Beranda Teras Berita Sepak Pojok: Tom Iljas

Sepak Pojok: Tom Iljas

294
BERBAGI

Tomi Lebang

Tak mudah mengejawantahkan rasa cinta kepada tanah leluhur, setidaknya bagi Tom Iljas, orang Minang yang kini berpaspor Swedia. Lelaki sepuh 77 tahun ini datang ke Indonesia, berziarah ke makam orang tuanya — mungkin untuk terakhir kalinya — tapi yang ia temui adalah bangsa yang sama yang dulu menyapihnya dari Indonesia.

Di tahun 1960-an, Tom Iljas adalah satu dari ratusan anak muda cemerlang yang dikirim Indonesia untuk belajar ilmu dan teknologi di berbagai negara di dunia. Tom belajar di Beijing, China, di sekolah elit Peking Institute of Agricultural Mechanization. Suatu hari, seusai kisruh politik seputar G30S/PKI pada 1965 di Indonesia, Tom tiba-tiba mendapati dirinya bukan lagi bagian dari tanah airnya. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi di Indonesia ketika paspornya ditarik negara dan ia hidup terlunta-lunta. “Dan tiba-tiba, saya terlempar dari Indonesia. Stateless selama 18 tahun,” katanya, suatu ketika.

Selama itu ia seperti layang-layang putus dan tak tahu menunggang angin. Untunglah, bersama sejumlah “layang-layang putus” lainnya ia diterima di Swedia, lalu menjadi warga negara. Raganya di Stockholm, tapi cintanya tak pernah pupus ke tanah leluhurnya.

Kini, Tom kembali seperti dulu. Seusai kunjungan yang gaduh ke Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 11 Oktober 2015 itu, Tom dideportasi dan dimasukkan dalam daftar tangkal oleh Indonesia.

Marahkah Tom Iljas? Adakah cintanya tak bersisa untuk Indonesia?

Beberapa tahun lalu, untuk penulisan sebuah buku, saya beruntung beroleh kesempatan menelusuri keberadaan orang-orang seperti Tom Iljas di Rusia. Mereka adalah para EKSMAHID, eks mahasiswa ikatan dinas, begitu pemerintah Indonesia menyebutnya.

Berpuluh tahun lamanya, Indonesia adalah negeri yang hilang dalam benak ratusan mahasiswa Indonesia ikatan dinas yang dikirim ke Uni Sovyet untuk belajar. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, Pemerintah Indonesia membekukan segala bentuk hubungan kerjasama dengan Uni Soviet. Para peneliti Uni Soviet yang sedang berada di Indonesia diminta kembali ke negaranya. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia di Uni Soviet menerima palu talak dari pemerintah negeri leluhur: mereka tak boleh pulang ke tanah air!

Ironis, sebagian besar mereka awam politik, hanya memenangkan beasiswa pemerintah zaman Soekarno. Semenjak itu, mereka pun hidup terlunta-lunta, bekerja serabutan demi menyambung napas di negeri yang masih pekat dengan komunisme. Dalam perjalanan waktu perubahan juga terjadi di negara Uni Sovyet. Komunis tidak lagi sejumawa dahulu.

Ratusan eks mahasiswa ikatan dinas di Rusia kemudian berpindah ke Belanda. Hanya tersisa sekitar 15 orang yang memilih tinggal di Rusia. Bahkan kini, dalam hitungan Awal Uzhara, salah seorang eksmahid, dari 15 orang itu, yang hidup tinggal tujuh orang. Usia mereka kini rata-rata 70-an tahun.

Di bulan Mei 2008, Hamid Awaludin mengisi jabatan Duta Besar Republik Indonesia di Moskow. Beberapa hari setiba di sana, ia meminta bertemu dengan para eksmahid dan keluarganya. Boleh jadi, ini impian lama sang duta besar, semenjak ia masih menjabat Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, yang mendorong rekonsiliasi para bekas warga Indonesia yang terabaikan nasibnya itu.

Pada mulanya, Hamid mendapat tentangan, bukan dari luar, tapi dari bawahannya sendiri. Jajaran atase pertahanan di KBRI Moskow enggan bertemu dengan para eksmahid dan keluarganya. Alasan mereka: orang-orang yang kini berusia jompo itu “orang-orang yang bermasalah”.

Suatu hari, Hamid memanggil seorang atase. Ia bertanya,”Apakah Anda mengenal Soebandrio dan Oemar Dhani?” katanya. “Tentu kenal, Pak,” kata sang atase.

