an dan bahkan 1990an. Mereka ini adalah generasi yang lahir dalam masa puncak Orde Baru yang di dalamnya apa yang oleh Appadurai disebut sebagai arus-arus manusia dan kebudayaan global beredar dengan intensitas dan ekstensitas yang tinggi, misalnya yang berupa bermunculannya stasiun-stasiun televise baru yang membuat televise pemerintah yang sebelumnya memegang monopoli menjadi dengan segera terdesak, bahkan hingga sekarang. Arus benda-benda, manusia-manusia, alat-alat, dan bahkan ideology-ideologi global juga mengalir dengan deras dan meluas ke seluruh pelosok Indonesia.

Masyarakat Indonesia di tahun 198-0an adalah masyarakat yang sedang mengalami proses perubahan yang sangat cepat, yang menyerupai bis yang melaju dengan kencang, masyarakat yang dimeriahkan oleh aneka barang, manusia, dan gagasan seperti situasi di toiliet umum, masyarakat yang menyaksikan dan sekaligus terlibat dalam terbentuknya pusat-pusat pemukiman dan kota-kota yang baru, pemekaran berbagai kabupaten menjadi propinsi, dan sebagainya.

Dalam keadaan yang demikian, tidaklah akan mengherankan jika terjadi perubahan dalam cara pandang dan cara mengalami kehidupan, munculnya sensibilitas baru dan dengan demikian juga usaha-usaha memberi makna baru pada hal-hal yang ada atau memberi bentuk baru pada makna-makna yang tidak ada sebelumnya. Salah satu bangunan bentuk dan makna yang terpenting, yang penyebaran paling luas dan intensitas penanamannya paling dalam adalah bahasa sehingga terjadi pula usaha-usaha untuk membangun sebuah tatanan kebahasaan yang baru, baik dari segi bentuk maupun maknanya. Mari kita perhatikan dengan cermat puisi pemenang lomba yang sekaligus menjadi puisi yang pertama di dalam kumpulan ini.

TELEMBUK


(tentang seseorang yang aku lupa namanya)

malam sudah lama menelanku
lidah-lidah menjulur dari masa lalu
menjilati buah dadaku yang hijau
dan getah tubuhku.
o, musim yang patah di dahan pohonan
musim tumbuh di kuncup daunan
“mak, lihat tubuhku
banyak laki-laki ingin mengunyahnya.
apakah bulan ini musim mangga, mak?
bukankah mangga kita yang terbaik?”

malam sudah lama menelanku
mulutnya yang kotor dan gelap itu
melumat rahimku
anak-anakku menjerit dari masa lalu
sementara bapak dan emakku sudah lama tidur
di ranjang yang pernah basah oleh ciuman.
pernah juga Tuhan mampir di rahimku
lalu pergi bersama laki-laki yang meludahi kemaluanku.
sejak itu malam lebih banyak menutup telinga
orang-orang menutup pintu dan jendela.

“mak, apakah bulan ini musim mangga?
mereka akan kembali mengirimkanku ke Jakarta.”

Puisi ini sebenarnya bicara tentang persoalan yang bias dikatakan sudah sejak lama dan bahkan terus-menerus dibicarakan, yaitu pelacur. Jalan ceritanya juga sudah sangat streotipikal, yaitu perempuan desa yang dieksploitasi menjadi pelacur di kota. Yang baru bias dikatakan hanya cara menceritakannya, cara mengungkapkannya, bahasanya. Puisi penuh dengan semacam metafora yang tidak lazim digunakan dalam puisi-puisi sebelumnya seperti malam menelanku, lidah-lidah masa lalu yang menjilat, buah dadaku yang hijau, getah tubuhku, musim yang patah di dahan pohon, musim yang tumbuh di kuncup daun, laki-laki mengunyahku, malam melumat rahimku, anak-anak menjerit dari masa lalu, tuhan mampir di rahimku, tuhan pergi bersama laki-laki yang meludahi kemaluanku, malam menutup telinga.

Malam biasanya digunakan untuk menggambarkan latar atau suasana yang statis, pasif. Kalaupun ia menjadi symbol, ia digunakan sebagai symbol dari keadaan yang statis. Di dalam puisi ini yang statis itu justru digambarkan sebagai sesuatu yang sangat aktif. Di sini kita menyaksikan bagaimana system klasifikasi bahasa dan bahkan sastra sebelumnya diubah dengan menjadikan objek menjadi subjek, yang statis menjadi dinamis, yang pasif menjadi sangat aktif. Kata benda berubah menjadi kata kerja.

Keadaaan dipersonifikasi dengan cara yang bias dikatakan ekstrem. Keaktifan malam itu menjadi terkesan tambah kuat ketika gerakannya menjadi transitif, mengarah pada objek yang kecil dan konkret seperti yang terjadi pada kasus puisi sebelumnya yang di dalamnya hubungan antara dua hal dibangun secara sangat tidak proporsional: rumah menjadi tempat bagi kampong, malam menjilati rahim. Hal yang serupa berlaku juga bagi masa lalu yang digambarkan menjulurkan lidah dan menjilati buah dada.

