Soal Penyegelan Rumah Makan dan Kafe di Bandarlampung, Ini Kata Para Pengelola

  • Bagikan
Penyegelan RM Sate Luwes di Jalan Soekarno- Hatta (By Pass) Bandarlampung, Senin (14/6/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim
Penyegelan RM Sate Luwes di Jalan Soekarno- Hatta (By Pass) Bandarlampung, Senin (14/6/2021). Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

TERASLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG — Petugas Tim Pengendalian Pemeriksaan Pengawasan Pajak Daerah (TP4D) Pemkot Bandarlampung menyegel tiga rumah makan dan sebuah kafe dengan memasang garis Pemkot Bandarlampung (goverment line) layaknya garis polisi (police line) berupa pita memanjang, Senin (14/6/2021). Proses penyegelan berlangsung lancar dan tidak ada penolakan dari para pengelola.

BACA: Lagi, Pemkot Bandarlampung Menyegel Tiga Rumah Makan dan Satu Kafe

Meskipun prosesnya lancar, tetapi ada rasa masygul di hati sebagian pemilik/pengelola tempat bisnis itu. Mereka masygul alias penasaran karena tidak semua usaha bisnis seperti mereka dipasang alat pencatat transaksi atau tapping box. Sebab itu, mereka pun minta agar semua rumah makan dan bisnis kafe atau tempat hiburan di Bandarlampung juga dipasang tapping box.

“Saya tidak keberatan tempat usaha saya dipasangi tapping box, asal semuanya (rumah makan) di sekitar tempat juga dipasang tapping box , biar adil dan merata,” ujar Wilman, pengelola (RM) Bu Hajjah Prasmanan di Jalan Perintis Kemerdekaan Bandarlampung,  Senin, 14 Juni 2021.

Sementara Pujakusuma, pemilik Daily Cafe, mengaku usahanya baru buka dan belum grand opening tapi terkena dampak pandemi Covid-19 yang membuat sepinya pengunjung.

“Kami buka bulan Januari 2021 pindah dari tempat yang lama ke yang lebih reprentatif. Tetapi, pandemi Covid-19 membuat usaha ini tidak lancar. Dari 10 karyawan sekarang tinggal 4 karena kita tidak sanggup membayar gajinya,” katanya.

Pujakusuma mengaku, soal pemasangan tapping box memang atas pemintaaan pihaknya. Artinya, ada niat baik untuk menaati aturan.

“Namun, dampak pandemi seperti sekarang ini sangat menyulitkan kami, Pemerintah membuat aturan supaya tempat usaha ditutup jam 9 atau 10 malam. Kalau seperti itu, paling yang datang hanya ngopi-ngopi saja,” jelas Pujakusuma sambil menunjuk beberapa minuman keras yang terpampang di etalase kafe miliknya itu.

Sedangkan Tono pengelola RM Sate Luwes, mengaku tidak terkejut dengan penyegelan rumah makannya meski dari pengakuannya dia sudah mengangsur utang pajak restoran dan pajak reklame.

“Kami sering ke Pemkot kita juga sudah mengangsur tapi saya tidak tahu nilainya berapa,” katanya.

Sementara itu Ketua TP4D M. Umar menjelaskan penyegelan ini upaya terakhir setelah upaya terakhir setelah langkah-langkah persuasif sudah dijalankan.

“Yang kami segel ini rata-rata persoalannya ada dua. Pertama soal tapping box-nya digunakan tidak maksimal dan mempunyai tunggakan pajak restoran. Kedua, menuggak pajak. Yang kami segel ini rata-rata menunggak pajak restoran selama 10 bulan,” jelas M. Umar, yang juga Kepala Inspektorat Kota Bandarlampung itu.

Dandy Ibrahim

  • Bagikan