Seribu

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Menurut JogoKata, arti seribu adalah bilangan yang dilambangkan dengan angka 1.000 (Arab) atau M (Romawi), urutan ke-1000 sesudah ke-999 dan sebelum ke 1001, jumlah bilangan 999 ditambah 1 atau 10 kali 100.

Angka seribu seolah memiliki nilai sakral tersendiri, untuk masyarakat Indonesia khususnya Jawa, bayangkan ada Upacara Seribu Hari bagi yang meninggal, mengambil langkah seribu, untuk istilah lari secepatcepatnya karena takut. Akalnya seribu macam, untuk memaknai mereka yang panjang akalnya. Seribu upaya, bagi mereka yang panjang akalnya, dan masih banyak lagi jika kita deretkan.

Makna “seribu”pun pernah dinukilkan oleh Emha Aninun Najib daalam memetaforakan kepemimpinan; bunyi lengkapnya sebagai berikut “ Pemimpin yang terbaik adalah yang paling memiliki penguasaan diri untuk dipimpin. Maka seorang ‘Pandito Ratu’ haruslah a man of nothing to loose. Tak khawatir kehilangan apa-apa. Jangankan harta benda, simpanan uang, seribu perusahaan, tanah, gunung dan tambang. Sedangkan dirinya sendiripun sudah tak dimiliknya, sebab telah diberikan kepada Tuhan dan rakyatnya”.

Akhir-akhir ini pun di sebagian masyarakat sudah “mesanering” diri untuk ungkapan jumlah nominalisasi uang dengan berpatokan pada seribu, untuk pengganti lambang bilangan “satu Juta”. Perubahan ini menunjuk pada orientasi bahwa nilai seribu adalah maksimal bagi suatu sistem perhitungsn, sekaligus nilai kepercayaan masyarakat tampaknya mulai menurun akan nilai mata uang sendiri.

Kalau begitu, apa sebenarnya makna esensi dari “seribu”? Ternyata ungkapan seribu itu memiliki multidimensi. Sebab, lambang bilangan ini dianggap puncak pada tataran rasa, bukan tataran nyata. Oleh sebab itu, pada sebagian masyarakat Jawa tidak mengenal bilangan rasa di atas seribu, sebagai ganti di lambangkan dengan “sejinah”; yang memiliki makna Sejinah diartikan sing siji ora nggenah (yang satu tidak jelas); ini mewakili lambang bilangan berikutnya tidak jelas.

Maksud “tidak jelas “di sini adalah berapapun anda mau memberi, jika lebih dari angka seribu itu banyak sekali, dalam arti rasa. Mungkin ucapapan “beribu-ribu terimakasih” itu metaphor dari ini.
Tamsil Seribu ternyata jika kita mau merenunginya akan mendapatkan betapa banyak ajaran budi di sana.

Dari persoalan remeh temeh dunia, sampai dengan hakekat persoalan kehidupan setelah kematian. Tampaknya “seribu janji, seribu maaf, seribu langkah” yang semula kita maknai sebagai ucapan absurd, ternyata mengandung hakikat yang dalam tentang kehidupan. Bahkan,  kata seribu bagi mereka yang sedang diberi amanah untuk memimpin; menjadikan sesuatu itu berpahala atau dosa, bagai mata uang yang berpeluang sama untuk dapat dilakukan; dengan kata ini: Jika mereka yang amanah maka akan berucap “seribu daya upaya dilakukan untuk menyejahterakan warga”. Sebalikny,  jika akan ingkar pun bisa berlindung dengan seribu, contoh “seribu alasan dikemukakan untuk menghindar”.

Seribu pada posisi ontologi memang bebas nilai, namun begitu berada pada wilayah Epistemologi dan aksiologi, tampak sekali bagaimana menjadikan seribu tidak bebas nilai, dan sarat kepentingan. Bayangkan dengan seribu seorang pemimpin bisa membuat seribu alasan untuk menutupi satu kesalahan. Demikian juga bawahan bisa berlindung pada seribu alasan untuk menutupi ketidakpandaiannya atau ketidakmampuannya dalam melaksanakan tugas.

Orang bijak mengatakan; Tuhan memberikan seribu akal untuk menyelesaikan seribu masalah, namun jangan kita membuat seribu alasan untuk membalik seribu dosa menjadi satu pahala, karena kewenangan itu bukan ada pada manusia. Tampak jelas bahwa pahala itu lebih mulia di sisi Tuhan, dan itu merupakan hak prerogratif-Nya. Oleh karena itu,  janganlah seribu alasan untuk membenarkan satu penyimpangan.

Pada posisi ini manusia hanya mampu berharap seribu pinta namun mana yang akan diberi, itu bukan urusan kita, hanya Yang Maha Pemberi dan Maha Tahu, di mana, bila, dan dalam bentuk apa. Seperti di jelaskan dalam Ayat Ath-Thalaq: 2-3 atau yang lebih dikenal dengan ayat seribu dinar berisi tentang pelajaran betapa pentingnya takwa kepada Allah SWT. Seperti dijelaskan dalam kutipan penjelasan , taqwa adalah seseorang yang taat kepada Allah SWT dan mau meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya.

Setiap muslim belum bisa dikatakan sebagai orang yang bertaqwa jika belum menjalankan kewajiban dan menunaikan ibadah sunnah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Dalam ayat seribu dinar, tertera janji Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap cobaan dan memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka, Tentu saja, janji ini untuk umat muslim yang senantiasa bertaqwa kepada-Nya (Merdeka.com).

Layar sudah terbentang, angin buritan sudah berhembus, sauh sudah diangkat, kemudi sudah dipegang, tingggal bagaimana nasib kita arungi. Badai, petir, gelombang tinggi, itu pasti adanya, tinggal bagaimana kita menghadapi itu sebagai tantangan dan peluang untuk menggapai asa di masa depan.***

  • Bagikan