Sosiawan Leak: ‘Panglima’ Pusi Menolak Korupsi

  • Bagikan

Isbedy Stiawan ZS

Sosiawan Leak

SOSIAWAN Leak. Nama ini sangat akrab bagi seniman Indonesia. Jebolan Universitas Surakarta (UNS) adalah penyair, pembaca puisi andal, performa arts yang tangguh.

Leak, lelaki bernama asli Sosiawan Budi Sulistiyo ini biasa disapa, hapal seluruh puisi-puisi yang telah ditulisnya. Karena itu, pada saat tampil di panggung dia tak pernah menggenggam naskah puisi seperti kebanyakan para penyair Indonesia.

Lelaki yang khas dengan rambut panjangnya ini pernah tampil di Taman Budaya Lampung, membacakan satu buku puisinya secara hapal. Inilah yang menarik dari pemanggungan puisi dari Sosiawan Leak. Ditambah lagi puisi-puisinya yang bertema kritik sosial.

Setiap event jika ada Leak, dipastikan penonton akan menunggu penampilannya meski ia dipasang di akhir-akhir acara. Tetapi di acara Road show Puisi Menolak Korupsi, Leak seperti menahan diri untuk baca puisi. “Saya cukup hanya sebagai pemberi sambutan atau pembawa acara untuk mengantar rekan-rekan penyair sebelum membacakan puisinya,” kata dia, Minggu (1/6).

Sejak Mei 2013, Sosiawan Leak disibukkan menggalang para penyair Indonesia yang menolak korupsi untuk road show ke berbagai kota dan provinsi. Menyuarakan anti-korupsi melalui. Buku Puisi Menolak Korupsi sudah tiga edisi, dan satu edisi lagi khusus bagi para pelajar SMA.

“Jadi sudah empat buku Puisi Mneolak Korupsi diterbitkan dan dibacakan di sejumlah kota dan provinsi di Tanah Air,” kata Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi ini.

Gerakan Puisi Menolak Korupsi, menurut Leak, didasari bahwa fenomena korupsi yang belakangan makin merebak di masyarakat kita, maka para penyair Indonesia dari berbagai pelosok daerah merespon secara konkret sesuai maqam-nya, dengan bergabung dalam sebuah gerakan bernama “Puisi Menolak Korupsi” (PMK).

Menurut Leak, gerakan ini mau tak mau harus dilakukan di tengah kian sistemik dan canggihnya laku korupsi. Gerakan yang mendesak digulirkan sebagai sarana untuk mempresentasikan seruan moral kepada masyarakat, agar secara filosofis dan edukatif turut mewaspadai munculnya mental korupsi sejak dini, serta mencegah perilaku korup yang lebih akut.

“Gerakan Puisi Menolak Korupsi mengambil posisi sebagai gerakan kultural, melengkapi gerakan lain yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat berikut karakter dan alat perjuangnya (hukum, politik, agama, jurnalistik, intelektual dan lain-lain),” imbuhnya.

Gerakan ini, ujar Sosiawan, pada hakekatnya menyatu dan padu dengan semua kekuatan yang beritikad mengawal proses perjalanan masyarakat membangun kehidupan bangsa dan negara yang berkeadilan dan lebih bermartabat. Secara siknifikan gerakan ini juga menjadi sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas, menolak nilai-nilai kehidupan yang korup.

Semula, kata dia lagi, gagasan untuk Gerakan Puisi Menolak Korupsi ini dilontarkan oleh Heru Mugiarso (Penyair Semarang) seperti hanya main-main. Artinya, kata dia lagi, apakah ini akan terlaksana benar-benar sebuah mimpi.

“Tapi saya optimistis, masih banyak penyair Indonesia yang peduli pada gerakan ini. Mereka bisa menulis puisi tematik, khususnya menolak korupsi,” katanya lagi.

Hingga sekarang gerakan ini telah menerbitkan antologi puisi, merangkum karya para penyair yang berasal dari berbagai daerah, usia, dan kecenderungan puitika. Setelah melewati proses seleksi dan penyuntingan, karya-karya tersebut terbit dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi (melibatkan 85 penyair, terbit Mei 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (melibatkan 99 penyair, terbit September 2013), dan Antologi Puisi Menolak Korupsi 2b (melibatkan 98 penyair, terbit September 2013).

Kemudian sejak Mei 2013, gerakan ini juga melakukan kampanye anti korupsi bertajuk Road Show Puisi Menolak Korupsi ke berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta puisi dan lain-lain.

Bahkan, kata Leak, Gerakan PMK ini telah menerbitkan puisi bertema anti korupsi dari para pelajar di seluruh Indonesia, bertajuk Antologi Puisi Menolak Korupsi 3; Pelajar Indonesia Menggugat (melibatkan 286 pelajar, terbit April 2014).

