Beranda Views Inspirasi Slamet Riyanto, Memberi Pencerahan dalam Kegelapan

Slamet Riyanto, Memberi Pencerahan dalam Kegelapan

464
BERBAGI
Slamet Riyanto (foto:oyoshn)
Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

Suatu hari pada bulan September 1998. Slamet Riyanto
mendengar keluhan ratusan rekan-rekannya sesama penyandang cacat netra penghuni
Panti Sosial Bina Netra Indra Kesuma, Bandarlampung, dikurangi jatah makannya.
Para penyandang cacat netra itu mengeluh karena jatah makan yang tidak sesuai
dengan standar. Setiap hari hanya diberi lauk ikan asin atau tahu-tempe. Itu
pun hanya dua kali sehari.

Slamet
kemudian menggerakkan aksi unjuk rasa untuk menuntut keadilan. Dengan
menggunakan sejumlah truk dan angkutan kota, Senin pagi pada bulan September
1998, Slamet dan ratusan penyandang cacat netra mendatangi kantor wilayah
Departeman Sosial untuk bertemu dengan kepala Kanwil Departemen Sosial. 

Hanya
satu tuntutan Slamet dan kawan-kawannya: Rohili Suryalaga, kepala Panti Bina
Netra Indra Kesuma diganti!

“Tega-teganya
mengambil jatah kami, orang-orang yang memang sudah lemah!” teriak Slamet.

Teriakan
Slamet rupanya bersambut. Buktinya, beberapa hari kemudian Rohili dicopot dari
jabatannya. Jatah makan dan standar makanan untuk penyandang cacat netra pun
normal seperti semula. Tak cuma lauk-pauk tempe dan tahu, tapi juga sesekali
ada telur dan ikan goreng.

Sejak
saat itu Slamet meyakini, meskipun dirinya buta, ia bisa berguna bagi orang
lain. Sejak itu pulalah tekad Slamet semakin bulat untuk mengabdikan diri di
dunia sosial dengan cara membantu rekan-rekannya yang sama-sama cacat netra.

Sejak
1997 Slamet memang sudah bergaul dengan para aktivis demokrasi. Mereka biasanya
sering berkumpul di Kantor LBH Bandarlampung. Selain berdiskusi tentang isu
mutakhir, baik lokal maupun isu nasional, para aktivis prodemokrasi di Lampung
itu juga merancang pengorganisasian dan advokasi untuk para petani, buruh, dan
nelayan.

Meski
tidak normal seperti aktivis lainnya, Slamet tidak canggung atau minder untuk
melontarkan pendapat di forum-forum seminar atau hearing dengan anggota DPRD.
Kalau Slamet sedang berbicara, akan tampaklah bahwa dia memiliki kecerdasan di
atas rata-rata. Ide-idenya mengalir lancar, tersusun dalam kalimat yang rapi.
Daya ingatnya pun tajam. 

Menurut
Slamet selama ini masyarakat umum di Indonesia menganggap bahwa orang buta
tidak tahu apa-apa dan hanya pantas dikasihani. 

“Saya
ingin membuktikan bahwa yang buta pun bisa tahu banyak hal, bisa berorganisasi,
bisa berguna bagi orang lain, dan bisa membangun untuk bangsanya,” kata ayah
seorang anak itu.

Sejak
aktif sebagai voluntir di LBH Bandarlampung pada 1997 lalu, jejak pengalaman
Slamet dalam beroganisasi lumayan panjang. Antara lain pernah aktif di Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Lampung,
Jaringan Masyarakat Peduli Transparansi dan Otonomi Daerah (JMPTOD) dan Forum
Transparansi Anggaran (FTA), dan Dewan Rakyat Lampung (DRL). 

Karena
mata pencahariannya adalah sebagai pemijat, aktivitanya itu sering harus
memaksanya mengubah jadwal pekerjaannya memijat. “Terutama kalau pas saya harus
ikut aksi unjuk rasa,” kata Slamet, yang mengaku sering ikut demo bersama para
aktivis JMPTOD dan FTA di kantor DPRD Lampung untuk menggugat APBD Lampung.

“Saya
ikut senang ketika para anggota Dewan yang terlibat dalam korupsi APBD Lampung
2001-2003 kemudian dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi dalam kasus
korupsi Rp 14 miliar. Sayangnya, sekarang tidak jelas lagi kelanjutan kasus
korupsi anggaran itu,” kata suami Ade Yusia itu.

Dilahirkan
di Purbolinggo, Lampung Timur, pada 16 Juli 1973, Slamet Riyanto kecil
sebenarnya tumbuh sebagai anak yang normal. Matanya normal. Perkembangan
tubuhnya wajar. Badai seolah menerpanya ketika suatu hari, saat usianya
menginjak 13 tahun, dinyatakan menderita glukoma oleh dokter. 

Meskipun
banyak hambatan akhirnya Slamet lulus SMP dan SMA dengan nilai bagus.. Bahkan,
kini gelar sarjana komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Lampung (UML)
disandangnya. 

Di
sela-sela kesibukannya mencari nafkah dan mengurus Pertuni, Slamet masih
menyisakan waktunya untuk menjadi guru suka rela di Sekolah Luar Biasa (SLB) A
Bina Insani. “Saya mengajar bahasa Inggris. Karena guru sukarela, honornya pun
ya sukarela. Kadang-kadang ada honor, kadang-kadang tidak,” ujarnya.

“Tapi
yang penting saya senang dan orang lain bisa mendapatkan manfaat. Kalau para
penyandang tuna netra bisa berkomunikasi dengan baik, lebih-lebih dengan bahasa
Inggris, saya sudah senang,” tambahnya.

Memimpin
organisasi yang semua anggotanya adalah orang buta merupakan tantangan berat
bagi Slamet. Sebab, sebagian besar penyandang cacat netra pola pikirnya masih
terlalu sederhana dan pragmatis. 

“Kalau
ada yang memberi Rp 200 ribu untuk dijadikan modal, pasti mereka (penyandang
cacat netra) menolak. Tapi kalau mereka diberi Rp 20 ribu terserah untuk
keperluan apa, pasti akan diambil. Saya harus mengubah (pola pikir seperti)
itu,” kata dia. 

Bersama
pengurus Pertuni lainnya, kini Slamet sedang merancang beberapa program. untuk
meningkatkan kesejahteraan para penyandang cacat netra. Untuk itu Slamet
berusaha membangun jaringan. Antara lain mengadakan senam pernafasan yang bisa
diaplikasikan untuk memijat. Dalam hal ini. Pertuni bekerjasama dengan
Perguruan Seni Bela Diri Pernafasan Sinar Cakra Indonesia (SCI) Lampung.

Bela
diri bagi penyandang tuna netra pun menjadi perhatian Slamet. Bekerja sama
dengan Seni Bela Diri Merpati Putih, Pertuni memberikan pelatihan bela diri
agar penyandang tuna netra bisa membela diri ketika keadaan terdesak.

“Para tuna netra harus bela diri karena meskipun sudah lemah
kami sering menjadi sasaran aks kejahatan,” Dengan latihan ini penyandang tuna
netra juga mampu menyebrang jalan yang ramai kendaraan tanpa ditabrak oleh
kendaraan,” kata Slamet.

Yang
kini sedang terus Slamet kerjakan adalah meningkatkan kemampuan wanita tuna
netra dengan kegiatan antara lain, pengajian bulanan, koperasi simpan pinjam,
belajar arab braille, dan pelatihan membuat emping melinjo. 

Loading...