Beranda News Budaya Suara-Suara Tuhan Sandy Karman

Suara-Suara Tuhan Sandy Karman

297
BERBAGI

Linda Christanty*)

Ia adalah salah satu desainer grafis terbaik dunia dan meyukai kota-kota yang sibuk.

IKAN roa.  Sejenis ikan dalam menu masakan Manado ini yang terus terpatri di benaknya selama sebulan dua minggu berkeliling Eropa. Ia membayangkan  pergi ke restoran Manado begitu tiba di Jakarta, kota kelahirannya.  “Hanya mau pesan nasi putih panas dan ikan roa saja. Itu benar-benar dahsyat,” ujar Sandy Karman, desainer dan seniman grafis.  Selain ikan roa, ia suka anchovy. “Rasanya umami,” ujarnya. Umami?  Ia  menjelaskan, “Ada rasa manis, asam, pahit, asin dan tawar. Tetapi orang-orang Jepang percaya bahwa ada rasa berikutnya yang tidak bisa dijelaskan, yaitu gabungan dari serba sedikit semua rasa tadi. Mereka menyebutnya rasa umami.”

Minggu lalu ia menjejakkan kaki kembali di Jakarta dan sudah menyantap ikan roa yang umami. Misi utamanya di Eropa adalah mencapai Les Docks, kota mode dan desain di Paris, tempat ia menghadiri  pembukaan pameran poster bertajuk  La Fête du Graphisme.  Pameran ini berlangsung dari 30 Januari hingga 2 Februari 2014 dan mengetengahkan 300 poster karya 100 seniman grafis terbaik dunia, termasuk karya-karyanya.  Di ajang yang baru pertama kali diadakan ini, Sandy menjadi satu-satunya orang Indonesia dan Asia Tenggara  yang berada di jajaran para maestro  itu. Seperti para maestro lain, ia juga konsisten memamerkan karya-karyanya di berbagai festival  poster dunia. 

Di Paris, ia bertemu Tuhan. Itu julukan untuk seniman grafis Ralph Schraivogel, “Di kalangan desainer dunia, dia dipanggil Tuhan.”  Mereka makan malam bersama.  Ia terkesan, “Ralph sangat rendah hati.” Setelah itu Schraivogel kembali ke Zurich, sedangkan Sandy masih menambah jumlah harinya di Paris, “Sekalian berlibur.”  Suatu malam ia menerima surat elektronik dari Tuhan,  “Dia meminta saya menemui  presiden Alliance Graphique Internationale atau AGI di Amsterdam. AGI ini klab para desainer dan seniman grafis dunia.  Dia ingin saya menjadi anggota AGI.”  Namun, syarat menjadi anggota tak mudah.  Ada ujian. Paling sedikit, setelah empat tahun baru ada keputusan sang calon  diterima atau tidak menjadi anggota. Syarat-syarat lain tak kalah berat. Ia harus mengajar dan membagi ilmunya untuk masyarakat, menulis buku, berpameran rutin dan berkomitmen menjadi desainer grafis seumur hidup. “Saya harus menyiapkan diri saya dulu,” kata Sandy.  Ia mengenakan setelan  celana jins dan baju lengan panjang warna kuning dari bahan kaus, bermotif garis hitam horisontal. Kami bercakap-cakap di ruang tamu rumahnya.  Ia baru saja mandi dan tampak segar siang itu.

Dulu ia pernah mengalami “masa kegelapan”.  Sejak pertama kali mengirim posternya ke festival pada tahun 2005, baru empat tahun kemudian karyanya lolos seleksi.  Di tahun-tahun yang tak menentu itu, ia bertarung dengan rasa kecewa,  “Saya membuat poster  bertema Kebaya Festival itu sebulan, menggunakan cat minyak, potongan kertas, dan menempelnya.  Itu tahun 2008. Poster itu saya kirim ke festival Warsawa, Prancis dan Moskow. Tidak diterima semua.”  Namun,  seekor ikan tak dapat berenang mundur.  Sandy  tetap  bergerak maju.  Ia kemudian melakukan otokritik, dengan  mempelajari kembali karya-karyanya sendiri, “Ada poster yang memang kurang bagus. Tapi ada yang bagus dan membuat saya heran mengapa tidak diterima. Jadi ada keyakinan dan ada keraguan sekaligus.”  Di tahun yang sama  Sandy membuat poster lain, Sight and Sound Festival.  Festival itu diselenggarakan di Scarborough, Kanada. “Meliputi performing art, pameran lukisan dan pembacaan puisi. Saya hanya menjadikannya tema poster saya. Jadi sebelum membuat poster, saya melakukan riset dulu,” tuturnya.

Bahan baku poster tersebut adalah potongan-potongan kertas yang disusun membentuk huruf “S”.  Garis-garis horisontal dari potongan kertas lantas memberi efek optik tertentu dan sekaligus menyerupai dawai. Ia menginterpretasi  makna sight and sound.  Lagi-lagi, poster ini  ditolak oleh semua festival poster bergengsi.  Orangtuanya turut cemas. “Mereka bilang untuk apa membuang-buang waktu dan uang.” Rasa kecewanya bertambah dengan beban batin dan deraan lembur akibat pekerjaan di kantor. Biro iklan tempatnya bekerja kurang memberi ruang pada sisi kreatifnya. “Lebih mengutamakan keinginan klien atau pasar.”  Terbersit keinginan untuk hengkang dari pekerjaan.  Semula ia ragu. Tetapi suatu hari ia mendengar suara bisikan di benaknya, “Keluar sekarang, keluar, keluar.” Ia menyebut suara itu sebagai suara Tuhan. Menjadi  freelancer adalah solusinya. 

