Opini  

Sistem Komunikasi Digital: Dari Era Industri 4.0 Menuju Era Society 5.0

Rudi Alfianto
Rudi Alfianto
Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Rudi Alfianto
Mahasiswa  Magister Ilmu Komunikasi Universitas Lampung

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, seluruh wilayah di Indonesia sedang berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Di setiap sudut kehidupan, terdengar kisah tentang penderitaan dan kesedihan. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan krisis baik di bidang kesehatan, sosial maupun ekonomi.

Pada masa tahap awal pandemi merebak, hampir semua lapisan masyarakat bawah hingga atas tergagap menghadapi situasi yang sangat berubah. Namun, perlahan tetapi pasti, seiring dengan hantaman gelombang pandemi membuat seluruh masyarakat mulai mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi.

Pandemi adalah jamu yang harus kita minum untuk pulih, tumbuh, dan bangkit menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Pandemi ini juga memaksa pemerintah Indonesia melakukan pengaturan ulang terhadap sendi kehidupan masyarakat, meninjau seluruh kebijakan, dan segala perencanaan yang telah disusun sebelumnya harus dievaluasi kembali. Hal itu karena dunia telah berubah dan tidak akan kembali seperti dahulu.

Momentum ini menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk mengetahui dan mempelajari lagi kekuatan-kekuatan yang dimiliki, serta memposisikan diri dalam persiapan menghadapi pandemi yang akan muncul kembali di masa yang akan datang sehingga mampu menjalankan fungsi sendi-sendi seluruh kehidupan di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Dampak pandemi Covid-19 yang makin meluas terutama pada sektor industri memaksa pemerintah untuk lebih cepat melakukan inovasi digital serta beradaptasi secepat mungkin. Menurut situs Forbes, revolusi industri 4.0 bisa diartikan adanya campur tangan sebuah sistem cerdas dan otomatisasi dalam dunia industri. Istilah revolusi industri 4.0 pertama kali digaungkan pada Festival Hannover, 4-8 April 2011 oleh pemerintah Jerman agar bidang industri menuju ke level yang lebih lanjut dengan bantuan teknologi. Hal ini digerakkan oleh data melalui internet dan kecerdasan buatan.

Dalam revolusi Industri 3.0, komputer sudah mulai dinilai sebagai sesuatu yang mampu menciptakan peluang pasar baru. Revolusi industri 4.0 memanfaatkan komputer yang saling terhubung dan berkomunikasi dengan tujuan membuat keputusan tanpa campur tangan manusia. Revolusi Industri 4.0 mengintegrasikan dunia komputer dan lini produksi di dalam industri, di mana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama.

Peningkatan otomatisasi, komunikasi antarmesin, komunikasi manusia dengan mesin, kecerdasan buatan adalah bentuk baru dari interaksi manusia dengan mesin. Instruksi dari bentuk virtual ke dalam bentuk fisik, contoh nya seperti robot yang bekerja di pabrik atau mesin cetak 3 dimensi.

Memasuki era revolusi industri 4.0, visi Indonesia menjadi bangsa digital yang maju khususnya bidang teknologi agar masyarakat lebih memanfaatkan teknologi digital dimulai melalui edukasi. negara maju sudah berupaya mewujudkan era masyarakat baru (society 5.0), pada konsep society 5.0, masyarakat dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dengan memanfaatkan inovasi yang lahir pada era revolusi industri 4.0.

Pandangan ini bermakna bahwa teknologi sebagai alat bantu, sedangkan sebagai aktor utama tetap manusia. Di sini kita bisa belajar bahwa dunia nyata dan dunia maya tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, konsep ini berusaha menciptakan masyarakat di masa depan menjalani kehidupan yang berkualitas tanpa batasan.

Komposisi penduduk di Indonesia pada tahun 2030-2040 diprediksi akan didominasi oleh usia produktif. Dalam membangun ekosistem masyarakat yang cerdas dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi menjadi tantangan bersama.

