Beranda Views Opini Serpihan Catatan tentang Pendidikan buat Capres 2014-2019 (4)

Serpihan Catatan tentang Pendidikan buat Capres 2014-2019 (4)

195
BERBAGI
Oleh Slamet Samsoerizal *)
Ekonom dari MIT,
Lester Thurow mengritik sistem pendidikan yang dikembangkan Amerika. Strategi
tersebut dianggap “keliru” dalam menyikapi persaingan global. Menurutnya,
strategi ini lebih mementingkan bagaimana menyiapkan 10% siswa terpandai dari
keseluruhan penduduk Amerika. Mengapa? Sebab, mereka yang berhasil adalah siswa
yang memiliki potensi akademik tinggi atau ber-IQ di atas 120.
Selebihnya adalah siswa yang tergolong cerdas di bidang
non-akademis. Kualitas produksi barang dan jasa pun sangat bergantung pada
segmen mayoritas ini. Pertanyaannya adalah apakah mereka telah dikondisikan
sebagai pekerja profesional sehingga dapat bekerja secara profesional
pula?         
           
Bagaimana dengan Cina yang belakangan diperhitungkan
dunia? Berkat pertumbuhan ekonomi yang stabil, Cina mampu menggeser Jepang
sebagai negara ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Memulai
pertumbuhan ekonomi tinggi setelah menerapkan ekonomi terbuka. Sukses tersebut
tak lepas dari kebijakan pemerintahnya dalam mengemas sistem pendidikan.  
           
Sepenggal kisah menarik ini perlu juga diungkap tentang
sukses mengemas pendidikan ala Cina. Sepeninggal Mao Zedong (1976) keadaan Cina
memrihatinkan. Gerakan Revolusi Kebudayaan dihentikan. Embargo perdagangan
Amerika Serikat memaksa Cina menjalankan politik isolasi yang memiskinkan
negeri itu. Sekolah dan perguruan tinggi dinon-aktifkan. Para intelektual
dikirim ke komune-komune dan pabrik.. Para pelajar dijadikan Tentara Merah.
           
Pengganti berikutnya, Deng Xiao Ping mencanangkan  program Gerakan Sige Xiandaihua atau empat modernisasi: Modernisasi pertanian,
industri, sains dan teknologi, dan modernisasi pertahanan. Pada tahun 1978
terjadi perubahan radikal dalam sistem pendidikan Cina. Deng mengawali
pembenahan pendidikan berjenjang 6-3-3 yakni SD (6 tahun), SMP (3 tahun), dan
SMA (3 tahun). Kebijakan berikutnya, Deng mewajibkan setiap orang tua
menyekolahkan anak-anak mereka mulai jenjang SD hingga menyelesaikan SMP. Untuk
itu, pemerintah menggratiskan biaya pendidikan.  
Selain itu, pemerintah memberikan kesempatan
seluas-luasnya bagi generasi muda yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Ratusan kampus baru dibangun. Berdasarkan catatan, pada 2004 tercatat 2500
akademi dan universitas yang setiap tahun mampu menampung 20 juta mahasiswa baru.
Sejak 1978, siswa-siswa terbaik dikirim pula ke universitas-universitas terbaik
di luar negeri. Setelah meraih gelar doctor dan professor mereka membangun Cina
dengan mengajar di kampus-kampus yang berdiri di Cina.
           
