Beranda Views Jejak Suku Pasma di Bengkulu Selatan

Suku Pasma di Bengkulu Selatan

1354
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com 

Salah satu sudut Desa Palak Siring (Teraslampung/Isbedy)

BENGKULU–Desa Palak Siring, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan berpenduduk suku pasma asal Pagar Alam, Sumatera Selatan. Perpindahan penduduk suku Semendo, Pagar Alam, Sumsel ini, terjadi sebelum Indonesia merdeka.

Menurut Kepala Desa Palak Siring, Ilaman Hardi, nenek moyang penduduk Palak Siring berasal dari Pagar Alam. Kadurang, katanya lagi, merupakan nama marga penduduk di sini, yang kemudian menjadi nama kecamatan.

“Seperti suku-suku lain di Indonesia, nenekmoyang kami juga membawa ‘kampung halaman’ tatkalah terjadi perpindahan penduduk ke sini,” kata Ilaman Hadi, Sabtu (2/8).

Penduduk Pasma di Palak Siring kebetulan Marga Kadurang. “Nama itu kemudian diabadikan di sini, dan jadi nama kecamatan,” ujarnya.

Ilaman mengatakan, suku pasma di sini telah terjadi asimilasi dan transformasi dengan kultur di tempat baru, sehingga terjadi perubahan kultur dan tradisi. “Karena itu, bahasa pun orang Palak Siring berbeda dengan orang Semendo; meski secara akar budaya, kami Semendo,” kata Ilaman Hardi.

Menurut Ilaman, muasal Palak Siring karena desa ini sebagai pusatnya air atau penghidupan. Palak, katanya, berasal dari kata kepala. Namun, orang Semendo menyebut palak. “Sedangkan siring, berarti kali atau aliran air,” kata Ilaman lagi.

Sapi bebas berkeliaran di Desa Palak Siring

Untuk menuju Desa Palak Siring, butuh waktu sedikitnya 12 jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor dari Bandarlampung melalui Jalan Lintas Barat. Sedangkan dari Pagar Alam atau Kota Bengkulu kira-kira butuh waktu 3 jam perjalanan.

Penduduk Pasma di sini bermata pencarian sebagai petani: padi, kopi, durian, dan lain-lain. “Namun, kami disini tak bisa menjadi petani sayur,” katanya.

Alasan tak bisa menjadi petani sayur, karena kebiasaan (tradisi) Marga Kadurang tidak mengandangkan ternak sapi yang dimilikinya. Ternak-ternak sapi milik penduduk bebas di halaman depan rumah atau belakang. Bahkan, tidak sedikit sapi berkeliaran di jalan pada malam hari.

“Jadi bagaimana kami bisa bertani sayur, di pagar tinggi pun akan dijangkau sapi,” ujar Subar, warga Palak Siring selepas subuh, Sabtu (2/8).

Subar mengaku, hasil sayur-mayur seharsnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sini. “Sayangnya, sampai kini harapan itu belum bisa terwujud,” ujarnya.
Menurut Subar, sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah setempat yang intinya mewajibkan pemilik sapi membuat kandang. Tapi, peraturan itu sulit diterapkan di Desa Palak Siring.

“Mungkin watak keras penduduk Pasma di sini, membuat sulit ‘tunduk’ pada peraturan,” katanya lagi.

Kebiasaan memelihara sapi tanpa kandang barangkali sama dengan kebiasaan mayoritas penduduk yang memelihara anjing. Hampir tiap warga Desa Palak Sering memelihara anjing.

“Tiap penduduk miminal memelihara minimal dua ekor anjing. Bisa dibayangkan berapa ratus ekor anjing hidup dan berkeliaran besas di Kecamatan Kadurang ini. Padahal, sebagian warga lain mengkhawatirkan najis dari anjing peliharaan penduduk. Kami harus awas setiap hendak ke masjid, khawatir terkena najis tahi atau jilatan anjing,” ujar Subar.

Loading...