Road show PMK ke 21 dan 22

Gerakan puisi menolak korupsi para pelajar juga sudah melakukan road show. Mulai dari Road Show ke 20 PMK di SMA N 1 Ciamis (17 Mei), di Ponpes Hidayaturrahman Indramayu (20  Juni mendatang), di MA Darul Ulum Pasuruan (Juni, detil tanggalnya belum), MA Negeri Sragen (September), dan MI Kediri (detil tanggal belum).

Terkait Road Show PMK, Leak menjelaskan, adalah salah satu media gerakan ini untuk mensosialisasikan gagasan di depan masyarakat umum (publik). Indikasi keberhasilannya ada pada sejauh mana keterlibatan masyarakat umum dalam kegiatan itu.

“Hampir semua road show (utamanya yang di selenggarakan di tempat umum/public space) mendapat respon yang luar biasa (baik secara kwalitas & kwantitas). Tidak hanya kalangan sastrawan dan seniman saja yang datang dan terlibat tampil atau menjadi audiens, tapi biasanya juga dihadiri oleh kalangan mahasiswa, pelajar, jurnalis, kalangan pemerintahan, serta masyarakat umum,” ujar dia.

Namun yang paling menarik adalah Road Show ke 19 PMK di Kabupaten Amuntai, Kalimantan Selatan pada 14 Mei 2014. Kemenarikannya ada pada keterlibatan pemda setempat yang menjadikan road show PMK sebagai salah satu mata acara dalam hari jadi kota Amuntai ke 62.

Meski Bupati Amuntai tidak bisa hadir karena ada kepentingan dinas, tapi Isteri Bupati hadir dan terlibat membaca puisi dengan baik & memukau. “Bahkan, isteri Bupati Amuntai mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai dan tidak sekadar formalitas.”

Kota-kota lain yang pernah didatangi laskar PMK ini antara lain, Blitar, Tegal, Banjarbaru (Kalsel), Palu (Sulawesi Tengah), Semarang (Jawa Tengah), Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl. HR Rasuna Said Kav C-l, Jakarta Pusat, Solo (Jawa Tengah), Rumah Dunia Banten, Surabaya (Jawa Timur), dan lain-lain.

Gerakan ini, menurut Sosiawan Leak, banyak yang mendukung. Bahkan, para komisioner KPK dan juru bicara KPK Johan Budi saat tampil di Gedung KPK, 27 September 2013. ”Tanggapan secara khusus itu diucapkan oleh para komisioner KPK yang hadir saat road show. Tanggapan secara umum terlihat dari kehadiran 4 komisioner KPK  dan Jubir KPK Johan Budi di acara itu.”

Meski gerakan ini ada juga ditanggapi pesimistis. “Yang tidak yakin dengan gerakan ini, mislanya mereka bilang: ‘Masa, puisi bisa melawan korupsi?’. Tapi, sekecil apa pun kita harus percaya bahwa puisi dapat mengubah,” tegasnya.

Karena menggalang gerakan puisi menolak korupsi ini, membuat Leak mendapat julukan baru: Jenderal PMK, Presiden Penyair PKM, ataupun Panglima PMK. Julukan ini ditahbiskan para relawan atau laskar Puisi Menolak Korupsi.

Pasalnya, ia bukan saja meworo-woro para penyair agar mengirimkan puisi anti-korupsi, tapi juga menyeleksi, menerbitkan, dan mendistribusikan buku tersebut ke para penyair. Kemudian, melalui grup Puisi Menolak Korupsi di jejaring sosial, ia juga yang mencatat secara cermat jadwal road show agar tidak bertabrakan. Selain itu, melaporkan setiap penerimaan atau pengeluaran anggaran.

“Meski gerakan ini benar-benar nirlaba, ada saja dermawan yang tidak mengikat dan jelas asal uang yang diberikan, kami jadikan untuk kas gerakan dan diinformasikan ke khalayak umum agar transparan,” katanya.

Menyinggung julukan yang diberikan kawanm-kawan laskar PMK, Leak menganggap sebagai cara mereka mendukung, menjaga, menghormati dirinya untuk terus menjada kemurnian gerakan ini.

“Tak lebih dan tak kurang. Saya tak pernah bermimpi mendapat sambutan, sanjungan, dan penghormatan seperti itu. Saya tidak pernah meminta kawan-kawan menyebut begitu. Saya juga tidak pernah memproklamirkan diri dengan sebutan semacam itu. Saya tak mau menyakiti hati kawan-kawan (yang memanggil saya dengan cara begitu). Makanya saya terima dengan tidak serta-merta menolaknya,” katanya.

Begitulah, baik Panglima PMK.

  • Bagikan