Beranda News Lampung Serial Dokumenter “Tapak Lampung”, Upaya Menyigi Lampung Tumbai

Serial Dokumenter “Tapak Lampung”, Upaya Menyigi Lampung Tumbai

502
BERBAGI
Suasana syuting film dokumenter Tapak Lampung di Rumah Ukir Lampung, Bandar Lampung, Januari 2018 lalu.
Suasana syuting film dokumenter Tapak Lampung di Rumah Ukir Lampung, Bandar Lampung, Januari 2018 lalu.

TERASLAMPUNG.COM  — Kisah Lampung masa lalu atau ‘Lampung Tumbai’ masih belum banyak dikaji. Minimnya referensi, kajian, maupun akses terhadap sumber-sumber sejarah menjadikan narasi identitas Lampung tak banyak bergaung. Karena itu, Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) berikhtiar untuk melakukan kajian narasi sejarah Lampung dan mempopulerkannya melalui medium film dokumenter.

Ketua Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS ) Efin Nurtjahja G. Soehada mengatakan, wilayah Lampung dikenali sebagai potret multikulturalisme yang mewujud di Indonesia.

“Ia dihuni oleh banyak pendatang, sehingga masyarakatnya akrab dengan kepelbagaian suku dan agama. Dari sudut pandang historis, Lampung juga mencuri perhatian karena berbagai aspek, mulai dari jejak megalitikum, kisah federasi kerajaan Islam yang membentuknya, serta riwayat kolonialisme Eropa,” kata Efin, Selasa (5/6/2018).

Tak hanya itu, kata Efin, hasil bumi dari negeri di ujung Pulau Sumatera nan subur ini pun membuatnya menjadi magnet tersendiri.

“Kesemua itu menjadikan Lampung sebagai wilayah dengan identitas kultural yang unik. Dan agaknya, identitas kultural ini belum sepenuhnya disadari sebagai modal sosial pembangunan,” katanya.

Efin menjelaskan, pada 2017, Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) telah mengawali produksi serial dokumenter ini dengan melakukan riset terhadap kajian sosiohistoris Lampung. Riset dilakukan terhadap objek-objekwilayahLampung yang memilikipotensiwisatadanekonomi.

Sejak Januari 2018, tim dokumenter PINUS pun mulai melakukan peliputan ke sekujur wilayah tersebut. Objek peliputan mengerucut pada banyak hal, mulai dari kisah Sekala Bekhak, jejak megalitikum, sastra, kain tapis, hasil bumi (kopi dan lada), ketokohan Radin Inten II, syiar Islam dan pertalian dengan Bugis, hingga refleksi multikulturalisme Lampung dan identitas Lampung Sai Bumi Ruwa Jurai.

“Bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan, sepuluh judul documenter berdurasi 10-12 menit mengenai sejarah Lampung ini pun kini dapat disaksikan di channel youtube “Tapak Lampung.”

Tak hanya menjangkau penonton yang memiliki akses terhadap internet, PINUS juga akan meluncurkan dan melakukan kegiatan nonton bareng bersama komunitas dan masyarakat Lampung secara langsung dalam waktu dekat.

“Film ini harus bebas disaksikan oleh siapa pun. Saya harapkan serial ini akan menjadi medium alternatif pendidikan sejarah dan kebudayaan Lampung. Upaya mendokumentasikannarasisejarah Lampung semacam ini saya kira bisa membangkitkan kesadaran mengenai identitas Lampung kemasyarakatluas. Jika kesadaran sejarah ini sudah meluas, saya yakin akan ada manfaat konstruktif terhadap pembangunan ekonomi masyarakat Lampung,” kata Efin.

Loading...