Beranda News Wisata Sore Ini Lamban Sastra Gelar Diskusi Seni dan Pariwisata

Sore Ini Lamban Sastra Gelar Diskusi Seni dan Pariwisata

452
BERBAGI
Syaifiul Irba Tanpaka

TERASLAMPUNG.COM — Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS di Jalam Imam Bonjol 544 A, Kemiling, Bandar Lampung.sore ini (28/1/2017) pukul 15.00 WIB akan menggelar Diskusi Awal Tahun bertema Seni dan Pariwisata. Menurut Syaiful Irba Tanpaka, ketua panitia diskusi, tema ini diangkat karena kesenian sangat vital dalam bisnis pariwisata.

“Seni tidak lepas dari pariwisata, begitu sebaliknya. Dunia pariwisata tak bisa jalan sendiri tanpa bergandengan dengan seni. Idealnya, keduanya mesti saling mendukung,” kata  Syaiful Irba Tanpaka, Sabtu (28/1/2017).

Diskusi ini dijadwalkan menghadirkan narasumber Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung Aprilani Yustin Ficardo, budayawan Lampung/sekretaris umum Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) DPW Lampung Syaiful Irba Tanpaka, dan dari media massa.

Menurut Syaiful, diskusi yang akan dimoderatori Direktur Teater Potlot Conie Sema tersebut, diharapkan dapat mengurai persoalan pariwisata dan kesenian di Provinsi Lampung. Bagaimana peran pemerintah dan media massa dalam membangun kesenian dan pariwisata.

“Selain itu, sejauh mana peran seni mendukung dunia pariwisata. Atau sebaliknya, bagaimana pariwisata dapat menggandeng kesenian untuk memperkenalkan wisata kepada mancanegara,” ujar Syaiful Irba.

Dijelaskannya, Bali dikenal dunia dengan objek wisata. Tetapi, peran seni (dan seniman) setempat sangat besar. Seni dan pariwisata berjalan seiring dalam rangka “memakmurkan” pariwisata di sana. Begitu pun daerah lain, di antaranya Sumatera Utara, Aceh, Jogjakarta, Jawa Barat, dan sebagainya.

Maish kata Syaiful, kesenian dan pariwisata “hidup rukun” dan tiada saling menuding. Bahkan, kontribusi kesenian terhadap pengembangan dan kemajuan dunia pariwisata, terbilang cukup besar. “Satu contoh, tari Kecak di Bali yang acap dijamu oleh wisatawan dunia. Begit pun Saung Udjo di Jawa Barat, menjadi “jamuan utama” bagi wisatawan yang bertandang,” jelas dia.

Sementara David mempertanyakan, bagaimana Provinsi Lampung? Destinasi wisata di Kiluan atau Pahawang. Kiluan dikenal dengan lumba-lumbanya. Banyak wisatawan luar Lampung ngebet untuk menyaksikan lumba-lumba. Sayangnya, kita belum menyiapkan semupurna di tempat itu. Para wisatawan yang hendak menyaksikan lumba-lumba, mestilah menginap sehari atau dua hari.

“Apakah di Kuluan sudah disiapkan atraksi/pertunjjukan seni, agar para tamu tak kesepian di objek wisata yang boleh jadi alat penerang pun belum memadai. Hal ini juga pada destinasi Pahawang, Way Kambas, Ringgung, dan pesisir pantai Kabupaten Pesisir Barat, dan lain-lain,” kata kurator senirupa Lampung itu..

Keduanya sepakat, bahwa ada yang masih diabaikan dari kebijakan rencana dan pengembangan pariwisata , yakni kesenian. “Kesenian masih dianggap belum bisa memberi kontribusi bagi pariwisata. Kalaupun dilibatkan, jika memang diperlukan,” kata David..

Padahal, imbuh Syaiful, tak kurang karya seni yang dicipta oleh para seniman, bahkan kualitasnya tak diragukan dari daerah ini. Dari seni tradisional hingga modern. Semua berharga dan semua punya nilai bagi pembangunan dunia pariwisata di daerah ini.

Karena itu, ia berharap, melalui Diskusi Awal Tahun ini, dapat melahirkan rekomendasi bagi pemerintah dan pelaku seni di Lampung. “Setidaknya, menjadi masukan bagi pelaksana Festival Krakatau atau kebijakan lain demi memajukan pariwisata di daerah ini,” tutur Syaiful Irba Tanpaka yang dikenal sastrawan Lampung itu.

TL/Rl