Setelah Badan Otorita Ibu Kota Negara Terbentuk

Ilustrasi pradesain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta. Foto: Twitter
Ilustrasi pradesain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta. Foto: Twitter
Bagikan/Suka/Tweet:

Dr. Eng. Ir. IB Ilham Malik*

Setelah Badan Otorita Ibu Kota Negara (BO IKN) terbentuk, setidaknya ketika ada Kepala dan Wakil Kepala BO IKN, arah pengembangan IKN menjadi lebih jelas terlihat di mata publik dan para pengamat. Perdebatannya tidak lagi berada dalam ranah teknis, tetapi masuk ke tataran kebijakan dan pengambil kebijakan. Intinya adalah bagaimana kita ingin melihat percepatan pembangunan IKN di tangan pengelolanya saat ini yaitu Bambang Susantono dan wakilnya.

Tentang bagaimana desainnya, kini sudah masuk ke tataran para ahli dan pelaksana saja, tidak lagi menjadi konsumsi politik dan media sosial secara berlebihan. Saat ini isu yang ditunggu adalah percepatan pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang sudah direncanakan di sana, sumber pembiayaan pembangunannya, dan tata kelola dari kawasan pemerintahan IKN sendiri. Hal ini yang sedang ditunggu publik.

Saya meyakini bahwa pasca terbentuknya BO IKN akan ada percepatan pembangunan dan ketersediaan kebijakan pendukung. Sebab, bagaimanapun, IKN membutuhkan pengelola khusus. Tidak bisa masing-masing kementerian menganggarkan untuk membangun sesuatu di IKN setiap tahunnya dan lalu hal itu akan membuat IKN menjadi “tampak”. Tentu saja tidak bisa seperti itu. Hal yang paling dibutuhkan adalah pusat pengelolaan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, yang juga menyiapkan perangkat regulasinya, mulai dari soal pengatur segala sesuatunya di lapangan hingga soal investasi di IKN dan sekitarnya. Disusul juga oleh pemaknaan dari “percepatan” pembangunan itu sendiri yang perlu diterjemahkan dengan baik di lapangan.

Kita tahu bahwa “kota” dibangun secara fisik (lahan) dan budaya (manusia). Dan itu semua tidak bisa terwujud dalam waktu cepat. Secara fisik memang bisa kita rekayasa atau rencanakan percepatan pembangunannya. Apalagi jika ada ketersediaan anggaran dan pelaksana pembangunan yang memadai. Maka jadwal percepatan pembangunan sarana dan prasaran IKN akan relatif mudah untuk disusun waktunya. Namun, kota sebagai budaya akan membutuhkan waktu yang tidak singkat, walaupun tetap bisa dijadwalkan dan dideteksi arah pengembangan budayanya dengan cara memasukkan unsur-unsur pembentuk budaya IKN. Kemudian kita lihat perkembangannya untuk dikendalikan dan dikembangkan. Menarik, saya kira, untuk membahas rekayasa budaya kota IKN. Teman-teman yang memang memiliki perhatian terhadap isu budaya kota, saya kira perlu membagi pandangannya terkait dengan hal ini.

Soal pembiayaan pembangunan IKN akan mudah untuk di-setting setelah BO IKN sudah terbentuk struktur kelembagaannya dan orangnya. Seluruh struktur BO IKN perlu dibuat sesuai kebutuhan membentuk IKN dari nol seperti sekarang, hingga ia menjadi sebuah ibu kota negara yang sesungguhnya. Kekuatan kotanya bukan soal fisik dan ruang semata tetapi lebih pada kemampuan kendali pengelola kota terhadap siklus dan kegiatan di sana yang membuat tokoh utama IKN yaitu presiden, dapat mengendalikan dan memperkuat nasionalisme seluruh warga bangsa.

Keberadaan IKN akan membuat marwah Presiden Republik Indonesia menjadi terjaga secara nasional dan terhormat secara global. Di luar isu soal kekuatan militer, ekonomi dan politik, ruang dan fisik kota perlu disetting menjadi dasar kekuatan yang bisa dipertontonkan kepada publik global. Itulah sebabnya kota ini nanti perlu dibangun dalam keagungan kota di masa depan. Bukan ketakjuban kita pada kota masa kini.

Karena itulah menjadi penting bagi BO IKN untuk memadukan tiga prinsip tambahan dalam merancang masa depan IKN yaitu mimpi, realitas dan persepsi. Hal ini akan membawa kota IKN yang telah disebut namanya sebagai Nusantara menjadi kota impian. Namun nantinya tetap berpijak pada realitas masa depan. Dan tentu saja memadukannya dan menyatakannya dalam pembangunan kota, tidaklah mudah. Namun, informasi Presiden tentang banyaknya berbagai pihak yang sangat ingin segera berkontribusi pada pembangunan di IKN, dapat menjadi modal penting bagi BO IKN. Karena bagaimanapun, lebih mudah mengendalikan investasi ketimbang mencari investasi. Seperti yang telah disampaikan oleh Presiden Jokowi, bahwa pada saat ini sudah sangat banyak yang mau berinvestasi di IKN. Dan ini akan menjadi modal bagus bagi BO IKN.

Tantangan dalam membangun IKN tentulah sangat kompleks. Bahkan, teramat sangat kompleks. Karena mengelola sebuah IKN lama yang bernama Jakarta saja sedemikian rumitnya, tentu membangun kota baru IKN akan lebih dari itu. Walaupun ada yang berpendapat akan lebih mudah membangun sebuah kota dari nol ketimbang merombak memperbaiki kota lama yang sudah rumit. Tapi saya menilainya tidak demikian, karena tantangannya juga berbeda. Tentang bagaimana membangun sebuah area yang berbentuk hutan menjadi sebuah kota bagi singgasana pemimpin bangsa besar Indonesia dengan budaya keluhuran nusantara. Tidaklah mudah dan bukan perkara sederhana mewujudkannya dan mengerjakannya.***

*Dr Eng Ir IB Ilham Malik, Kepala Pusat Riset dan Inovasi Metropolitan Institut Teknologi Sumatera

You cannot copy content of this page