Sentra Keripik Bandarlampung: Ketika Maryam Menjadi Mery

  • Bagikan
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Selalu ada jalan bagi orang yang mau bekerja keras. Itulah yang dialami Maryam, 49, seorang ibu rumah tangga yang sejak delapan tahun terakhir dikenal luas oleh masyarakat di Bandarlampung.

Maryam, yang kini populer dengan nama Ibu Mery, adalah perintis usaha keripik pisang dan keripik singkong. Berkat usaha kerasnya, bukan hanya keluarga dan 7 karyawannya yang bisa mendapatkan keuntungan.

Puluhan warga di Kelurahan Segalamider, Bandarlampung kini
juga mendapatkan limpahan rezeki. Puluhan warga di kelurahan itu kini juga mengikuti jejak Maryam sebagai pengusaha keripik pisang. Pinggir kiri-kanan jalan di sepanjang Jl Pagar Alam Gang PU Bandarlampung pun kini terkenal sebagai Sentra Keripik Bandarlampung. Alhasil, pusat kuliner baru pun berkembang berkat rintisan tangan terampil dan kemauan keras Bu Maryam,

Pemilik Kios “Istana Keripik Ibu Mery” itu mengaku, dia merintis usaha keripik pisang dan keripik singkong tujuh tahun lalu.

Awalnya, Maryam harus “hunting” untuk mencari pisang dan singkong untuk bahan keripiknya. Namun, setelah produksinya meningkat, tiap minggu para pedagang pisang dan singkong datang sendiri ke rumah Maryam dengan truk.

Setelah usahanya berkembang, tak hanya keripik pisang dan keripik singkong yang dijual Maryam di kiosnya. Sejak lima tahun lalu, kios yang terletak di halaman rumahnya itu juga menyediakan keripik talas, keripik ubi jalar, dan keripik sukun.

Keripik pisang buatan Maryam memiliki ciri khas dan sangat berbeda dengan keripik pisang produsen lain. Itulah sebabnya keripik pisang produksi Maryam banyak dicari pembeli karena penasaran ingin menikmati aneka rasa yang ditawarkan.

“Saya menyediakan keripik pisang rasa coklat, rasa strowbery, rasa keju, dan rasa asing. Saya sengaja membuat aneka rasa karena selama ini usaha keripik pisang di Lampung sudah banyak saingan. Di Lampung ada perusahaan keripik pisang yang sudah terkenal secara nasional. Makanya, produk saya harus berbeda,” kata Maryam.

Tiap minggu Maryam butuh pisang sebanyak 200-300 sisir. Pisang yang dibuat keripik adalah pisang kepok, yang biasanya didatangkan dari Kabupaten Tanggamus. Untuk menggoreng pisang sebanyak itu perlu minyak goreng sebanyak 50 kg.

Pekerja mengiris pisang di dapur Istana Keripik Bu Mery
Sebelum menjadi keripik yang renyah dan lezat, pisang kepok yang sudah dikupas diiris tipis dengan sebuah alat yang dilengkapi pisau tajam. Setelah irisan-irisan itu digoreng di sebuah penggorengan ukuran besar, kemudian dicampur dengan aneka bahan yang disesuikan dengan rasa yang diinginkan.

Jika ingin dibuat keripik pisang aroma coklat, maka ditambah dengan coklat. Pengadukan dilakukan dengan teknik tertentu agar keripik itu tidak remuk. Agar beraroma straubery, maka irisan-irisan pisang yang sudah digoreng itu harus dicampur dengan ramuan straubery.

Berkat usaha yang dirintis Maryam, kini Jl. Pagar Alam Gang PU Bandarlampung terkenal sebagai sentra keripik. Kios-kios yang menjual aneka keripik berderet. Kios-kios itu umumnya tidak berada di halaman rumah warga.

Karena citra rasanya yang khas, pelanggan keripik pisang “Ibu Mery” tidak hanya berasal Lampung, tetapi juga dari Jakarta, Palembang, dan Bandung. “Pelanggan dari Jakarta, Bandung, dan Palembang biasanya akan menjual keripik buatan saya di kotanya masing-masing.

Mereka menjualnya kembali setelah mengemas lebih bagus dan memberinya merek,” kata perempuan asli Serang, Banten, itu.

Maryam mengaku semua jenis keripik dijual dengan harga sama: Rp 40 ribu/kilogram. Selain melayani pembelian dalam partai besar, Maryam juga melayani pembeli eceran dengan kemasan plastik seperampat kilogram.

Dengan omzet rata-rata Rp 1 juta /hari, Maryam mengaku belum berpikir untuk mengembangkan usaha agar produksinya lebih meningkat.

“Sekarang semuanya sedang serba sulit. Harga minyak goreng terus naik, sementara saya tidak mau menaikkan harga jual. Kalau meningkatkan produksi, butuh modal besar lagi. Sekarang yang penting lancar dulu. Artinya, keuntungan lumayan, bisa menggaji 7 karyawan, dan pelanggan terus datang,” ujar ibu lima anak ini.

Berkat usahanya, Maryam bisa menafkahi keluarganya dan menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. Yang lebih
penting lagi, kini berkembang sentra industri kecil kawasan Jl. Pagar Alam Gang PU Bandarlampung yang makin dikenal luas oleh masyarakat Lampung.

  • Bagikan