Serpihan Catatan tentang Pendidikan buat Capres 2014-2019 (5)

Bagikan/Suka/Tweet:
Oleh Slamet Samsoerizal *
Berbagai bukti tidak mendukung tesis atas tuntutan
pendidikan untuk memegang suatu pekerjaan-pekerjaan tersebut. Pekerja dengan
pendidikan formal yang lebih tinggi tidak harus diartikan memiliki
produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja .yang memiliki
pendidikan lebih rendah. Banyak keterampilan dan keahlian yang justru dapat
banyak diperoleh sambil menjalankan pekerjaan di dunia kerja formal. Dengan
kata lain, tempat bekerja bisa berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang sebenarnya
dan lebih canggih.
Yuk Berbenah!
Sistem pendidikan kita yang berorientasi pada
ke-holistik-an sebenarnya telah digagas para pendiri bangsa yakni “mencerdaskan
kehidupan bangsa”. Oleh sebab itu, fungsi terpenting pendidikan adalah
menghasilkan manusia yang terintegrasi, yang mampu menyatu dengan kehidupan
sebagai satu kesatuan.
Ini sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana
termuat pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3: “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”. Maka, pengembangan yang perlu dipertajam dalam menyiapkan keholistikan
adalah  pendidikan hendaknya dapat menyiapkan
manusia yang siap menghadapi tantangan zaman dan menyadari kejatidiriannya
sebagai mahluk ciptaan-Nya.  
Potensi yang perlu diperhatikan mencakup: aspek spiritual,
akademik, kreativitas, fisik, sosial, emosi. 
Aspek spiritual bermakna mampu memaknai hakikat hidup dan kehidupan
sebagai mahluk Ciptaan-Nya. Dengan demikian, diharapkan ia mampu pula dengan takzim menghargai secara
horizontal- sesama manusia- dan secara vertikal dengan sang Khalik.
Aspek akademik dimaksudkan agar mereka dapat berpikir
logis, berbahasa, dan menulis dengan baik. Secara sederhana dapat
digambarkan, dengan berpikir logis mereka dapat mengembangkan secara
kreatif  keilmuwanan yang
disandangnya. 
Terampil berbahasa baik lisan maupun tulisan merupakan
tuntutan bagi manusia modern. Ketika seseorang berpidato, berdiskusi,
berseminar, atau sedang diwawancarai ketika melamar pekerjaan tentu dituntut
dapat mengemukakan gagasan secara lisan. Gagasan yang disampaikan pun tidak
asal-asalan. Dalam hal menulis, kita mengharapkan bahwa banyaknya tiap tahun
perguruan tinggi meluluskan sarjana (S1, S2, dan S3) diharapkan akan sebanyak
itu pula banjir karya tulis ilmiah. Namun, apa yang terjadi? Hanya 3 dari 100
mahasiswa yang berniat menulis. 
Aspek kreativitas, yang mencakup ekspresi diri dalam
berbagai kegiatan produktif seperti seni musik dan  teater serta mencari solusi yang sesuai
dengan permasalahan yang dihadapi. Aspek 
fisik mencakup perkembangan 
optimal aspek motorik halus dan kasar, menjaga stamina dan kesehatan.
Aspek  sosial menyangkut belajar
menyenangi pekerjaan, bekerja dalam tim, pandai bergaul, kepedulian tentang
masalah sosial, bertanggung jawab, menghormati orang lain, mengerti akan
perbedaan budaya, dan kebiasaan orang lain, mematuhi segala peraturan yang
berlaku dan berjiwa sosial.  Aspek  emosi, menyangkut aspek kesehatan jiwa, mampu
mengendalikan strss, mengontrol diri dari perbuatan negatif, percaya diri,
empati, dan berani mengambil  risiko.
 
Kesiapan yang perlu dilakukan pemerintah, melalui
Departemen Pendidikan Nasional antara lain mengemas kembali rencana strategis
pembangunan di bidang pendidikan secara terpadu-utuh. Artinya, pengemasan
kurikulum hendaknya ditempatkan pada konteks dan setting kepentingan nasional
maupun global.
           
Penyiapan yang matang ke masyarakat luas juga sangat
penting. Jangan sampai terjadi sebuah kebijakan yang bagus tidak dipahami
secara baik oleh masyarakat. Contoh sederhana yang pernah terjadi, tentang
sekolah gratis. Seorang tua siswa sebuah SMP di DKI Jakarta, datang ke sekolah
dengan membawa sepatu, tas, dan sebagainya. Dia minta diganti seluruh barang
yang telah dibeli tersebut. Kejadian itu pasti lebih disebabkan adanya informasi
yang dipahami cuma sepenggal atau sepotong. Mengapa? Karena informasi tentang
sekolah gratis memang kalah dengan partai dan capres. ***            
*) Peneliti pada Pusat Kaji Darindo