Sudah Sewajarnya Pemkot Bandarlampung Kembangkan Wisata Kuliner di Telukbetung

  Walikota Bandarlampung Herman HN dan Wakil Walikota Yusuf Kohar meninjau kawasan Telukbetung, tepatnya di Jl, Ikan Kakap yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata kuliner malam hari di Bandarlampung  Se
Walikota Bandarlampung Herman HN meresmikan Pusat Kuliner Malam di Jl Ikan Tongkol, Telukbetung, Bandarlampung, Sabtu malam (27/2/2016). Foto: Herman Hasan Nusi/Siddik Ayogo 
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM — Kawasan Telukbetung, Bandarlampung, sejatinya memiiliki jejak yang panjang di bidang kuliner. Sebelum wilayah Tanjungkarang betebaran mal dan ruko dan penuh dengan kuliner di malam hari, kawasan Telukbetung sebenarnya lebih dulu dikenal sebagai pusat kuliner. Sebutlahlah, misalnya Pasar Mambo.

Menyadari besarnya potensi pengembangan bisnis kuliner di kawasan Telukbetung, Walikota Bandarlampung Herman HN pun kini melirik kawasan Telukbetung untuk dibenahi sebagai kawasan wisata kuliner. Langkah awak ke arah itu setidaknya sudah dimulai Herman HN dan Wakil Walikota Yusuf Kohar dengan berkunjung ke Telukbetung, tepatnya di sekitar Jalan Ikan Kakap, Senin (22/2/2016).

Di kawasan Telukbetung sendiri sebenarnya kehidupan kuliner malam hari tidak hanya di Jl. Kakap, tetapi juga di  sepanjang  Jl. Malahayati. Jl Ikan Layur, Jl Ikan Bawal, dan lainnya. Sebabnya sangat jelas: kawasan itu sangat dekat dengan pusat pelelangan ikan, sehingga memungkinkn jika dikembangkan menjadi pusat kuliner ikan laut seperti halnya di Muara Angke, Jakarta.

Agar kehidupan kuliner ikan bergairah, tentu  diperlukan adalah tata aturan yang jelas, jaminan keamanan yang baik, dan kemudahan perizinan. Intinya, tidak membuat sentra kuliner menjadi elitis dan hanya mereka yang bermodal besar saja yang boleh berkembang.

Ada baiknya juga Pemkot Bandarlampung belajar dari kesalahat Pemkot di era Walikota Eddy Sutrisno. Pada era Eddy Sutrisno, dibangun pusat kuliner di Jalan Brigjen Katamso. Meskipun para pedagang hanya menggelar tenda, tetapi kawasan wisata kuliner di Jl. Katamso ketika itu tetaplah elitis. Jika harga aneka menu yang disajikan lebih mahal dibanding di tempat lain — sementara kualitas kelezatannya tidak lebih baik– maka tempat wisata kuliner elitis itu akan ditinggalkan pelanggan. Sekali mencoba langsung kapok.

 Mas Alina Arifin