Suara Non-Partisan

  • Bagikan

Herry Dim

Disebabkan percakapan pilpres kian ke sini kian “jorok” dalam hal berbahasa dan tentu pikiran yang terutama datangnya dari pihak sana, maka saya lebih memilih percakapan antar-personal. Semoga tulisan saya ini untuk seorang teman bisa menjadi ‘jalan’ untuk saling-mengisi amunisi pikiran.

Saya merasa jijik degan pilkada, pilpres masa lalu, dan pil-upil lainnya. Tapi yang sekarang ini terasa beda. Mengatakan beda itu bukan untuk mengatakan sudah bagus; betul masih banyak hal menjijikkan terutama dari pihak sana dan ada juga dari pihak sini.

Bedanya… astagfirullah (ya Allah, jauhkan hamba dari fitnah, suudzon, buruk sangka): di hadapan kita ada “bahaya”. Tentu bahaya bagi kita semua, bagi bangsa, bagi keberlangsungan negara.

Bukan juga hendak “tutup mata” di sini memang ada Wiranto dan Hendropriyono hanya agak mendingan karena mereka tidak menjadi calon kepala negara.

Sementara dari pihak sana tegas sekali dirinya menjadi calon presiden ditambah lagi (balad-wadya koalisinya yang semua orang pun tahu). Berkenaan dengan itu, insya Allah (semoga Tuhan mengizinkan) bahwa pada saat ini gerakan non-partisan menjadi penting sekali. Bukan untuk mengutamakan/mementingkan Jokowi dengan cara berlebihan, apalagi (amit-amit) memberhalakannya. Hanya, sungguh, inilah momentum, kesempatan, untuk memperlihatkan daulat rakyat – bukan daulat partai.*)

Di antara dua pilihan itu, rupanya, Jokowi yang paling mungkin untuk bisa diajak ‘kongkow’ dengan rakyat. Jika pun tidak, insya Allah, rakyat tak akan diam. Di sisi lainnya, tak terbayang jika pihak itu yang menang.

Begitu, saudaraku. Saya menulis ini karena sayang kepada saudara, bangsa, negara. Itu pun jika “terbaca.” Terimakasih.

Herry Dim adalah seniman rupa (perupa), tinggal di Bandung, Jawa Barar

______
*) Koalisi partai pendukung Jokowi_JK: PDIP, PKB, PKPI, P Nasdem, dan P Hanura. Koalisi partai pendukung Prabowo-Hatta: Gerindra, Golkar, PKS, PAN, PPP, PBB, dan saat injury time PD resmi menyatakan gabung.

Jika pilpres 2014 ini semata berdasar kekuatan antar-koalisi partai, di atas kertas maka Jokowi-JK pasti kalah. Sebaliknya, jika menang, itu bisa dipastikan suara terbanyak yang masuk adalah suara rakyat, non-partisan, daulat rakyat.

  • Bagikan