Beranda Hukum Kriminal Sidang Perdana Penusukan Syekh Ali Jaber, Ini Dakwaan Jaksa

Sidang Perdana Penusukan Syekh Ali Jaber, Ini Dakwaan Jaksa

88
BERBAGI
Tangkapan layar sidang perdana secara virtual kasus penusukan Syekh Ali Jaber di PN Tanjungkarang, Kamis (19/22/2020).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, menggelar sidang perdana kasus penusukan Syekh Ali Jaber dengan terdakwa Alfin Andrian (24), Kamis (19/11/2020).Sidang perdana yang dilakukan secara virtual dengan agenda pembacaan dakwaan jaksa penuntut umum.

Sidang dipimpin oleh hakim Dadi Rachmadi dengan anggota Surono dan Hendro Wicakson. Sidang dilakukan di tempat terpisah. Terdakwa Alfin Andrian pelaku penusukan Syekh Ali Jaber bersama kuasa hukumnya menjalani sidang secara virtual di ruang Jatanras Mapolresta Bandarlampung. Sementara jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan negeri (Kejari) Bandarlampung di ruang sidang PN Tanjungkarang.

Di layar kaca sidang yang berlangsung secara virtual tersebut, Alfin yang mengenakan kemeja dan peci warna putih dan mengenakan masker warna hijau, raut wajahnya terlihat tidak bersemangat. Ia tampak lemas. Suaranya lirih saat menjawab pertanyan ketua majelis hakim.

Sebelum sidang dimulai, Ketua majelis hakim sempat menanyakan kondisi kesehatan terdakwa Alfin untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. “Bagaimana keadaan saudara Alfin saat ini,”tanya Ketua majelis Hakim.

“Baik dan sehat yang mulia,” jawab Alfin lirih.

Kemudian Majelis hakim juga menanyakan sejak kapan terdakwa ditahan. Alfin kembali menjawab, “Sejak Senin 14 September 2020 yang mulia,”jawab Alfin.

Setelah itu, jaksa penuntut umum (JPU), Benny Nugroho membacakan dakwaaanya. Dalam dakwaannya JPU menjelaskan, kejadian itu berawal Minggu, 13 September 2020. Dimana pada saat itu, terdakwa Alfin Andrian tengah terbangun dari tidurnya sekira pukul 08.00 WIB.

“Begitu terbangun, terdakwa langsung mandi. Setelah mandi, terdakwa makan pagi lalu pergi ke warung untuk membeli rokok. Setelah itu terdakwa duduk-duduk ngobrol bersama neneknya,”kata JPU dalam sidang secara virtual tersebut, Kamis (19/11/2020).

Taklama dari itu, kata JPU, terdakwa Alfin kembali tidur bersama pamannya, lalu terbangun kembali sekira pukul 11.00 WIB dan kembali berbincang bersama neneknya sembari menyeduh segelas teh. Selanjutnya, dia (terdakwa) duduk disamping rumah neneknya.

“Sekira pukul 14.00 WIB, terdakwa mendengar ada pemberitahuan kedatangan Syekh Ali Jaber melalui pengeras suara Masjid Falahuddin di Jalan Tamin, Kelurahan Sukajawa, Tanjungkarang Barat,”bebernya.

Terdakwa juga, mendengar adanya suara orang mengaji dari arah Masjid Falahudin, dimana terdakwa pada posisi duduk sendiri diteras rumah terdakwa. Kemudian, terdakwa melihat tetangga rumah dekat terdakwa pergi berjalan menuju ke Masjid Falahudin tersebut. Sedangkan terdakwa Alfin, tetap duduk di teras rumah terdakwa.

Sekira pukul 16.00 WIB, terdakwa kembali menuju kearah belakang rumah yang tepat dikontrak saksi Wisnu dan bertemu dengan paman terdakwa yakni saksi Riandi alias Iyam yang sedang duduk di teras kontrakan tersebut. Kemudian, terdakwa sempat meminta rokok kepada saksi Riandi alias Iyan.

“Saat itu saksi Riandi tidak punya rokok, lalu saksi Riandi pergi meninggalkan terdakwa didepan teras kontrakan tersebut untuk membeli rokok,”ujarnya.

Taklama kemudian, terdakwa bertemu saksi Wisnu di kontrakan tersebut. Terdakwa sempat bertanya kepada saksi Wisnu, Aa di Masjid Falahudin itu rame-rame ada apa Aa?. Lalu dijawab saksi Wisnu; Itu ada ulama dari Jakarta datang. Kemudian terdakwa mengatakan; Oh, yang biasa nongol di TV itu ya? Dan dijawab saksi Wisnu; Ia lalu saksi Wisnu kembali masuk ke rumahnya.

Selanjutnya, kata JPU, saksi Riandi datang dari warung menyerahkan rokok sembari berkata; itu Ustadz Ali Jaber sudah datang. Setelah terdakwa menerima rokok dari Riandi, terdakwa Alfin kembali ke rumah neneknya dan langsung ke dapur untuk mengambil sebilah pisau bergagang kayu kemudian diselipkan di pinggang sebelah kiri terdakwa.

Taklama kemudian, terdakwa berjalan menuju Masjid Falahudin yang berjarak 200 meter dari rumah terdakwa. Sesampainya di pintu gerbang halaman masjid, terdakwa langsung menuju berlari kearah saksi korban Syekh Ali Jaber yang sedang duduk dikursi diatas panggung.

“Terdakwa mengeluarkan sebilah pisau yang telah diselipkan dipinggang sebelah kiri terdakwa dengan tangan kanannya, lalu terdakwa berlari lantas mengayunkan pisau yang dipegang ditangan kanannya kearah tubuh bagian korban,”ungkapnya.

Seketika itu saksi korban bergerak dan melihat kearah datangnya terdakwa, sehingga tusukan terdakwa mengenai lengan kanan saksi korban.

“Sambil mengangkat tangan kanannya untuk menangkis serangan terdakwa, namun mengenai lengan kanan saksi korban,”jelasnya.

Saat itu juga, saksi korban berdiri dan terdakwa langsung diamankan oleh jamaah yang hadir dalam acara tersebut. “Atas perbuatan terdakwa itu, mengakibatkan korban mengalami luka terbuka pada lengan tangan kanan,”tandasnya.

Seusai pembacaan dakwaan tersebut, Ketua majelis hakim, Dadi Rachmadi menanyakan ke penasehat hukum (PH) terdakwa Alfin Andiran, yakni Andriansayah. “Bagaimana, apakah mengajukan eksepsi?” tanya Ketua majelis hakim.

Pertanyaan Majelis hakim tersebut dijawab oleh PH terdakwa “Tidak yang mulia,”jawab Andriansyah.

Setelah itu, Majelis hakim menyampaikan sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Namun, JPU belum bisa menghadirkan saksi dalam sidang tersebut.

“Baik, sidang kita lanjutkan pekan depan, Kamis 26 November 2020 mendatang. Agendanya, keterangan saksi maksimal lima orang saksi dan sidang kami tutup,”pungkasnya.

Setelah usai mengikuti jalannya persidangan, terdakwa Alfin Andrian dibawa kembali menuju ke ruang tahanan Mapolres Bandarlampung.