Siapakah Pemenang Sejati?

  • Bagikan
Gunawan Handoko

Oleh : Gunawan Handoko*

Hanya tinggal menghitung waktu, Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak di seluruh Tanah Air akan berlangsung, tepatnya pada 27 Juni 2018 mendatang.

Para kandidat pun telah berjuang melalui berbagai cara untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat sejak beberapa bulan lalu. Bukan itu saja, para kandidat juga berjibaku dengan berbagai cara untuk bisa mendapatkan dukungan partai politik sebagai persyaratan untuk bisa mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah.

Cukup melelahkan memang, di samping membutuhkan dana yang tidak sedikit. Meski semua kandidat merasa optimis bakal meraih kemenangan, namun pada akhirnya hanya akan muncul satu saja sebagai pemenang. Maka kita berharap agar semua Pasangan Calon Kepala Daerah telah siap untuk meraih kemenangan dan siap pula untuk menerima kekalahan.

Yang menang tidak akan lupa diri dan tampak jumawa, yang kalah pun tetap bisa menegakkan kepalanya tanpa harus diselimuti perasaan nista dan hina-dina. Itulah yang sedang kita tunggu apakah para kandidat benar-benar memiliki sikap ksatria (walau tidak harus ksatria pinandhita), atau justru sebaliknya. Semua akan terlihat setelah pertarungan usai nanti.

Kita sering mendengar pesan arif yang amat populer dari seorang budayawan Jawa, R.M. Sosrokartono terkait dengan pertarungan atau kompetisi. Dalam setiap pertarungan, seorang petarung sejati akan memedomani Menang Sejati atau Sejatining Menang, dalam pertarungan apa saja, termasuk Menang Tanpa Ngasorake (menang tanpa mengalahkan). Itulah kemenangan sejati. Muncul pertanyaan, bagaimana mungkin seseorang bisa menang kalau tidak mengalahkan. Bila yang satunya menang, pastilah yang satunya terkalahkan.

Nah, untuk memperjelas ungkapan menang tan ngasorake agar lebih bermakna, maka perlu dirangkai dengan ungkapan lain, yakni nglurug tanpa bala (menyerbu tanpa pasukan), sekti tanpa aji (sakti tanpa ajian), atau bahkan dhuwur tan ngungkuli (tinggi namun tidak melampaui) dan kebat tan nglancangi (cepat namun tidak menyalip). Sifat-sifat inilah yang melekat pada diri seorang manusia pinunjul atau Manusia Agung, yakni para pemimpin.

Diakui memang bahwa deretan ungkapan tersebut penuh dengan aroma paradoksal. Namun justru disana sebenarnya bersemayam spirit yang paling khas dalam pola pergaulan Jawa yang ditentukan oleh dua prinsip utama, yakni rukun dan kurmat.

Dalam etika Jawa, orang sebisa mungkin menghindari konflik fisik, termasuk adu mulut secara terbuka, apalagi menghujat dan mencaci. Kalaupun berbeda pandangan dengan orang lain, biasanya diungkapan dengan cara yang halus, entah lewat ’pasemon’ atau yang lain sindiran halus lainnya.

Boleh saja pendapat atau sikap itu berbeda, boleh saja ada anggapan bahwa pendapat orang lain itu salah atau lemah, tetapi semua itu tidak perlu ditunjukkan secara thok-leh atau telanjang bulat sehingga membuat orang lain terpermalukan.

Dari ungkapan di atas, maka jelaslah bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan utnuk mengendalikan diri, sabar, santun dan tidak emosional. Tanpa itu, justru yang terekspresikan adalah hasrat untuk meraih keunggulan dengan jalan mengalahkan, tidak peduli itu akan meng-asor-kan.

Dalam bahasa sederhana, menang tanpa ngasorake  (menang dengan tidak menggap remeh/rendah lawan) sebagai sebuah imperatif halus untuk senantiasa rendah hati (bukan rendah diri) dan tidak congkak. Dengan begitu tidak akan terjebak pada sikap yang dalam istilah Jawa disebut adigang, adigung dan adiguna, sapa sira sapa ingsun, yakni tidak menyombongkan kekuatan, kekuasaan-kekayaan, maupun kepintaran dengan memandang sebelah mata kepada mitra tarungnya.

Sungguh tidak mudah untuk menjalankan tata kelola atas kemenangan, apalagi kekalahan. Lebih-lebih jika harus menjadi pemenang sejati yang tidak lupa diri atau menjadi petarung yang bisa nglenggana atas kekalahannya dengan penuh kelapangan dada. Sekalipun demikian, ukuran atas kemenangan bagi setiap orang tidaklah selalu sama. Itu lantaran setiap orang memiliki persepsi yang tidak sama terhadap kemenangan.

Jika sudah berani masuk ke tengah gelanggang pertarungan, seseorang haruslah siap menang, juga mesti juga siap kalah. Jangan sampai segala cara dihalalkan demi untuk memenuhi ambisi syahwat kekuasaan. Lebih baik menang walau bermasalah, daripada mengalami kekalahan.

Sungguh itu bukan sifat ksatria dan jauh dari apa yang diajarkan oleh R.M. Sosrokartono tadi. Nglenggana terhadap kekalahan adalah kemenangan tersendiri yang bukan tidak mungkin akan menjadi investasi besar untuk menggapai yang lebih besar dan bahkan agung di lain kesempatan.

Di situlah optimisme mesti diletakkan dengan lambaran sikap ksatria. Karena kekalahan bukanlah akhir segalanya, itulah pentingnya berpolitik yang santun tanpa harus menghujat pihak lawan dan memuji diri sendiri sebagai sosok yang paling baik.***

*Pemerhati Tuntunan dan Budaya Jawa, tinggal di Bandarlampung

  • Bagikan