Serahkan pada Zamannya

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Pagi menjelang siang dua orang mahasiswa Pascasarjana Pogram Doktor menghadap dengan membawa draf laporan hasil penelitiannya; mereka ‘terperosok’ pada berputarnya data lapangan yang seolah-olah berada pada pusaran air bah. Mereka berdua tampak pusing sekali karena tidak tahu harus berbuat apa. Sementara tuntutan tenggat  laporan semakin dekat, mereka belum menulis satu kata pun sebagai laporan penelitian.

Setelah diskusi cukup lama, mereka baru menyadari bahwa di tengah masyarakat sekarang tengah terjadi pergeseran nilai yang luar biasa cepatnya; dampak samping dari pandemi, ternyata telah menggeser tatanan baku yang ada, dan diyakini kebenarannya selama ini. Diskusi ini berhenti karena telah mendapat kesimpulan sementara bahwa setiap zaman memiliki corak warna dan tugasnya sendiri-sendiri.

Selesai kedua mahasiswa tadi keluar tidak lama kemudian muncul seorang doktor mengajak diskusi tentang perpindahan ibu kota negara ke Kalimantan. Beliau menggebu-gebu mengemukakan keberatannya dari aspek kepraktisan, walaupun intinya kepentingan personal beliau akan terusik akibat kebijakkan pemindahan ibu kota negara.

Sesaat saya ingat kiriman anggota pembaca media kita ini berkaitan dengan ibu kota negara, dasar pemikiran dan perencanaan pembangunan secara makro, kemudian kiriman potongan sejarah nusantara masa lalu yang menceritakan perpindahan ibu kota negara kerajaan masa lalu. Bahan itu dijadikan rujukan diskusi dengan sang doktor yang sedang gundah; untuk sementara beliau mau menerima bagaimana perencanaan pemindahan ibu kota itu sejak presiden pertama kita walaupun tampak kepuasan di raut wajahnya hanya semu, sekadar untuk mengakhiri diskusi belaka.

Kita tinggalkan diskusi di atas yang mereka pasti akan kembali lagi untuk berdiskusi, sekalipun cenderung jadi debat kusir, kecuali dengan mahasiswa, yang sedikit segan untuk berbantah dengan promotornya. Namun, ada benang merah yang menjalin. Di antaranya adalah “Setiap zaman memiliki tugas perkembangannya masing masing. Tugas perkembangan itulah nantinya meninggalkan jejak jejak yang menyejarah”.

Menyimak itu semua ternyata setiap periodesasi kesejarahan, yang pada kondisi ini tidak ada batas nyata karena setiap peristiwa tidak sama keberlangsungannya. Namun, setiap periodesasi akan ada tugas sejarah yang diselesaikan oleh pelaku sejarah, walaupun terkadang itu diingkari oleh pelakunya. Pada hakikatnya pengingkaran yang dia lakukan adalah sebuah lakon sejarah yang sedang dia perankan.

Pepatah kuno mengatakan  “Sebelum layar di tutup, semua peran akan tampil; begitu layar digulung, maka selesailah sudah episode itu”.  Suka tidak suka, mau tidak mau, kita akan berhadapan atau berjumpa dengan episode baru. Semua yang berawal pasti akan berakhir, kecuali pemilik awal dan akhir yang tidak bermula dan tidak pula berakhir.

Begitu pula  jika kita sedang berlakon: berlakonkanlah dengan ikhlas dan berserah diri, sesuai tuntutan skenario yang telah digariskan oleh Sang Pemilik Hidup. Jika kita lupa bahwa kita sedang melakonkan episode dari Sang Pemilik Waktu, maka segeralah bertobat, karena setiap zaman itu punya orangnya dan setiap orang punya zamannya. Oleh karenanya, kita jangan nggege mongso (bahasa Jawa) yang arti bebasnya jangan memperkosa waktu. Hanya bagaimana kita sebagai orang yang berperan melakonkan sesuatu peran namun tetap dalam koridor hidayah Sang Khalik. Ini yang dirisaukan ungkapan batin seorang Guru Besar Manajemen di FKIP Unila yang mengatakan ..”hidayah itu hak mutlak Alla. Yang sering kutangisi, jangan-jangan aku sedang di luar hidayah itu”….. jika kita renungkan betapa dahsyatnya pengakuan hamba seperti ini kepada Sang Pemilik Zaman.

Jangan pula kita mengambil sikap fatalistik.Karena merasa zaman sudah ada yang empunya, maka kita tidak perlu ambil peran. Karena ketidakpedulian kita untuk mengambil peran, sebenarnya kita sudah melakonkan peran, yaitu berperan tidak mengambil peran. Kalaulah konklusinya kita tidak mengambil peran itu juga sudah berperan, maka lebih baik berperan yang memiliki manfaat, minimal diri sendiri dan lingkungan kecil kita.

Sebaliknya, dalam berperan juga hendaknya mampu membaca situasi dengan bijak; apalagi jika kita sedang menggenggam kekuasaan. Pepatah lama mengatakan “segenggam kekuasaan itu bisa mengalahkan sejuta kebenaran”. Namun ingat, sebesar biji sawi pun perbuatan kita di dunia ini, akan kita pertanggungjawabkan pada Sang Khalik jika saat Mahkamah Keadilan nanti akan datang pada waktunya.

Selamat ngopi pagi….

 

You cannot copy content of this page