Soebandrio, bekas Perdana Menteri Republik Indonesia dan pernah jadi Dubes RI di Moskow. Sementara Marsekal Oemar Dhani adalah mantan Menteri Panglima Angkatan Udara. Mereka dijatuhi hukuman seumur hidup karena terbukti bersalah — keputusan hukum tetap. Mereka telah menjalani hukuman itu beberapa puluh tahun sampai era reformasi di Indonesia tiba ketika amnesti besar-besaran diberikan pemerintahan Habibie. Mereka bersama tahanan politik lainnya keluar dan kembali menjadi warga negara, tanpa gelar negatif lagi.

“Soebandrio dan Oemar Dhani jelas-jelas adalah orang bersalah, sudah dihukum penjara. Tapi pemerintah memberikan amnesti dan membebaskan mereka. Kini mereka sama dengan warga negara Indonesia lainnya,” kata Hamid. Sementara, orang-orang eksmahid ini, “datang ke Rusia secara resmi, dikirim oleh pemerintah untuk menuntut ilmu. Mereka tidak pernah dihukum, tetapi hanya diberi label secara politik. Apa salah mereka?”

Untuk fakta ini, sang atase tidak membantah. Tapi ia menukas: mereka, para eksmahid di Rusia itu bukan lagi warga negara Indonesia. “Kalau masuk ke kedutaan kita, nanti mereka mengacau. Apalagi kalau masuk gedung kita. Di sini kan banyak rahasia kita,” katanya.

Argumentasi ini langsung dibantah Hamid. “Kalau mereka mengacau, ya, kita serahkan ke polisi.” Lalu, soal rahasia negara di ruang-ruang kedutaan, kata Hamid: “Apakah para pembersih ruangan saya di kantor dan di wisma adalah warga negara Indonesia?”

“Bukan Pak. Mereka adalah warga negara Rusia, termasuk pembuat minuman.”

Alhasil, undangan ditebar, para eksmahid dan keluarganya datang ke gedung kedutaan di kawasan Novokuznetskaya. Apa yang mereka lakukan begitu duduk dan berkumpul? Menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Di antara mereka ada Sukirno. Ia seorang profesor dan ahli penyakit dalam di Universitas Moskow. Ia hidup cukup senang di Moskow. Seorang putrinya adalah juara nasional tenis di Rusia. Sukirno duduk di belakang Hamid. Ia menyapa sang duta besar: “Saya dengar Pak Dubes senang badminton. Seorang keponakan saya di Indonesia juga pemain badminton dan sering mewakili Indonesia,” kata dia. Ia menyebut nama keponakan yang tak pernah ditemuinya itu. Sebuah nama yang sudah karib benar di telinga Hamid: Sigit Budiarto, pemegang gelar juara ganda All England, pasangan Chandra Wijaya.

Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah kunjungan ke Indonesia, Hamid kembali ke Moskow bersama Sigit Budiarto. Ia menggamit Sigit untuk dua misi: mempertemukannya dengan pengurus federasi bulutangkis Rusia kalau-kalau Sigit bisa menjadi pelatih bulutangkis di sana, dan juga mempertemukannya dengan sang paman.

Maka, pada suatu malam di wisma Indonesia, Moskow, terjadilah pertemuan dua generasi yang pernah terhela arus politik itu: Sigit Budiarto dan Sukirno. Pada mulanya tak ada kata-kata dari mereka. Keduanya hanya saling memandang di depan Hamid. Sampai kemudian, putri Sukirno memecah kebekuan: “Sigit,” katanya dengan mata sembab. Mereka pun saling berpelukan.

Hamid kemudian meminta nomor telepon ayah kandung Sigit di Yogyakarta –saudara kandung Sukirno. Hamid menelponnya, lalu menyerahkan gagang telepon itu kepada Sukirno. Malam itu, untuk pertama kalinya kedua saudara sekandung saling berbicara dan mendengar suara, semenjak Sukirno meninggalkan tanah air di tahun 1962. Dalam rentang waktu setengah abad itu, mereka hanya saling mengenang sebagai saudara, dalam aroma ketakutan akan kekuasaan yang telah memisahkan mereka.

Begitulah. Kejadian yang menimpa Tom Iljas di Sumatera Barat menunjukkan satu fakta yang lama tak disadari: kesenjangan antara para eksmahid yang umumnya intelektual cemerlang dengan aparat birokrasi dan keamanan Indonesia yang sebagian besar lahir setelah peristiwa 1965 itu. Atase di kedutaan Indonesia di Moskow, polisi dan petugas imigrasi di Sumatera Barat, masih berada dalam kabut masa silam yang pekat, yang tertutup, dan terancam.

Apa yang mereka takutkan pada lelaki sepuh yang berjalan bertelekan tongkat kayu itu?

Tulisan Terkait: Pernyataan Sikap atas Penangkapan dan Pemeriksaan Rombongan Ziarah Tom Iljas