Beranda News Internasional Setelah Saling Ancam, Kim Jong-un dan Donald Trump Dijadwalkan Akan Bertemu

Setelah Saling Ancam, Kim Jong-un dan Donald Trump Dijadwalkan Akan Bertemu

197
BERBAGI
Kim Jong Un - Foto dok Telegraph

TERASLAMPUNG.COM — Setelah sempat saling mengancam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un dijadwalkan akan bertemu pada Mei 2018 mendatang.  Pertemuan bersejarah bagi pemimpin tertinggi kedua negara itu direncanajan akan membahas kesepakatan penghapusan senjata nuklir dari Semenanjung Korea.

Kabar rencana pertemuan dua tokoh penting yang sama-sama kontroversial itu dilansir oleh  Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong, di Gedung Putih, Kamis (8/3/2018).

“Saya berbicara kepada Presiden Trump mengenai pertemuan kami dengan pemimpin Kim Jong Un. Dia berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi,” kata Chung.

Menurut keterangan Chung, Trump menghargai komitmen Kim dan akan bertemu dengannya pada Mei untuk mencapai kesepakatan denuklirisasi permanen.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengonfirmasi, Trump akan menerima undangan untuk bertemu dengan Kim Jong Un pada tempat dan waktu yang akan ditentukan.

“Kami menantikan denuklirisasi Korea Utara. Sementara itu, semua sanksi dan tekanan maksimal harus tetap ada,” katanya.

 

Sambutan Positif

Donald Trump

Berita rencana pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong Un akan bertemu pada Mei mendatang disambut positif para pemimpin dunia dan analis.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang sebelumnya meragukan ketulusan Korut, menyambut baik pertemuan AS dengan Korut. Abe mengonfirmasi hal tersebut dengan langsung menelepon Trump.

Dalam perbicangannya itu, Abe tetap mengingatkan Trump bahwa masyarakat internasional perlu terus memberikan tekanan maksimal kepada Korut, meski perundingan berlangsung.

“Kami menyambut baik perubahan sikap Korea Utara,” kata Abe.

Abe akan mengunjungi AS pada awal April untuk bertemu Trump membahas soal Korut dan isu-isu lainnya.

Senator Partai Republik, Lindsey Graham, mengatakan sikap tegas Trump terhadap Korut memberikan harapan terbaik dalam beberapa tahun terakhir untuk menyelesaikan ancaman nuklir Korut tersebut secara damai.

“Peringatan untuk Anda (pemimpin Korut Kim Jong Un), hal terburuk yang mumgkin Anda lakukan adalah bertemu dengan Presiden Trump secara pribadi dan mencoba melawannya. Jika Anda melakukannya, maka itu akan menjadi akhir dari Anda dan rezim Anda,” kata Graham, melalui Twitter.

Sementara itu, asisten menteri luar negeri AS untuk Asia Timur dan Pasifik, Daniel Russel, menyebut ingin melihat detail dan mendengar langsung dari Korut mengenai rencana denuklrisasi.

“Perlu diingat bahwa selama bertahun-tahun Korut ingin agar setiap presiden AS yang terlibat pembicaraan dengan pemimpin Korea Utara setara satu sama lain, sebagai negara nuklir yang sama. Yang terbaru ini bukan usulan, itu ,sebuah jawabannya,” ujar dia.

Meski begitu beberapa pejabat lain dan para analis khawatir Korut hanya ingin mengulur-ulur waktu untuk membangun dan memperbaiki persenjataan nuklirnya.