Konsekuensi logis akibat kebijakannya, anggaran
pendidikan meningkat tiap tahun. Sebagai contoh apabila pada 1978 aanggaran
pendidikan mencapai 9, 8 milyar Yuan, maka pad 1993 mencapai 106 milyar Yuan,
dan pad 2010 mencapai angka 215 milyar.  
Kita Lemah?
Mencontek dari pengalaman bangsa- bangsa lain mengapa
kita masih menemukan kelemahan disana-sini? Mengapa  SDM kita masih rendah? Dalam sebuah diskusi
terbatas, kami menyampaikan hipotesis bahwa penyebab lemahnya kualitas SDM
adalah para pemimpin kita beum mempunyai visi dan strategi jitu dalam membawa
bangsa ke depan Cina yang lepas terpuruk bias bangkit lantaran kebijakan
pendidikan yang mumpuni.
Jerman dan Jepang juga demikian. Kedua negara ini mempun
yai strategi utama untuk mencetak tenaga kerja yang handal. Strateginya adalah
dengan mendidik 60% penduduk terbawah dengan membekali pendidikan keterampilan.
Di sisi lain, kedua negara tersebut menyadari perlunya mewadahi golongan pandai
agar mereka dapat mendongkrak iptek di berbagai lini kehidupan bangsanya.
Paradigma peranan pendidikan dalam pembangunan yang dianut
oleh para penentu kebijakan kita dewasa ini memiliki kelemahan, baik teoritis
maupun metodologis. Mengapa? Pertama, tidak dapat ditemukan secara tepat dan
pasti  bagaimana proses pendidikan
menyumbang pada peningkatan kemampuan individu. Contoh yang dilakukan Cina
dan  Jepang dalam hal ini dapat dikatakan
relevan.
Memang secara mudah dapat dikatakan bahwa pendidikan
formal akan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki sistem
teknologi produksi yang semakin kompleks. Tetapi, dalam kenyataannya, kemampuan
teknologis yang diterima dari lembaga pendidikan formal tidak sesuai dengan
kebutuhan yang ada. Di samping itu, adanya perubahan di bidang teknologi yang
cepat, justru melahirkan de-skilled process, yakni dunia industri
memerlukan tenaga kerja dengan keahlian yang lebih sederhana dengan jumlah
tenaga kerja yang lebih sedikit.
Kedua, paradigma fungsional dan sosialisasi memiliki
asumsi bahwa pendidikan sebagai penyebab dan pertumbuhan ekonomi sebagai
akibat. Investasi di bidang pendidikan formal sistem persekolahan akan
menentukan pembangunan ekonomi di masa mendatang. Tetapi realitas menunjukkan
sebaliknya. Bukannya pendidikan muncul terlebih dahulu, kemudian akan muncul
pembangunan ekonomi, melainkan bisa sebaliknya, tuntutan perluasan pendidikan
terjadi sebagai akibat adanya pembangunan ekonomi dan politik.
Dengan kata lain, pendidikan sistem persekolahan bukannya
engine of growth, melainkan gerbong dalam pembangunan. Perkembangan
pendidikan tergantung pada pembangunan ekonomi. Sebagai bukti, karena hasil
pembangunan ekonomi tidak bisa dibagi secara merata, maka konsekuensinya
kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tidak juga bisa sama di antara berbagai
kelompok masyarakat, sebagaimana terjadi dewasa ini.
           
Ketiga, paradigma fungsional dan sosialisasi juga
memiliki asumsi bahwa pendapatan individu mencerminkan produktivitas yang
bersangkutan. Secara makro upah tenaga kerja erat kaitannya dengan
produktivitas. Dalam realitas asumsi ini tidak pernah terbukti. Upah dan
produktivitas tidak selalu sering. 
Implikasinya adalah bahwa kesimpulan kajian selama ini yang selalu
menunjukkan bahwa economic rate of return dan pendidikan
di negara kita adalah sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
investasi di bidang lain, adalah tidak tepat, sehingga perlu dikaji kembali.
 
Keempat, paradigma sosialisasi hanya berhasil menjelaskan
bahwa pendidikan memiliki peran mengembangkan kompetensi individual, tetapi
gagal menjelaskan bagaimana pendidikan dapat meningkatkan kompetensi yang lebih
tinggi untuk meningkatkan produktivitas.
Secara riil pendidikan formal berhasil meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan individual yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam
kehidupan ekonomi modern. Semakin lama waktu bersekolah semakin tinggi
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi, Randal Collins, dalam  The Credential Society: An
Historicaf Sosiology of Education and Stratification
(1979) menentang tesis ini.
*) Peneliti pada Pusat Kaji Darindo