Di Shanghai, Tiongkok, tahun 2009, Sandy mengunjungi seorang teman lama yang membuka restoran.  Ia tengah duduk santai di satu kedai kopi saat telepon selulernya berbunyi. Ibunya menelepon dari Jakarta, mengabarkan tentang sepucuk surat dari Museum of Modern Art Toyama di Tokyo untuknya.  Ibunya membuka surat itu. “Kamu pameran di sana, kamu terpilih, kata Mama. Wah, senang banget,” kenang Sandy.  Rasa percaya dirinya pulih. Dua bulan kemudian, ia juga menerima pemberitahuan dari Moskow bahwa karyanya terpilih untuk dipamerkan. Tetapi pemberitahuan tersebut terlambat setahun.   

Berdasarkan pengalamannya tadi, ia membuat postulat, “Seorang seniman dapat berkarya paling bagus ketika dia percaya diri dan bahagia. Tapi masterpiece-nya lahir ketika ia dalam keadaan terpuruk.” 

Dalam keluarganya tidak ada yang menggeluti seni seperti dirinya. Ayahnya bekerja di bidang logistik dan ekspor impor.  Kakak laki-lakinya, psikolog. Ibunya aktif mengurus keuangan gereja. 

Tiba-tiba ia teringat kakeknya dari sebelah ayah. Ia bercerita, “Kakek saya  suka mendengar musik klasik dan juga menonton pertunjukan Judy Garland, Broadway, Shirley Temple. Waktu remaja, saya ‘kan suka menonton MTV.  Kakek berkata seperti ini,  ‘You have to be all round.’  Artinya, kamu boleh mendengar lagu Madonna, tapi kamu juga harus mendengar  gubahan  Bach atau Johan Strauss. Setelah saya ada di dunia seni, baru saya memahaminya, Saya akhirnya dapat mencipta sesuatu yang klasik, tapi juga bisa membuat sesuatu yang ultramodern.”

Menggambar adalah hobinya sejak kecil, sehingga ia tak merasa masuk ke sebuah labirin ketika  kuliah di jurusan desain grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Berbeda dengan seni murni, seperti seni lukis,  desain grafis adalah seni terapan. “Sifatnya, untuk massal,” katanya. Keyakinan untuk menggeluti desain grafis serta memilih poster sebagai media berekpresi makin kuat setelah ia menyimak sebuah buku berjudul  All Men are Brothers.  Buku ini memuat poster 108 seniman grafis kontemporer  terkemuka.  Ia menunjukkan buku tersebut kepada saya.

Salah satu halaman menampilkan sosok perempuan dalam balutan burka yang wajahnya memancarkan keterasingan, kesedihan, dan perjuangan hidup, karya Reza Abedini dari Iran.  Ia berkomentar, “Sederhana, kaligafi putih, sablonnya kasar, tetapi semua begitu serasi dan punya pesan mendalam.”

Karya desainer yang dikaguminya, Stefan Sagmeister, juga tertera di buku ini.  Organ tubuh, seperti lidah dan otak menjadi objek poster Sagmeister. Bagi Sandy, Sagmeister telah memberi arti baru bagi frasa ‘desain grafis’, “Ia bahkan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium. Huruf-huruf ditulis dengan darah yang keluar akibat kulitnya yang dilukai dengan jarum.”  Cyan dari Berlin dianggapnya  sebagai desainer paling memukau saat ini, dengan menerapkan teknik fotografi dan grafik. Ibarat film seni, karya Cyan tak mudah ditebak.

Karya-karyanya sendiri tidak provokatif, tidak seperti karya-karya Sagmeister.  “Barangkali ini efek budaya Timur. Poster-poster Jepang itu misalnya, tidak pernah menampilkan ketelanjangan atau hal yang ‘berteriak’.” Ia juga menyukai sifat ‘tak lekang oleh waktu’ dalam sebuah karya.

Kadang-kadang  ia keluar dari dunia grafisnya, bepergian, sendirian, menjelajah kota-kota besar dunia yang sibuk . Tetapi kota-kota kesayangannya ada di benua Asia. Mengapa?  Ia tidak suka kelihatan berbeda dari yang lain. “Saya suka tempat orang-orang berambut hitam,” tutur Sandy.  Tokyo, kota favoritnya. “Saya pernah berjalan di taman yang sepi. Waktu saya melangkah tiba-tiba terdengar musik dan  cahaya lampu warna-warni. Di tengah taman, ada bonsai dengan lampu yang mengeluarkan asap.” Ia takjub.  Di Shinjuku, salah satu distrik Tokyo, ia melihat naga dan makhluk-makhluk aneh dari kertas yang menggapai-gapai dari jendela sebuah toko.  Dalam suasana kota semacam ini, ia tidak merasa sendiri. Namun, ia tetap merindukan ikan roa.
April 2014

*) Linda Cristanty adalah sastrawan, kini salah satu anggota Dewan Kesenian Jakarta, Komite Sastra

*Sumber Majalah Dewi edisi Mei 2014 dan diposting di laman facebook Linda Cristanty

Loading...