Beranda Pendidikan Kampus Studium Generale Itera: Pemanfaatan Batu Bara Lebih Ramah Lingkungan

Studium Generale Itera: Pemanfaatan Batu Bara Lebih Ramah Lingkungan

238
BERBAGI
Pakar Geokimia Lingkungan dari Departemen Geologi University of Zagreb, Kroasia, Gordana Medunic’, Ph.D

TERASLAMPUNG.COM — Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengadakan studium generale internasional sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Lustrum Perdana Itera dengan menghadirkan Pakar Geokimia Lingkungan dari Departemen Geologi University of Zagreb, Kroasia, Gordana Medunic’, Ph.D., di kampus setempat, Jumat (24/5/2019).

Kegiatan yang mengusung tema Distribusi unsur tanah jarang di dekat pembangkit listrik tenaga batu bara, tersebut membahas bahaya pemanfaatan batu bara dengan cara dibakar sebagai sumber energi pembangkit listrik yang dinilai mencemari lingkungan dan membahayakan keselamatan makhluk hidup termasuk manusia. Dalam kegiatan tersebut juga mahasiswa dan dosen didorong untuk aktif melakukan kajian guna mendorong perubahan pola pemanfaatan batu bara menjadi lebih ramah lingkungan.

Rektor Itera Prof. Ir Ofyar Z Tamin, M.Sc., Ph.D, dalam pembukaan menyebut, Indonesia khususnya pulau Sumatera memiliki karakter geologi yang sangat kuat. Salah satunya yaitu sebagian wilayah Indonesia berada pada jalur cincin api pasifik atau ring of fire, sehingga rawan mengalami gempa bumi hingga tsunami. Hal ini selain membuat masyarakatnya perlu selalu waspada, juga membuat wilayah Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam.

Rektor berharap dari kajian-kajian geologi dengan melibatkan pakar dunia yang dilakukan di Itera diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa dan dosen. Apa lagi saat ini Itera juga sedang mendorong agar mahasiswa dan dosen mengikuti program pendidikan hingga ke luar negeri, dengan mengunjungi berbagai negara di dunia.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Gordana Medunic’, Ph.D. dari University of Zagreb, Kroasia untuk berbagi pengetahuan dan ilmunya, saya berharap, dalam beberapa tahun ke depan, Itera juga bisa mengunjungi negara anda, untuk melakukan penjajakan kerjasama lebih lanjut, terutrama untuk pertukaran mahasiswa dan dosen,” ujar Rektor.

Sementara narasumber stadium generale, Gordana Medunic’, Ph.D., menjelaskan pembakaran batu bara pada sebuah pembangkit energi listrik mampu menghasilkan unsur berbahaya yakni selenium yang bisa mencemari lingkungan mulai dari air, tanah, hingga udara dari sisa pembakaran. Selain itu kandungan selenium akibat pembakaran batu bara juga juga membahayakan tubuh manusia dan bisa menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan seperti kanker.

“Dampak dari selenium meski dalam konsentrasi yang sedikit, bisa mengakibatkan polusi dan merusak tumbuhan,  bakan juga manusia yang menyebabkan berbagai gangguan di tubuh seperti gangguan darah, rambut, kulit, hingga menyebabkan kanker,” ujar Gordana di hadapan peserta stadium generale yang dimoderatori oleh Dosen Prodi Teknik Geologi ITERA Evan R.Ogara, M.Eng.

Gordana menyebut, sebenarnya banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari material batu bara tanpa harus membakarnya. Seperti memanfaatankanya secara ramah dengan mengekstraksi unsur tanah jarang yang ada pada batu bara untuk keperluan material-material penyusun elektronik yang biasa dimanfaatkan dalam industry elektronik.

Untuk itu, mahasiswa dan para dosen perlu melakukan kajian-kajian secara local, tentang kandungan batu bara di daerahnya, untuk mengetahui potensi yang bisa dikembangkan dari pemanfaatan batu bara secara ramah lingkungan.

Dalam studium generale yang terselenggara atas kerjasama ITERA dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, Peneliti LIPI Dr.-Eng Widi Astuti menyebut, kedatangan Pakar Geokimia Lingkungan dari Departemen Geologi University of Zagreb, Kroasia, Gordana Medunic’, Ph.D., ke Lampung adalah bagian dari program Eramus Plus Eropa, yaitu program pengiriman dosen dan peneliti untuk berkunjung ke negara-negara dunia.

Dalam kunjungannya ke Lampung, Gordan juga melakukan penelitian bersama para peneliti LIPI di beberapa lokasi di Lampung, dan daerah lain di Indonesia.  Studium generale yang diadakan di ITERA menurut Widi sangat perlu untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang keilmuan-keilmuan tertentu dari pakar-pakar di dunia.

“Sangat penting mahasiswa dan dosen mengetahui perkembangan keilmuan geologi di negara lain lewat para pakar yang hadir ke Indonesia. Hal ini jadi salah satu cara untuk meningkatkan daya saing mahasiswa dan dosen,” ujar Widi.

RLS

Loading...