Beranda Seni Esai Sop Buntut, Kesepian, Puisi

Sop Buntut, Kesepian, Puisi

98
BERBAGI

Frieda Amran

Pada suatu hari di musim dingin, aku membuat sop buntut. Suami dan anak-anakku melahapnya sambil mengisap-isap habis sumsum dan sisa-sisa lemak di tulang yang sudah lembut digodog seharian. Setelah makan malam–yang berlangsung selama 25 menit (padahal masak sopnya seharian)–semua meninggalkanku.

“Misua” menghilang ke kamar kerjanya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Anak-anak menghilang ke kamar masing-masing untuk membuat pe-er, melukis, atau main game. Terpaksalah aku menonton TV sendirian.

Ditemani si anjing, kayu-kayu kering di perapian terbakar merah-biru dan berderak-derak menjadi abu, .pikiranku berjalan. Jadilah puisi ‘Temani Aku Malam Ini’ (dimuat di dalam “Pangeran Katak dan Sang Puteri.” Jakarta: Pustaka Spirit. 2011)
.
.
TEMANI AKU MALAM INI


temani aku malam ini
‘kan kunyalakan perapian dan lilin-lilin kecil
hingga kelam dan angin tiris terhapus hangat
‘kan kubuatkan pindang kalkun yang pas asamnya dan iga bakar yang pas bumbunya
‘kan kubersihkan tetesan pindang di sudut mulutmu dengan sapuan bibirku
‘kan kuusap lembut bumbu iga bakar yang lengket di ujung jarimu


temani aku malam ini
‘kan kudengarkan ceritamu tentang mahatma gandhi atau angsa hitam
mata bulat penuh konsentrasi: sungguhan atau pura-pura
hingga kau lupa kata-kata dan tenggelam dalam cerita mataku
‘kan kuganti waltz nomor 13 dengan desah serak norah jones
dan kubisikkan rahasia sanubariku
hingga kau hanya mendengar degup jantung dan desah nafasku


temani aku malam ini
temani aku hingga pagi
temani aku melukis impian dan angan
menjadi kenyataan
.
.
Setahun kemudian, puisi di atas diterbitkan di dalam antologi puisi “Pangeran Katak dan Sang Puteri.” (oleh Hendry CH Bangun, FA dan Benk Wahyu Wibowo. Jakarta: Pustaka Spirit. 2011). Dalam peluncuran buku itu, seorang temanku–Nai RM Sinaga–memilih puisi itu untuk dibacakan.

Suaranya yang serak-serah basah memberikan nuansa baru yang menggiurkan pada puisiku.
Ampyun deh. Puisiku–yang intinya bercerita tentang sop buntut malam itu dan kesepianku menonton TV sendirian–menjadi rintihan seorang perempuan yang dirundung gairah. Alamaaak!

Yang mendengarkan suara Nai cengar-cengir (sok) tau. Kata mereka: “Busyet deh, Frieda. Yang begitu lu jadiin puisi! Mesum banget!”

Ah, sop buntut.