Beranda Teras Berita Soal Kabut Asap Riau, Paduka Raja Surati Presiden SBY

Soal Kabut Asap Riau, Paduka Raja Surati Presiden SBY

251
BERBAGI

Oyos Saroso HN/Teraslampung.com

Yurnaldi

Bandarlampung–Yurnaldi. Nama itu pendek saja. Namun, talenta begitu kuat dan perjalanannya di dunia jurnalistik begitu panjang. Begitu berhenti sebagai wartawan Kompas, ia menulis beberapa buku.Antara lain,  “Jurnalisme Kompas” (2013). Ini adalah buku ‘semacam rahasia dapur’ Kompas. Pada tahun yang sama ia menerbitkan buku “Jawara Menulis Artikel” (2013). Pada 2014 ini akan kembali melahirkan buku “Jurnalisme Seni-Budaya”.

Berhenti bekerja di media besar tidak membuat pria 47 tahun itu  langsung mati angin, apalagi mati rezeki. Selain menyusun buku, setelah tidak di Kompas lagi dia merintis beberapa media lokal di Sumatera. Sikap kritisnya muncul tiap hari lewat tajuk di koran Riau Hari Ini yang dipimpinnya.

Selain di Jakarta, selama di Kompas Yurnaldi pernah bertugas di Palembang dan Lampung. Ia dikenal sebagai sosok yang kritis dan selalu gelisah. Ia juga hobi membuat tulisan seni-budaya.

Tidak ada di Kompas, kini Yurnali menjadi Raja. Lengkapnya Yurnaldi Paduka Raja. Itu adalah nama akun Facebook Yurnaldi. Beberapa jam lalu, Yurnaldi Paduka Raja membuat heboh dunia maya karena menulis surat dalam bentuk puisi kepada Tuan Presiden SBY.

Berikut surat Yurnaldi yang juga dipublikasikan di kompasiana:

Surat Terbuka Paduka Raja untuk Tuan Presiden

Tuan presiden
Masih segar dalam ingatan pertemanan dan kemitraan kita
Saat mengakhiri tugas sebagai panglima kodam II/sriwijaya
Sebuah puisi tentang indonesia yang indah mutu manikam
Jadi kenangkenangan yang berharga bagi saya


Di ruang kerja tuan, kita larut dalam cerita
Sepulang dari jakarta, ketika itu, saya sampaikan kabar gembira
Juga kabar lain tentang seorang tentara yang ngancam hendak kudeta kantor saya
Sebab sebagai rivalitas dia kalah pamor di media
Setiap hari berita saya tentang tuan jadi berita utama

Ketika tuan kemudian jadi presiden dan saya tugas di jakarta
Buku kumpulan puisi karya tuan masih saya baca
Betapa kita punya kegemaran yang sama
Menulis puisi tentang apa saja, sesuai tuntutan hati dan jiwa

Kali ini, tuan presiden
Setelah 25 tahun lebih kita jarang jumpa
Saya larut dalam tanya, ada apa?
Inilah puisi apa adanya

Tuan presiden
Sudahkah mengucapkan maaf kepada dua kepala negara tetangga
yang selama ini terkesan tuan takuti?
Ya, itu lebih penting dan perlu buat pencitraan tuan di mata mereka
Karena selama ini tuan sudah dicap sebagai penyebab bala
Rakyat tuan juga begitu berkata

Bala asap di negara kita sungguh sangatsangat membuat rakyat menderita
Dari sesak angok hingga ispa
Dari mata perih hingga sakit mata
Dari kulit merangas hingga bau badan tak terbada
Dari batuk kering hingga batuk rejan berdahak coklat warnanya
Sebentar lagi, rakyat tuan terkapar siasia
Apa tuan presiden tak membaca tandatanda?

Minta maaf kepada rakyat tak usah tuan pikirkan
Karena kabut asap bukan bencana, tapi perbuatan pidana
Kabut asap mendera bukan karena cobaan dariNya
Tapi ulah pengusaha yang main mata dengan penguasa
Rakyat jelata jadi kambing hitam dibuatnya
Mereka dipenjara, entah berapa lama
Apa tuan presiden tak iba?

Tuan presiden, minta maaf kepada rakyat berat terucap kenapa?
Apa karena kabut asap bukan kategori bencana?
Mungkin anak buah tuan belum temukan rumus kategori bencana nasional untuknya
Meski sudah bedampak kepada puluhan juta rakyat tuan di sumatera
Anak-anak masih sekolah padahal kabut asap merasuki otaknya
Masih ada yang bilang belum apaapa, karena dampak idiot kemudian baru terbaca

Karena itu, pantas saja tuan presiden belum berkata apaapa
Menteri kehutanan anak buah tuan juga belum bertindak sepatut dan sepantasnya
Bisanya berkoarkoar di media massa, menuding dan kecam pengusaha
Tapi takut bertindak tegas mencabut izin usahanya dan pidanakan perbuatannya

