Beranda News Internasional Seratusan Ribu Massa Anti-Pemerintah Tuntut PM Yingluck Sinawatra Mundur

Seratusan Ribu Massa Anti-Pemerintah Tuntut PM Yingluck Sinawatra Mundur

317
BERBAGI
PM Yingluck Shinawatra

Dewi Ria Angela, B. Satriaji/Teraslampung.com

BANGKOK—Sekitar seratusan ribu demonstran penentang pemerintah Thailand berkumpul di ibukota, Senin (25/1) untuk menuntut Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra mundur dari jabatannya.

Aksi protes yang dipimpin oleh pihak oposisi, Partai Demokrat, itu terjadi di belasan titik di Thailand. Polisi terus berjaga-jaga agar tragedi demonstrasi berdarah pada 2010 di Bangkok tidak terjadi.

Pada April dan Mei 2010 lalu, para pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang dikenal sebagai para ‘kaos merah’ memenuhi Bangkok dalam usaha mereka mengenyahkan pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva (Partai Demokrat).

Sementara itu pada Minggu (24/11/2013), sekitar 40.000 kaum ‘kaos merah’ pendukung pemerintah Thailand mengadakan aksi untuk mendukung Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Yingluck adalah adik kandung Thaksin Shinawatra yang berhasil mengalahkan Abhisit dalam pemilu 2011 lalu.

Pihak kepolisian Thailand mengatakan pihak oposisi maupun pihak ‘kaos merah’ pendukung pemerintah berjanji tetap berada di Bangkok sepanjang malam. Itulah sebabnya kepolisian akan terus berjaga-jaga agar bentrokan antara pendukung oposisi dengan pendukung pemerintah tidak terjadi.

“Kami tak akan menggunakan kekerasan, dan kita akan berusaha agar tak ada korban yang jatuh,” jelas juru bicara kepolisian, Piya Utayo.

Bangkok sudah dibanjiri aksi yang dilakukan oleh pendukung oposisi, akibat adanya rancangan undang-undang amnesti yang kemungkinan dapat membolehkan kembalinya mantan perdana menteri Thaksin dan memaafkan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penumpasan pendukung ‘Kaos Merah’ tahun 2010 lalu.

Meskipun RUU tersebut ditolak senat Thailand, para demonstran tetap bertahan di jalanan dan saat ini berusaha menumbangkan pemerintah. Menurut demonstran pemerintahan yang dipimpin PM Yingluck Shinawatra saat ini merupakan kaki tangan Thaksin.

Pemimpin protes, Satit Wongongtaey, mengatakan pada mereka yang turut dalam protes anti pemerintah, “Bagaimana mungkin pemerintahan ini bertahan? Mengapa pemerintahan Thaksin bertahan?” serunya, disambut tepuk tangan dari demonstran.

Meski sering meyakinkan publik bahwa dirinya berbeda dengan kakaknya, PM Yingluck Shinawatra kesulitan menepis serangan terhadapnya. Serangan dengen menyeret-nyeret hubungan kekeluargaan dengan mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra itu terus dialami oleh Yingluck sejak masa kampanye pada 2011 lalu hingga sekarang.

Sejak menjadi monarki konstitusional pada tahun 1932, Negeri Gajah Putih telah mengalami 18 kudeta yang berhasil dan juga yang gagal. Saat ini, negara ini terbelah antara mereka yang mendukung dan menolak Thaksin.

Thaksin, yang dahulu merupakan pebisnis besar, didukung oleh kelas pekerja Thailand. Thaksin tidak disukai kaum elit dan kelas menengah, yang menuduhnya melakukan korupsi.  Tahun 2008, Thaksin dihukum dua tahun penjara in absentia (tanpa kehadiran di pengadilan) atas tuduhan melakukan korupsi. (RA/dwan)