Beranda News Internasional Serukan Perdamaian, Paus Fransiskus Cium Kaki Presiden Sudan Selatan

Serukan Perdamaian, Paus Fransiskus Cium Kaki Presiden Sudan Selatan

253
BERBAGI
Paus Fransiskus bersimpuh untuk mencium kaki Presiden Sudan Selatan Salva Kiir pada akhir retret spiritual dua hari dengan para pemimpin Sudan Selatan di Vatikan, Kamis, 11 April 2019. REUTERS

TERASLAMPUNG.COM — Paus Fransiskus mencium kaki presiden Sudan Selatan Salva Kiir untuk memohon agar negara itu tidak kembali jatuh ke dalam perang saudara.

Selain mencium kaki Kiir, pemimpin Gereja Katolik se dunia ini juga mencium kaki mantan deputi Kiir yang berbalik menjadi pemimpin pemberontak Riek Machar, dan 3 wakil presiden Sudan Selatan.

“Saya meminta anda sebagai saudara untuk tetap dalam damai. Saya meminta dengan tulus hati, mari berjalan maju. Akan ada banyak masalah namun masalah tidak akan mengatasi kita. Atasi masalah anda,” kata Paus Fransiskus seperti dilansir dari Reuters, Kamis, 11 April 2019.

Paus yang menderita sakit serius di bagian kakinya berusaha membungkuk untuk mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan saat mereka bertemu di akhir retret dua hari Paus dengan para pemimpin Sudan Selatan di Vatikan pada hari Kamis, 11 April 2019.

Presiden Kiir dan para delegasi Sudan Selatan terpana menyaksikan usaha Paus berusia 82 tahun mencium kaki mereka dengan bantuan seorang penasehatnya.

Setelah pertemuan itu, para pemimpin Sudan Selatan diajak bersama-sama melakukan doa bersama selama 24 jam di dalam rumah Paus dalam upaya memulihkan rasa sakit akibat perpecahan negara itu menjadi Sudan Selatan dan Sudan. Pertemuan ini dilakukan sebelum negara itu membentuk pemerintahan.

“Akan banyak pergulatan, perselisihan di antara kamu namun tetap pertahankan itu dalam dirimu, di dalam kantor untuk berbicara. Tapi di depan orang-orang, bergandengan tangan bersatu. Jadi, sebagai warga negara, anda akan menjadi bapak bangsa,” kata Paus Fransiskus dalam bahasa Italia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Sudan yang mayoritas Muslim dan mayoritas Kristen tinggal di selatan, sebelum memerdekakan diri pada tahun 2011 sebagai Sudan Selatan. Kemudian,Sudan Selatan dilanda perang saudara selama dua tahun. Sekitar 400 ribu orang tewas dan lebih dari sepertiga dari 12 juta jiwa penduduk Sudan Selatan mengungsi.

Krisis pengungsi di Sudan Selatan merupakan yang terburuk sejak genosida Rwanda tahun 1994.

Kedua belah pihak yang berseteru kemudian menandatangani kesepakatan untuk berbagi kekuasaan pada September ini. Terlebih dahulu keduanya membentuk pasukan militer nasional sebelum membentuk pemerintahan pada Mei mendatang.

Paus Fransiskus mengatakan rakyat Sudah Selatan telah lelah dengan peperangan dan para pemimpin wajib membangun negara ini secara adil. Paus juga mengatakan akan berkunjung ke negara itu bersama sejumlah pemimpin agama lainnya untuk memperkuat perdamaian.

Tempo.co

Loading...