Beranda Views Opini Serpihan Catatan Pendidikan buat Capres 2014-2019 (3)

Serpihan Catatan Pendidikan buat Capres 2014-2019 (3)

214
BERBAGI
Oleh Slamet
Samsoerizal *)

Pembangunan Nasional antara lain bertujuan meningkatkan
kesejahteraan warga negara secara keseluruhan. Peningkatan ini merupakan proses
yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat. Beberapa
aspek yang dimaksud termasuk aspek ekonomi, aspek sosial, aspek politik dan aspek
budaya.  Peranan pendidikan dalam kaitan
ini tentu sangat strategis.

Tiga Peran Penting
Ada tiga peran penting pendidikan sebagaimana dikemukakan Bock
(1992) dalam buku Education and Development: A Conflict
Meaning. Pertama, peran pendidikan untuk memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai
sosio-kultural bangsa. Ini merupakan fungsi politik pendidikan. Kedua,  mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi
kemiskinan, kebodohan, dan mendorong perubahan sosial. Ketiga, peran pendidikan
adalah demi memeratakan kesempatan dan pendapatan. Peran kedua dan ketiga merupakan
cakupan fungsi ekonomi.  
Peranan pendidikan dalam pembangunan mencuatkan dua
paradigma yang menjadi landas tumpu para decision
maker
dalam pengembangan kebijakan pendidikan. Kedua paradigma tersebut
adalah Paradigma Fungsional dan Paradigma Sosialisasi.
Paradigma Fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan
kemiskinan yang dialami masyarakat,  dikarenakan
mereka hanya memiliki sedikit jumlah penduduk yang berpengetahuan, berkemampuan
dan bersikap modern. Lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan
lembaga utama mengembangkan pengetahuan, melatih kemampuan dan keahlian, dan
menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan.  
Paradigma Sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam
pembangunan dalam tiga hal. Pertama, peranan pendidikan mampu mengembangkan
kompetensi individu. Kedua,  pendidikan
memungkinkan kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk
meningkatkan produktivitas. Ketiga,  secara umum melalui pendidikan dapat
meningkatkan kemampuan warga masyarakat. Semakin banyaknya warga masyarakat
yang memiliki kemampuan akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara
keseluruhan. Itu sebabnya, sesuai paradigma sosial pendidikan harus diperluas
secara besar-besaran dan menyeluruh, kalau suatu bangsa menginginkan kemajuan.
Kedua paradigma ini berpengaruh besar dalam dunia pendidikan.
Ini tampak dengan adanya paradigma pendidikan yang bersifat analis-mekanistis Penekanan
paradigma ini pada doktrin reduksionisme dan mekanistik. Reduksionisme melihat
pendidikan sebagai sesuatu yang dapat dipilah-pilah. Bagian-bagian yang dipilah
tersebut memiliki keterkaitan linier fungsional, satu bagian menentukan bagian
yang lain secara langsung.
Hal tersebut mengakibatkan pendidikan telah direduksi
sedemikian rupa ke dalam serpihan-serpihan kecil yang satu dengan yang lain
menjadi terpisah tiada hubungan. Alih-alih yang kita temukan dalam wujud:  kurikulum, Kompetensi Dasar, Standar
Kompetensi, materi pokok, program pengayaan, seragam, pekerjaan rumah dan
latihan-latihan. Suatu sistem penilaian telah dikembangkan untuk menyesuaikan
dengan serpihan-serpihan tersebut: nilai, indeks prestasi, peringkat, rerata
nilai, kepatuhan, ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar. 
Paradigma pendidikan model IPO (lnput-Proses-Output), memandang  sekolah sebagai
proses produksi. Masing-masing warga sekolah punya peran tersendiri. Siswa dianggap
sebagai raw-input dalam suatu pabrik. Guru, kurikulum, dan fasilitas
diperlakukan sebagai instrumental input.
Logika yang disampaikan, apabila raw-input dan instrumental
input
bagus, maka akan menghasilkan proses yang bagus pula. Dengan
demikian, akan baik pula produkyang dihasilkan. Kelemahan dari asumsi ini,
adalah dunia pendidikan diperlakukan sebagai sistem yang bersifat mekanik.
Perbaikannya dapat bersifat pilih pilah. Bagian yang
dianggap tidak  bagus itulah yang akan
diperbaiki. Sudah barang tentu asumsi tersebut jauh dari realitas dan salah. Bagaimana
implikasinya?
 Sistem dan praktik
pendidikan yang mendasarkan pada paradigma pendidikan yang keliru cenderung
tidak akan sesuai dengan realitas. Paradigma pendidikan tersebut, tidak pernah
melihat pendidikan sebagai suatu proses yang utuh dan bersifat organik yang
merupakan bagian dari proses kehidupan masyarakat secara totalitas.
           
Selain itu, para pengambil kebijakan pemerintah menjadikan
pendidikan sebagai penggerak dan loko pembangunan (engine of growth). Sebagai penggerak pembangunan maka pendidikan
harus mampu menghasilkan inti kekuatan pembangunan yakni invention dan innovation. Strategi yang ditempuh,  pendidikan seyogyanya diorganisir dalam suatu
lembaga pendidikan formal sistem persekolahan.
Ini berarti terpisah dan menempati teratas dari
bidang-bidang lain, khususnya dunia ekonomi. Bahkan pendidikan harus menjadi acuan
dan penentu perkembangan bidang yang lain. Dalam lembaga pendidikan formal
inilah berbagai ide dan gagasan akan dikaji, berbagai teori akan diuji,
berbagai teknik dan metode akan dikembangkan, dan tenaga kerja dengan berbagai
jenis kemampuan akan dilatih.  
Berbagai problem pendidikan yang muncul tersebut di atas
bersumber pada kelemahan pendidikan nasional sistem persekolahan yang sangat
mendasar, sehingga tidak mungkin disempurnakan hanya lewat pembaharuan yang
bersifat tambal sulam. Reformasi di bidang pendidikan nasional sistem
persekolahan kita secara mendasar dan menyeluruh harus dimulai dari mencari
penjelasan baru atas paradigma peran pendidikan dalam pembangunan.
Hal yang belum banyak disadari masyarakat adalah sistem
persekolahan kita di jenjang pendidikan dasar dan menengah, yang lebih
berorientasi pada kemampuan IQ semata. Indikator yang dapat digunakan antara
lain: bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik
siswa. Jadi,  mereka lebih disiapkan
memasuki ke perguruan tinggi atau hanya untuk para siswa yang memiliki potensi
akademik baik.  Padahal, sebagaimana di
Amerika Serikat yang mendamba melalui pendidikan dapat mengangkat derajatmya
baik bagi negara maupun gengsi di mancanegara atau dunia internasional,
akhirnya mengambil hikmah lain.
Amerika sukses mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek). Selain itu, kualitas perguruan-perguruan tinggi Amerika menjadi
terunggul di dunia. Sukses dua hal itu ternyata tidak signifikan dengan
penyiapan masyarakat terdidiknya dalam menghadapi  persaingan global.
*) Peneliti pada Pusat Kaji Darindo

Tulisan Terkait: Serpihan Catatan Pendidikan buat Capres 2014-2019 (2)

Tulisan Terkait: Serpihan Catatan Pendidikan buat Capres 2014-2019 (1)