Sisi Kelam Aceh yang Terekam Indah dalam Novel

  • Bagikan

Oleh Nanda Feriana

 

Judul buku: Burung Terbang di Kelam Malam
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Bentang, 2014
Isi: xvi + 376 hlm

 

“Aku tidak ingin memutarbalikkan fakta, membuat  yang baik menjadi buruk atau memburukkan hal yang baik. Jadi, aku tidak akan mengatakan bahwa orang Aceh ini baik, kalau memang kenyataanya mereka buruk.”

Demikianlah petikan Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) karya penulis Aceh, Arafat Nur.

Aceh Undercover (Aceh di balik sampul)
Tidak jauh beda dengan Lampuki (Serambi, 2010)—karyanya terdahulu yang berkisah dengan latar Aceh pada masa konflik—Arafat Nur dalam novelnya kali ini kembali memperlihatkan wajah lain Aceh masa kini. Bedanya dengan Lampuki, novel terbitan Bentang ini lebih memperlihatkan kondisi kehidupan masyarakat Aceh usai perang dan musibah tsunami.

Dalam beberapa bab, kita akan menemukan sisi-sisi lain dari bagaimana Aceh masa kini yang mungkin membuat kita sulit percaya. Namun, alur cerita yang jujur dan mengalir apa adanya, dengan jelas mampu menunjukkan betapa bobroknya kehidupan politik, sosial, budaya masyarakat Aceh saat ini.

Sisi kelam itu diperlihatkan secara gamblang melalui gamangnya kehidupan yang dialami Fais. Fais tak ubahnya seekor “burung yang terbang di kelamnya malam”, tidak  memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas. Sosok pemuda ini merupakan sedikit dari representatif orang Aceh yang tidak cukup bangga dengan keacehannya.

Novel Burung Terbang di Kelam Malam ini mengisyaratkan kegelisahan melihat Aceh, berkat kekuatan proximity dan sensifitas yang dimiliki sang penulis mampu melahirkan realitas Aceh dalam karya fiksi yang begitu kuat dan nyata. Novel ini tak ubahnya kaca pembesar supaya bisa melihat Aceh secara lebih dekat.

Masih belum berpindah dari gaya khasnya yang lugas, berani, dan blak-blakan, Arafat Nur berhasil merekam sebuah gambaran kehidupan manusia Aceh masa kini yang hidup tak terarah dalam masa-masa transisi usai perang dan musibah. Di sela-sela cerita, kita akan menemukan berbagai sindiran seputar kecurangan, pengkhianatan, kemerosotan, ketidak-adilan, kebohongan, dan kepedihan yang terus terjadi dalam negeri ini.

Tetapi, anehnya kita seolah tetap diajak menikmati kisah pilu itu sambil berkelakar, tertawa sambil merasakan pedihnya deraan hidup dengan bahasa dan kata-kata yang polos, tajam, serta satire.

Kisah penguasa munafik dan berotak tumpul yang memainkan sandiwara politik, perempuan-perempuan nakal, kuli tinta yang tak ubahnya penjilat; semua itu berhasil dikemas secara utuh sebagai sebuah cerita yang mengungkap tentang sebuah kenyataan bahwa inilah Aceh di balik sampulnya (Aceh Undercover). Dengan memberi nutrisi pada alur ceritanya, Arafat Nur mengajak kita menyantap bacaan yang bergizi, dan memberi banyak asupan pelajaran.

Ketika menggambarkan sosok Tuan Beuransyah, Walikota Lamlhok, kita dihadapkan pada cerminan penguasa Aceh yang tak ubahnya preman dan mafia dalam pemerintahan. Berbagai sandiwara politik dimainkan untuk dapat memenangkan suara pada pemilihan kepala daerah. Ia dan antek-anteknya tidak segan-segan menghilangkan nyawa orang lain yang mengahalanginya. Sebaliknya, dia melindungi siapa pun yang bersedia menuliskan kebaikan-kebaikannya.

Karakter Tuan Beuransyah yang keras menggambarkan karakter lelaki Aceh kebanyakan, yang garang  dan juga gemar kawin. Tuan Beuransyah tidak hanya licik, namun juga seorang penggila perempuan. Ada banyak perempuan yang ditelantarkannya setelah ia nikahi, lalu perempuan itu pun menjadi perempuan-perempuan kesepian yang hidupnya jauh dari syariat.

Untuk menjaga wibawanya di depan publik, Tuan Beuransyah menyembunyikan perilaku tak terpujinya itu dengan sangat rapi. Sehingga di mata Fais, lelaki itu tak lebih daripada lelaki bodoh yang lihai menipu rakyat. Oleh sebab itu, Fais pun tergerak melakukan penelusuran untuk membongkar kebrobrokan Tuan Beuransyah. Petualangan mencari pembuktian itu pun pada akhirnya menyeret Fais berhadapan dengan kondisi-kondisi rumit dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak sewajarnya ia lakukan.