Buah dada sudah biasa diibaratkan sebagai buah karena bahasa sendiri sudah mengibaratkannya demikian. Akan tetapi, perbandingan itu tidak pernah diberlakukan bagi warnanya, melainkan hanya pada tingkat kematangannya. Buah dada yang ranum, misalnya. Kecenderungan demikian didukung oleh adanya persamaan antara manusia dengan pohon, yaitu sama-sama bias tumbuh dan berkembang, dari muda, mentah, menjadi matang, ranum. Dalam hal ini penempatan buah pohon dan buah dada dalam satu klasifikasi masih dengan relative mudah diterima karena sama-sama sebagai sesuatu yang tumbuh.

Halnya berbeda dari perbandingan buah dada dan buah pohon dari segi warnanya. Hal ini sangat tidak lazim dan sulit untuk mencari dasar bagi pengelompokkan yang demikian. Buah dada tidak pernah memperlihatkan perubahan warna yang menyolok yang terkait dengan tingkat pertumbuhannya. Hanya buah pohon yang mengalami hal serupa itu. Karena itu, sangat sulit menjadikan keduanya sebanding dari segi warna, perbandingan itu bias dianggap sebagai anomi dari segi system klasifikasi bahasa maupun kenyataan. Bahwa hijau berarti masih mentah, masih muda, dengan mudah dapat dipahami. Namun, sangat sulit menerima buah dada perempuan muda berwarna hijau.

Musim yang patah dan musim yang tumbuh juga merupakan perbandingan yang sangat radikal melepaskan diri dari system klasifikasi yang lazim. Perbandingan musim dengan benda keras seperti ranting sangat sulit dibayangkan. Musim memang selalu mengalami perubahan, tetapi perubahannya selalu dibayangkan sebagai perubahan yang perlahan-lahan, tidak drastic. Kalau musim bias patah, maka yang terjadi adalah anomaly, terjadinya perubahan dalam hokum alam. Yang juga penting adalah gambaran bahwa musim itu patah di dahan pohonan, bukan musim itu patah seperti dahan. Yang dilakukan oleh puisi ini tidak sekedar membandingkan secara metaforik musim dengan dahan, melainkan juga menyatukan keduanya secara metonimik. Musim dan dahan menjadi sebuah kesatuan sehingga ketika yang satu patah, yang lainnya juga patah. Kesatuannya bukan lagi sekedar kesatuan makna, isi, ide, melainkan kesatuan ragawi. Begitu juga dengan musim yang tumbuh di kuncup daunan.

Kalaupun ada dasar bagi kesatuan itu, dasar itu bukan dasar kesamaan bentuk atau makna, tapi kesatuan bentuk dengan makna yang didasarkan pada keserempakan waktu. Dahan yang patah menjadi penanda bagi musim panas yang gersang, daun yang kuncup menjadi tanda bagi musim hujan yang basah. Atau dahan dan daun itu sekaligus menunjuk kepada metafora yang sudah ada sebelumnya, yang mengibaratkan fase pertumbuhan pohon dengan fase perubahan musim seperti musim gugur, musim semi, musim paceklik, musim panen, dan sebagainya. Dalam hal ini daun yang kuncup menjadi penanda dari musim panen, sedangkan dahan yang patah sebagai musim paceklik, saat pohon gagal untuk berbuah.

Bila demikian halnya, puisi di atas memperlihatkan fenomena metonimi yang kuat, yang mengisyaratkan semakin kuatnya persepsi ragawi dibandingkan dengan konsepsi yang bersifat maknawi. Metonimi ini merupakan salah satu pola bahasa baru yang sesuai dengan gejala perubahan kota dan kebudayaan yang semakin bersifat citraan tanpa isi, penanda tanpa petanda, sebagai akibat semakin cepat gerak kehidupan dan semakin semaraknya cahaya kehidupan seperti suasana toilet umum dan bis kota yang sudah dikemukakan.

Gejala seperti di atas bertebaran di dalam kumpulan puisi ini. Meskipun demikian, tidak sedikit di antaranya yang sesungguhnya masih terbelenggu oleh hegemoni tatanan kebahasaan dan kesastraan yang ada sebelumnya. Kebanyakan di antaranya menampilkan percampuran yang tidak koheren antara cara pengungkapan lama dengan yang baru. Atau, banyak juga yang membentuk ungkapan-ungkapan yang chaostik dalam pengertian yang sebenarnya, yang sulit ditemukan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

Puisi yang judulnya menjadi judul kumpulan ini pun tidak terlalu berhasil dalam kesatuan keseluruhan unsurnya. Panjang puisi lebih terbangun oleh pengulangan-pengulangan daripada terbangun oleh satu cara berpikir yang tertentu, sealternatif apa pun. Kata-kata bertebaran begitu saja tanpa memperlihatkan kemungkinan terbentuknya satu penalaran. Chaos, bagaimanapun, adalah satu cara berpikir, sebuah cara pandang yang sistematik, bukan sekedar serangkaian ungkapan yang lepas-lepas.

* Faruk Tripoli adalah nama Prof. Dr. Faruk H.T, S.U.  di dunia maya.  Prof. Faruk adalah Guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM dan  Kepala Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasomentri (PKKH) UGM

Loading...