Beranda News Nusantara Siswi SMKN Ini Putus Sekolah karena Dibully Guru Agama, Diteriaki Lonte

Siswi SMKN Ini Putus Sekolah karena Dibully Guru Agama, Diteriaki Lonte

1239
BERBAGI
Ilustrasi bullying | pixabay.com

TERASLAMPUNG.COM — Perundungan atau bullying tidak hanya bisa dilakukan oleh anak, remaja, atau teman sebayat. Bullying juga bisa dilakukan oleh orang dewasa terhadap remaja. Akan menjadi ironis ketika bully justru dilakukan oleh seorang guru. Seperti yang dilakukan S, guru agama di SMKN 1 Ai Asok, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, misalnya.

Karena dibully S yang notabenenya gurunya sendiri, AR akhirnya putus sekolah. AR malu besar karena S membully AR di tempat umum, tepatnya di pelabuhan.

Bully yang dilakukan S tergolong di luar kepantasan. Ia meneriaki AR dengan kata “Lonte” atau pelacur. Saat itu AR tidak sendiri. Ia berada di pelabuhan bersama teman-temannya.

Dilansir lindungianak.com, peristiwa tersebut terjadi pada Oktober 2019 lalu. Di tempat kejadian banyak siswa-siswi lainnya. Ada juga guru SMKN 1 Anambas lainnya di pelabuhan roro tersebut.

Teriakan itu membuat AR malu. Ia pun mengangis dan langsung pulang, berboncengan dengan temannya dengan sepeda motor. Di rumah, ia mengadukan kejadian yang menimpanya siang itu ke orangtuanya.

Orang tua AR geram. RM, ibu kandung AR, mengaku heran kenapa ada guru bisa begitu marah dan menyebut anaknya lonte di depan orang ramai?

RM, ibu kandung AR kepada lindungianak.com, Jumat (17/1/2020) menceritakan kronologis insiden di pelabuhan roro saat guru SMK 1 Anambas membully anaknya dalam perjalanan pulang sekolah ke rumahnya.

‘’Di pelabuhan anak saya duduk membonceng teman laki-lakinya. Motor tersebut punya anak saya, dan teman laki-lakinya baru pandai naik motor. Mereka ngombrol sambil menunggu roro datang. Melihat kondisi seperti itu, gurunya yang juga ada di pelabuhan tersebut langsung meneriaki AR dengan sebutan lonte,’’ tutur RM.

“Kamu macam lonte!’’ tutur RM, menirukan bully S kepada AR.

Sejak dibully gurunya, AR tidak mau masuk sekolah lagi. Dua hari kemudian, RM, ibu korban mendatangi sekolah SMKN 1 Aik Asok, Anambas. Kedatangan RM atas panggilan pihak sekolah. Mungkin karena insiden di kapal roro tersebut, pikir RM.

RM juga berencana datang ke sekolah dengan tujuan meminta klarifikasi kepada guru yang meneriaki anaknya lonte.

Sampai di sekolah, RM diterima Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono dan sejumlah guru lainnya di ruangan majelis guru. Dipanggilnya RM ke sekolah karena AR sudah dua hari tidak masuk sekolah.

Saat RM menanyakan kenapa anaknya diteriaki lonte oleh salah seorang guru di sekolah tersebut, S yang berada di dalam ruangan tersebut langsung berteriak dengan nada tinggi ke arah RM. Dengan nada menantang, S mengakui bahwa dirinya yang melakukan hal itu kepada AR.

Ruangan yang tadinya hening, tiba-tiba gaduh. S berteriak-teriak dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan seorang guru. Sementara guru lain hanya diam. Sedangkan kepala sekolah sudah keluar sehingga tidak menyaksikan kejadian tersebut.

“Ia juga memukul meja berkali-kali dan tepuk dadanya. Mengusir saya dari ruangan, mau robohkan sekolah, sumpah serapah dengan menyebut nama binatang. Ia juga ancam lapor polisi serta mengancam anak saya dikeluarkan dari sekolah,’’ tutur RM.