Karena itu, pantas saja tuan presiden belum berani berkunjung ke sumatera
Karena biasanya baru datang jika sudah banyak korban jiwa dan harta benda
Mau datang dengan apa, pesawat saja didelay terus dan tak berani mengudara
Mau jalan darat, tak mungkin pula karena memakan waktu lama
Jalan lintas sumatera jelek rupa, dan sudah sejak lama
Karena pejabat di daerah belum sempat ambil muka
Mau jalan laut, jarak pandang terbatas adanya
Kabut asap pun bukan main tebalnya, nanti bisa celaka

Oleh sebab itu, tuan presiden tetap sajalah di istana
Membaca laporan, membaca koran, dan menonton televisi swasta
Kalau tuan presiden berani, jewerlah pengusaha kita dan pengusaha negara tetangga
Karena lahan dan hutan terbakar milik perkebunan dia
Tahun 2013 lalu sudah dipastikan 14 perusahaan membakar hutan dengan api membara
Enam perusahaan di antaranya milik pengusaha malaysia
Kasusnya dipetieskan, kini di 2014 muncul lagi musibah yang sama
Penegak hukum purapura lupa
Kalau ditanya; “bla bla bla…,” jawabnya.
Batin ini berkata, “Eeeee bala!”
Hati nurani tak bisa terima apapun alasannya
Mereka sudah bermain mata
Mulutnya sudah disuapin uang puluhan juta hingga beratus juta
Ops pampam…media massa larut dalam tradisi lapan enam pula

Tuan presiden, sudah sebulan lebih api itu nyala membara
Si gubernur tua minta warga pasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa
Yang berlangsung sekarang pembiaran tanpa berbuat apa
Asap telah berubah menjadi azabNya
Hutan telah berubah menjadi neraka satwa langka;
gajah dan harimau sumatera
Tanaman obat hutan sumatera telah tandas
sebelum tuntas diteliti kandungan kimianya
Puluhan hak paten milik peneliti kita menjadi percuma
Padahal kalau temuan itu diusahakan,
indonesia tak perlu berhutang 2.023 triliun rupiah kepada tiga negara
dan tiga lembaga perbankan terkemuka dunia
Ini data per april 2013 yang kusimpan dan kugarisbawahi
Sebaliknya, jika hak paten itu diusahakan pengusaha
Yang setia menjaga kelestarian dan keseimbangan hutan lingkungan kita
Malah bisa melunasi utang dan sejahterakan anak bangsa

Tuan presiden mungkin tak yakin dan tak percaya
Karena tuan tak pernah ajak para pakar biokimia bertatap muka
Mendengar gagasangagasan brilian darinya
Tak ada lagi acara kelompecapir seperti era repelita
Di mana penguasa dan warga anak bangsa bersilaturrahim
untuk lebih memajukan pembangunan bangsa dan negara

Tidak seperti di era reformasi tuan presiden berkuasa
Hutan yang jadi paruparu dunia diizinkan dibabat dan dibakar pengusaha
Hutan dijadikan sumber peningkatan pertumbuhan ekonomi bangsa

Sementara kekayaan bahari yang jauh tak terkira dibiarkan begitu saja
Indonesia kehilangan pendapatan 40-500 triliun rupiah per tahun, luar biasa…
Wakil rakyat tuan presiden diam dan terlelap di kursi empuknya
Mungkin karena terlanjur dibilang tuan presiden sebelumnya, sebagai anak teka

Tuan presiden,
Sebagai anak bangsa kalau boleh saya meminta
Tolong larang anak buah tuan keluarkan izin pemanfaatan hutan
dan izin usaha industri primer hasil hutan kayu mulai dari sekarang
Sebab ujung-ujungnya si pengusaha selalu membakar hutan membuka lahan

Apa tuan tidak sadar, data yang dirilis oleh badan planologi kehutanan kementerian kehutanan tahun 2008 menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang melakukan deforestasi tercepat di dunia.
Apa tuan belum juga sadar
Setiap hari sekitar 51 km persegi hutan di Indonesia dihancurkan,
sedangkan jumlah hutan yang hilang setiap tahunnya mencapai 2,76 juta hektar
atau sekitar 3 persen dari total luas kawasan hutan di Indonesia.

Begitu dahsyatnya
Begitu parahnya
Begitu gilanya
Tapi tuan presiden tetap begitubegitu saja
Mana tindakan nyata menjelang masa akhir berkuasa?
Apa sudah mati rasa?
Atau hilang akal?

Maaf, tuan presiden, saya cuma bercanda…
Canda inilah yang kini menghibur saya selama 24 jam,
selama seminggu, sebulan dan entah sampai kapan
disandera kabut asap kategori sangat berbahaya
Tak bisa ke manamana
Kota lengang, bersuhu sampai 36 derajad celsius badan bagai terpanggang
Lemas dibuatnya
Para balita di pangkuan bundanya mengerang sejadijadinya
Tak ada air susu ibu yang bisa menenangkannya
Tak ada susu bantu yang melelapkan boboknya
Tak ada makanan yang mengenyangkan perutnya
Kecuali kabut asap, tuan presiden

Dumai, 13-14 maret 2014

Loading...