Beranda Views Kopi Sore Seumpama Menjadi Kupu-Kupu

Seumpama Menjadi Kupu-Kupu

204
BERBAGI
Edi Sutarto*
Di jalan raya banyak motor dan mobil
saling menyalip satu sama lain Mengapa? Lantaran dulu, sejak kecil di
rumah dan di sekolah. Mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan
menjadi lebih sabar. Ini
akibat mereka didIdik untuk menjadi yang terdepan, bukan yang tersopan dan
tersantun.
Di
hampir setiap instansi pemerintah dan swasta, banyak  pegawai yang suka
korupsi
Mengapa? Lantaran dulu, sejak kecil di rumah dan di sekolah, Mereka
dididik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan Bukan
dididik menjadi bangga terhadap kesederhanaan dan keikhlasan. 
Di
hampir setiap kesempatan kita mendapati orang mudah sekali marah. Mereka
‘ngotot’ merasa paling benar sendiri. Mengapa? Lantaran dulu sejak kecil
di rumah dan di sekolah.
Mereka sering dimarahi ketika melakukan kekeliruan. Bukan diberi
pengertian, lalu dibimbing melakukan yang benar dan tepat.
Di
hampir setiap rumah ibadah, kuburan, sudut dan perempatan jalan. Juga di
tempat-tempat pariwisata, kita menemukan banyak pengemis. Mengapa?
Lantaran dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah. Mereka selalu dicecar
tentang kekurangan dan kelemahannya. Bukan diajari mengenali kelebihan dan
kekuatannya.
Inilah
potret-potret dunia dan kehidupan di sekeliling kita. Inilah ciptaan kita
sendiri ketika mereka di rumah dan di sekolah. Pertanyaanya:  di
rumah dan sekolah mana ke lapangan diajarkan?

Dan di antara kelapangannya terasah intelektualitas, sensitivitas, dan
imajinasi. Dan sejak kecil anak-anak dididik seumpama ulat yang menjadi
kepompong. Lalu dari kepompong berhamburan keindahan dengan sayap-sayap
lembut. Meski lembut, efek kepakan sayapnya mampu menghadirkan angin
tornado, yang mampu mencerabut akar-akar segala kesempitan bepikir dan
bertindak
Edi
Sutarto adalah seorang pendidik, tinggal di Makkasar. Tulisan ini terinspirasi
usai membaca tentang Goerge Carlin (Komedian pemerhati kehidupan)
Loading...