Usia kejadian tersebut, AR terus masih mengalami byuly dari guru, sekolah, dan teman-temannya. Bahkan penyebutan sebagai lonte terhadap AR tersebut diumumkan lagi di mic SMKN 1 Anambas.R

RM, ibu kandung AR saat ini masih tidak bisa terima anaknya dibilang lonte, meskipun kejadian tersebut sudah berlangsung bulan Oktober 2019 lalu. Trauma anaknya masih belum hilang, sementara semangatnya untuk mengecap pendidikan menjadi berkurang.

Apa yang menimpa anaknya dan ancaman dikeluarkan dari sekolah membuat RM meminta bantuan ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Anambas agar anaknya tetap bisa sekolah. Kasus tersebut kemudian didampingi oleh konselor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Anambas, Erda.

RM juga melapor ke Camat Siantan Tengah, Anambas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Camat Rumadi juga turun ke sekolah untuk mencarikan solusi.

“Namun dalam pertemuan itu bukan solusi yang didapat. Sukimin kembali marah-marah dan tepuk meja di depan Camat. Pihak SMKN 1 menyampaikan tetap mengeluarkan AR dari sekolah,’’ papar RM kepada lindungianak.com.

Dalam kondisi semikian, RM tetap bermohon kepada pihak sekolah agar anaknya bisa ujian terlebih dahulu sebelum anaknya dikeluarkan. RM berharap anaknya bisa dipindahkan dengan administasi yang lengkap untuk mendaftar di sekolah lain di luar Anambas.

Tasri, Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Anambas, ikut membantu menyelesaikan konflik antara orangtua dengan sekolah. Anak bisa ujian, namun permasalahan lain muncul lagi.

“Akhirnya anak saya bisa ujian namun nilai yang diberikan guru banyak merah dan di bawah Nilai Kelulusan Maksimal (KKM) sehingga tidak bisa diterima di sekolah lain,’’

AR sempat bersekolah selama satu minggu di sekolah tujuannya yaitu SMKN 2 Tanjungpinang. Pihak SMKN 2 Tanjungpinang memberikan kesempatan kepada keluarga AR selama seminggu untuk melengkapi persyaratan pindahnya yaitu surat pindah dari sekolah asal dan nilai harus di atas KKM.

Lewat seminggu dan hingga sudah 10 hari kalender sekolah, rapor AR belum bisa diperbaiki oleh pihak SMKN 1 Anambas dan juga belum mengeluarkan surat pindah. Akhirnya, AR pasrah dengan nasibnya tidak bersekolah. Saat ini, AR berada di Kota Batam untuk mengambil les bahasa Inggris.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri Erry Syahrial yang menerima pengaduan orangtua korban merasa prihatin dengan nasib yang dialami oleh AR. Menurut Erry, korban telah mengalami bully, kekerasan psikis, diskriminasi, dan ditelantarkan nasibnya.

“Tidak semestinya guru membully siswinya dengan kata-kata seperti itu. Kalau siswinya adalah salah dalam ucapan dan etika saat kejadian itu, maka bisa dipanggil saat berada di sekolah dan diberikan bimbingan. Bisa jumga dipanggil orangtuanya. Bukan dengan cara emosi dan arogansi seperti itu karena guru itu digugu dan ditiru,’’

Erry mengatakan, ada beberapa hak anak yang dilanggar pihak sekolah terkait masalah tersebut. “Kami akan memperjuangkan agar AR bisa bersekolah kembali dan mendapatkan perlindungan sebagai anak,’’ ujarnya.

Terkait masalah tersebvut, Erry Syahrial juga sudah menghubungi dan meminta klarifikasi Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono. Katanya, kejadian bully tersebut terjadi karena kesalahan siswa atas perilakunya di atas roro.

“Soal rapor yang nilai di bawah KKM terjadi karena guru-guru yang lain tidak mengetahui soal pindah tersebut. Belum ada surat pindah karena saat itu lagi liburan,’’ ujar Tugiono, Jumat (17/1/2020).

KPPAD Kepri sudah mencoba mengkoordinasikan masalah ini dengan Kepala Dinas Provinsi Kepri Muhammad Dali, Jumay (17/1/2020). Namun belum bisa dihubungi.

sumber: lindungianak.com

Loading...