Beranda Kolom Kopi Pagi Sri Bintang, Amien Rais, dan PAN

Sri Bintang, Amien Rais, dan PAN

181
BERBAGI

Hary B. Kori’un

Dulu, saya mengagumi Sri Bintang Pamungkas, seorang pemberani, yang bahkan tiang listrik (Orde Baru) pun ditabraknya. Di zaman represif seperti itu, dia berani dan lantang menyuarakan kebebasan berdemokrasi. Saya bahkan ikut rapat PUDI (partai yang digagasnya) di Jakarta.

Ketika kembali ke Padang, saya berpikir kembali, apakah berpolitik tidak menabarak nurani? Saya tahu politik itu seperti apa, sejak awal. Akhirnya, saya urungkan untuk ikut mendirikan PUDI di Padang. Lalu, Reformasi bergulir, tetapi nampaknya Sri Bintang ditinggalkan anak-anak muda. Orde Baru terguling, Reformasi “menang”, kebebasan bersuara dan berkumpul (demokrasi) didapatkan, namun tak ada Sri Bintang di dalamnya.

Dia kemudian asyik cari panggung. Saya heran, cita-citanya dulu untuk perjuangan demokrasi, telah didapatkan rakyat Indonesia. Tapi, mengapa kok dia tetap cari panggung dengan melakukan ini dan itu? Saya kemudian berpikir: bukan orang seperti ini yang saya kagumi. Sebab, di zaman dan rezim apapun, “perlawanan” seolah sudah menjadi pekerjaannya, perlawanan apapun. Yang penting melawan, dan itu kelihatan gagah dan ganteng.

***

Di saat Reformasi, sosok Amien Rais menyedot kekaguman mahasiswa kecil seperti saya ketika itu. Dia cendekiawan yang pikiran-pikirannya sangat mengagumkan saya dengan Islam progresif yang selalu ada dalam pikirannya. Dia juga seorang ahli dan pengamat Timur Tengah yang fasih. Saat dia datang ke Padang dan melakukan rapat akbar di Lapangan IKIP Padang, saya datang, tetapi tak mau dekat, apalagi salaman dengan dia.

Saya takut, orang yang saya idolakan nanti berbeda dengan yang ada dalam imajinasi saya. (Bahkan, saya sampai menuliskan momen kedatangannya ini di novel “Nyanyian Batanghari”). Selain para mahasiswa yang terus berjuang, Amien adalah salah satu harapan saya untuk tetap tegak di depan, bersuara lantang untuk menumbangkan rezim represif itu. Dan, akhirnya, Reformasi menang. Amien berada dalam lingkungan kekuasaan dalam beberapa periode ketika itu dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang berbasis Muhammadiyah sebagai rumah politiknya.

Namun, setelah itu orang mulai melupakannya sebagai “Bapak Reformasi” (keren, bukan?). Dan, ia juga kehilangan panggung. Belakangan, dia mendapatkan mikropon (pelantang) ketika umat Islam menggalang aksi untuk melawan Ahok. Yang saya heran, dulu, pandangannya sangat pluralis, melihat perbedaan itu sebagai bagian dari kekayaan kita sebagai sebuah bangsa. Tetapi entah mengapa dia kemudian berubah…

Dan kini, partai yang dibidaninya (termasuk Goenawan Mohamad ikut di dalamnya), PAN, dengan berbagai alasan, ikut mendukung Angket KPK. Padahal, sebelum Amien kena tuding jaksa soal aliran dana, semuanya adem-ayem.

Kalau Golkar melakukan itu karena banyak politisinya yang kena angkut KPK, saya bisa maklum. Partai ini kan dulu diusulkan untuk menjadi partai terlarang oleh para reformis karena menjadi alat Orde Baru untuk memilih hanya satu orang selama 30 tahun lebih menjadi presiden. Hanya karena kehebatan seorang Akbar Tanjung-lah yang membuat Golkar selamat di zaman “genting” tersebut. Tapi PAN? Hemmm… Apakah politik memang harus begitu?

Sedih saya…

*Jurnalis cum sastrawan, tinggal di Pekanbaru