Menyambut era society 5.0 dibutuhkan perbaikan di berbagai sektor, pemerintah sebaiknya berupaya fokus mewujudkan pelayanan publik berbasis teknologi yang berintegrasi antar lembaga pemerintahan dan swasta demi tercipta pelayanan publik yang berkualitas. berbagai jenis pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya akan bermunculan di masa depan, untuk itu dibutuhkan revolusi pada penyelenggaraan pelayanan.

Presiden Joko Widodo juga telah mewacanakan untuk mengganti pelayanan di kantor pemerintah dengan menggunakan teknologi robot, agar pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. Dimulai dari penetapan standar minimal pelayanan, jalur konsultasi publik, survei masyarakat kepuasan layanan, inovasi pelayanan, pengaduan hingga evaluasi. Pola pikir pemerintah yang sebelumnya cenderung kaku dan self-oriented, diubah menjadi pelayan bagi masyarakat. Pemerintah diharapkan mampu mewujudkan pelayanan yang prima, yang tidak hanya mencapai ekspektasi namun mampu melebihi harapan dari masyarakat.

Untuk menjaring sebesar-besarnya potensi dari industri di masa depan, sangat penting bagi pemerintah untuk menyiapkan negaranya dengan baik melalui upaya terpadu dan kerja sama dengan multistakeholder di level nasional, regional, dan internasional. Agar menjadi lebih kompetitif, pemerintah harus tetap berada di jalur yang benar dengan terus membangun ekosistem ekonomi digital di Indonesia dan melakukan perubahan mindset untuk mempercepat proses digitalisasi melalui kebijakan, termasuk mempermudah perizinan. Pasar perdagangan online turut mendorong perkembangan ekonomi Indonesia, memberi dampak positif pada sosial ekonomi yang dibangun dari sumber daya manusia, ekosistem ekonomi digital, dan pemberdayaan usaha menengah kebawah.

Mengapa kita harus melakukan tranformasi digital? Karena bangsa Indonesia Indonesia pada umumnya dan provinsi lampung pada khususnya harus survive, mampu menjalankan fungsi-fungsi seluruh kehidupan di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini. Apabila kehadiran teknologi digital telah merata di seluruh wilayah Lampung diharapkan informasi dari sumber-sumber kredibel maupun informasi layanan pemerintah untuk masyarakat dapat tersampaikan dengan baik, dengan menyeimbangkan arus informasi dari berbagai media. Manusia sebagai makhluk sosial di saat pergerakan dibatasi oleh physical distancing, maka ketergantungan kita menjadi semakin besar terhadap akses telekomunikasi.

Selama masa pandemi Covid-19 anggota keluarga kita lebih sering berkumpul di rumah, adik-adik kita yang masih pelajar terpaksa menjalani proses belajar dari rumah. Hal tersebut membuat rata-rata waktu untuk menggunakan gawai setiap harinya pun meningkat. Hal tersebut bisa menjadi celah untuk memupuk rasa memiliki, kecintaan akan bangsa dan negara Indonesia dan semua kehebatannya khususnya di wilayah Provinsi Lampung.

Kualitas layanan komunikasi baik di pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan dengan wilayah yang berbatasan dengan provinsi lain sangat penting sebagai gerbang terdepan Provinsi Lampung baik ke timur, ke barat, ke selatan maupun ke utara. Ketika kesetaraan akses informasi telah terjadi, maka berikutnya era revolusi industri 4.0 tidak hanya terjadi dari sisi teknologi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sumberdaya di ujung wilayah provinsi Lampung juga harus diperkuat dan juga dilindungi. Pasalnya, daerah-daerah ini masih diliputi banyak masalah diantaranya keamanan dan kesejahteraan. Hal ini diperparah dengan maraknya tindakan kriminal yang terjadi di wilayah tersebut menjadi potensi ancaman bagi masyarakat Lampung di wilayah perbatasan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Karena itu, pemerataan pembangunan jaringan komunikasi di wilayah perbatasan mempunyai peran yang penting sehingga perlu ditangani dengan serius dan maksimal, mengingat harapannya tidak hanya soal kenyamanan tapi juga rasa keamanan masyarakat yang merata di seluruh wilayah provinsi Lampung.***