Beranda Views Kisah Lain Setelah Mendengar Kisah Korban Ledakan Bom, Pria Ini Berhenti Sebagai Teroris

Setelah Mendengar Kisah Korban Ledakan Bom, Pria Ini Berhenti Sebagai Teroris

790
BERBAGI
Kurnia Widodo, mantan napi terorisme
Kurnia Widodo, mantan napi terorisme yang kini sudah bertobat.

TERASLAMPUNG.COM —  Banyak alasan bagi seseoang untuk menjadi teroris. Salah satunya adalah karena keyakinan “demi jihad”. Padahal, korban aksi terorisme tak jarang justru orang-orang tanpa dosa yang masih satu iman. Selain tewas mengenaskan, para korban ledakan bom hasil aksi para teroris,  tak jarang harus menderita sepanjang hidup.

Teroris adalah seorang manusia biasa yang pada titik tertentu mencapai batas kemanusiaannya, sehingga mamiliki rasa empati dan memilih bertobat.Alasan tobat juga beraneka macam. Salah satunya adalah ketika menyadari betapa menderitanya para korban aksi terorisme.

Cerita itulah yang di antaranya yang disampaikan Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme, pada acara Dialog Pelibatan Civitas Academica dalam Pencegahan Terorisme di kampus Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (20/8/2019).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran civitas academica untuk membersihkan lingkungannya dari paham radikal terorisme.

Pria yang pendidikan SMA-nya dituntaskan di Bandarlampung itu mengaku kesadarannya untuk berhenti menjadi teroris terjadi pada kisaran tahun 2014, saat ia menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

“Kalau di Lapas kami itu biasa dipanggil ustad oleh para sipir. Mereka biasa konsultasi urusan keagamaan, keluarga, karena kami dianggap mengerti soal-soal agama,” kata Kurnia mengawali ceritanya.

Menurut Kurnia, dari forum konsultasi dadakan itulah dia pada akhirnya tersadar tidak mungkin mengkafirkan aparat pemerintah, termasuk para sipir.

Masa orang nganggap kita ustaz malah kita kafirkan?” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta.

Selepas menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan, pertaubatan Kurnia semakin menemukan jalannya. Itu setelah dia difasilitasi oleh sebuah lembaga nirlaba untuk bertemu penyintas ledakan bom Hotel Ritz Carlton, Jakarta.

Dari korban ledakan bom Hotel Ritz Carlton ia mendapatkan cerita bagaimana penderitaan akibat luka yang diderita korban.

“Saya bukan pelaku bom Ritz Carlton, tapi waktu itu saya diajak ikut pertemuan. Korbannya namanya Febri, dia cerita bagaimana dia cerita setiap saat membuka perban akibat luka bakar. Saya ikut merasakan sakitnya,” ungkap Kurnia.

Puncak pertaubatan Kurnia terjadi saat BNPT memfasilitasinya untuk bertemu dengan korban ledakan bom Kedutaan Besar Australia. Saat itu ia mendengar testimoni korban harus kehilangan istri dan membesarkan anaknya seorang diri. Sang anak sempat mengatakan kelak ingin menjadi polisi untuk menembaki teroris, namun dibalas oleh ayahnya bahwa memafakan adalah pilihan terbaik.

“Sampai nangis saya. Dulu merakit bom dan beraksi tidak pernah berpikir bagaimana menderitanya korban ledakan bom,  tetapi korban akibat aksi kami malah memilih memaafkan,” ujar Kurnia.

Dari cerita yang disampaikannya, pria yang mengaku pertama kali terpapar paham radikal saat duduk di bangku SMA di Bandarlampung tersebut mengingatkan generasi muda untuk tidak pernah mencoba-coba mendekati atau mempelajari paham radikal terorisme. “Hati-hati dalam memilih teman, karena saya seperti ini juga karena salah dalah pertemanan,” ujarnya.

Pria yang kini  berdomisili di Bandung, Jawa Barat, itu mengajak masyarakat untuk mencintai dan merawat keutuhan Indonesia.

Dia menyebut Indonesia memang bukan negara berlandaskan agama, tapi Indonesia didirikan berdasarkan konsunsus pemuka agama.

“Itu sudah cukup untuk kita syukuri, karena kalau kita berkonflik kita tidak bisa menjalankan agama dengan tenang,” tandasnya.

Loading...