Novel ini menghadirkan tokoh-tokoh yang berperilaku jauh dari kesan manusia serba sempurna yang tampil bak seorang berhati malaikat. Tokoh utamanya sendiri bahkan sulit ditebak, sewaktu-waktu bisa tampil begitu alim, namun waktu lainnya bak seorang pendosa besar. Sosok yang kita anggap polos, dalam beberapa kesempatan bisa terlihat sangat munafik. Fais memang sosok aneh, wartawan petualang yang lebih suka menulis buku daripada menulis berita.

Perempuan-perempuan yang hadir sepanjang cerita novel ini merupakan perempuan yang tak biasa. Di balik “sampul” Aceh yang bersyariat, kita masih saja menemukan perempuan-perempuan berbusana celana dan kemeja ketat, serta tanpa kain tutup kepala.  Mereka agresif, tanpa basa-basi, berani, cuek dan cendrung nakal. Novel ini mengurai karakter-karakter tak biasa itu lewat sosok seperti Aida, Haliza, Rohana, Laila, Diana, Sania, dan Safira.

Novel ini tak ubahnya laporan dari seorang backpacker journalism (jurnalis petualang) yang mencatat berbagai pristiwa dalam setiap perjalanan yang dilaluinya. Kita pun bisa berkenalan lebih dekat dengan daerah-daerah di Aceh yang ditapaki oleh si petualang. Fais memulai dari Panton, sebuah kota kecil di Aceh Utara yang masih menyisakan aroma perang dengan kantong kemiskinan di mana-mana. Lalu menuju bagian timur Aceh, yakni Langsa dan Kuala Simpang, yang kehidupan masyarakatnya sudah meniru-niru Medan. Kemudian kita diajak menikmati tidak meratanya pembangunan Kota Sigli, semakin majunya Kota Bireun dan Ibukota Aceh, Banda. Di akhir  cerita kita disejukkan dengan indahnya alam dataran tinggi kota dingin Takengon yang terletak di bagian tengah Aceh. 

Kehidupan sosial masyarakat Aceh juga tergambar jelas dalam novel ini. Salah seorang potret remaja Aceh dalam novel ini adalah Diana. Diana adalah gadis SMA yang terlalu cepat dewasa. Karena tidak terlalu diperhatikan oleh orang tuanya dan tidak mendapat pendidikan agama yang cukup maka terjerat lah ia dalam pergaulan bebas. Diana menjadi pribadi yang haus kasih sayang, manja, dan menjadi sangat liar.

Remaja serupa Diana tak pernah peduli soal pendidikan. Buruknya masa depan Diana, menjadi gambaran akibat pendidikan yang sangat merosot di negeri Serambi Mekkah itu. Baik kalangan muda maupun tua sama-sama tak mengaggap pendidikan hal yang cukup penting, bahkan mereka tidak akrab dengan buku.

Ada ungkapkan dalam novel ini jika orang Aceh disuruh memilih pedang atau buku, maka orang Aceh akan memilih pedang, mereka lebih suka berperang daripada membaca. Terlebih membaca novel menjadi hal yang masih sangat asing. Novel adalah benda asing, bahkan orang Aceh lebih suka main senjata daripada membaca novel. Parahnya, bagi mereka yang thau apa itu novel sering menganggap bahwa novel hanyalah tulisan cabul yang tak mendidik dan tak ada manfaatnya dibaca. 

Fais menceritakan tentang kelamnya dunia yang ia tekuni, yakni dunia kewartawanan. Masa transisi Aceh yang beralih dari konflik, juga ikut merubah orientasi pemberitaan oleh media pers di Aceh. Gambaran perkembangan pers di Aceh yang mulai meninggalkan berita-berita peperangan, dan beranjak pada berita-berita politik dan kriminal. Memprihatikannya, menjamurnya koran kriminal di tengah masyarakat yang memuat berita cabul, pemerkosaan semakin hari kian diminati masyarakat.

Ada sindiran yang terasa kentara sekali pada kutipan berikut ini: “Seorang juru warta yang baik di daerah ini harus memiliki kulit muka yang lebih tebal daripada tembok.” dan “ …maka yang terlihat dari bentuk kerumuman yang mengelilingi lelaki itu tak ubahnya seperti kumpulan anak-anak bodoh yang mengerubungi ayahnya yang baru saja pulang dari Rumah Sakit Jiwa.”.

Akan banyak kejutan lainnya yang kita temukan dalam novel dengan alur cerita yang rapi dan penuh kejutan ini. Novel ini tidak  akan membuat bosan dengan bahasa yang lugas, ringan, bahkan begitu dekat. Pada akhirnya kita memang harus bersepakat bahwa dalam sastra yang paling penting adalah bagaimana mengutarakan alasan yang paling masuk akal, sebagaimana yang diungkapkan novel ini.

  • Bagikan