Beranda Views Kopi Pagi Soal Fly-over di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip Sumoharjo Bandarlampung

Soal Fly-over di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip Sumoharjo Bandarlampung

1943
BERBAGI

Wiyadi

Rencana pembangunan jalan bawah tanah (under pass) dan jalan layang (fly over) di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip Sumoharjo Bandarlampung hingga kini masih terus menuai pro-kontra. Hal ini berbeda dengan rencana pembangunan beberapa fly over lainnya di Bandarlampung yang relatif mulus. Yang kontra memang ada, tetapi tidak sebanyak dalam rencana proyek jalan layang yang terakhir akan dibangun Pemkot Bandarlampung di era Walikota Herman HN.

Rencana pembangunan fly over di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip ini memang banyak melibatkan banyak aspek, baik sosial maupun ekonomi. Kita tahu, dari beberapa contoh fly over yang dibangun Pemkot Bandarlampung, fakta menunjukkan bahwa setelah fly over jadi dan difungsikan, sisi kiri dan kanan jalan tidak terasa adanya geliat ekonomi lagi. Usaha seret. Para pengusaha mengeluh.

Fly over di Kemang, Jakarta Selatan
Fly over di Kemang, Jakarta Selatan

Nah, jika pembangunan fly over di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip Sumoharjo ini dikerjakan dan kelak difungsikan, persoalan akan lebih pelik dibanding dampak fly over – fly over lain di Bandarlampung. Sebab, proyek fly over itu akan menggusur tempat rakyat kecil mengais rejeki di sisi kanan kiri jalan. Lahan di sisi kanan dan kiri proyek fly over juga akan tergusur. Artinya, bisa dipastikan akan membuat banyak warga kehilangan lahan dan  mata pencaharian.

Itulah sebabnya, saya selaku wakil rakyat meminta Pemkot Bandarlampung betul-betul melakukan kajian mendalam dengan berbagai pilihan metode pembangunan yang tepat. Bukanya menolak pembangunan fly over, kalau terpaksa harus membangun fly over,  usahakanlah membangun dengan pertimbangan sangat matang sehingga dampak buruk yang merugikan rakyat kecil bisa dikurangi.

Misalnya kalau akan tetap dibangun fly over di Jalan Ki Maja dan Jalan Urip Sumoharjo, fly over itu bisa dibuat model mengangkang seperti fly over yang ada di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Dengan metode ini, tidak banyak lahan warga yang digusur. Mungkin hanya cukup 2 – 2,5 m untuk pondasi (kaki) cakar ayam. Dengan begitu, jalan di bawah fly over tetap bisa dimanfaatkan dengan lebar tetap sama.

Mungkin ini akan efisien karena jalan atas dan bawah sama lebar. Atau, Pemkot Bandarlampung dan PT KAI duduk bersama melakukan kajian. Bila memungkinkan dan diizinkan oleh KAI atau Menhub, yang dibuat fly over-nya adalah jalan (rel) kereta. Jadi, kereta api yang akan melintasi atas Jalan Ki Maja.

Fly-over untuk kereta api.

Dengan demikian tidak ada penggusuran sisi kanan kiri Jalan Ki Maja. Warga pun tetap bisa melanjutkan usahanya. Rezeki masih tetap bisa dikais di wilayah selama ini mereka mengais rezeki.

Oh ya, biaya pembebasan lahan untuk proyek fly over hampir Rp20 miliar. Kalau uang sebesar itu dialokasikan untuk membangun fly over untuk kereta api, saya yakin bisa menghemat anggaran.

Tabik!

*Ketua DPRD Kota Bandarlampung

Loading...